Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

3 Fakta Psikologi di Balik Kebiasaan Meremehkan Orang Lain

Hakam Alghivari • Kamis, 19 Juni 2025 | 21:00 WIB
Ilustrasi perempuan.
Ilustrasi perempuan.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Dalam kehidupan sosial, sering kali kita menjumpai orang yang senang meremehkan pencapaian, pendapat, atau usaha orang lain.

Komentar seperti “Segitu aja?” atau “Ah, dia cuma beruntung” mungkin terdengar sepele, namun bisa meninggalkan luka emosional yang dalam.

Menariknya, perilaku seperti ini bukan muncul dari rasa percaya diri yang tinggi—melainkan justru sering menjadi tanda bahwa seseorang sedang berjuang dengan masalah dalam dirinya sendiri.

Dari sudut pandang psikologi, berikut adalah tiga fakta penting tentang kebiasaan suka meremehkan orang lain:

1. Sering Kali Muncul dari Harga Diri yang Rapuh

Salah satu penyebab utama seseorang gemar meremehkan adalah rendahnya harga diri (low self-esteem). Orang yang merasa tidak cukup baik, tidak puas dengan diri sendiri, atau takut tersaingi, sering kali akan mencari cara untuk “merasa lebih unggul.” Salah satu caranya adalah dengan menjatuhkan orang lain secara verbal maupun sikap.

Perilaku ini menjadi semacam kompensasi atas rasa tidak aman yang tak terungkap. Dalam psikologi, ini dikenal sebagai defensive projection, yakni kecenderungan untuk memproyeksikan perasaan negatif terhadap diri sendiri ke orang lain.

2. Meremehkan Bisa Menjadi Mekanisme Bertahan Diri yang Tidak Sehat

Dalam beberapa kasus, meremehkan menjadi bentuk pelampiasan atas stres atau kekecewaan pribadi. Seseorang yang tidak bisa mengelola emosinya, atau merasa gagal dalam aspek hidup tertentu, dapat secara tidak sadar merendahkan orang lain sebagai pelarian.

Mekanisme ini bisa membuat pelakunya merasa superior sesaat, tetapi dalam jangka panjang justru merusak hubungan sosial dan memperdalam rasa kesepian atau frustasi.

Perempuan yang mengalami tekanan dalam relasi, pekerjaan, atau ekspektasi sosial tertentu juga rentan mengembangkan pola ini bila tidak disadari sejak awal.

3. Ada Rasa Iri dan Takut Tertinggal yang Tidak Diakui

Faktor lain yang sering tersembunyi di balik sikap meremehkan adalah rasa iri atau ketakutan akan tertinggal. Ketika melihat orang lain berkembang atau berhasil dalam bidang tertentu, seseorang yang belum berdamai dengan dirinya bisa merasa terancam.

Daripada mengakui perasaan itu, mereka memilih merendahkan keberhasilan orang lain agar terlihat “setara” atau bahkan “lebih baik”.

Sayangnya, sikap seperti ini justru menjauhkan diri dari pertumbuhan. Mengakui bahwa orang lain lebih baik dalam hal tertentu bukanlah kelemahan, justru bisa menjadi langkah awal untuk berkembang.

Belajar Mengelola Rasa Tidak Nyaman Tanpa Menjatuhkan

Kebiasaan meremehkan orang lain bukan hanya merugikan orang di sekitarnya, tapi juga diri sendiri. Jika tidak diatasi, perilaku ini dapat menghambat hubungan yang sehat dan pertumbuhan pribadi.

Salah satu langkah awal yang penting adalah mengenali perasaan iri, takut gagal, atau rendah diri, lalu mengelolanya dengan cara yang lebih sehat—seperti refleksi diri, journaling, atau berbicara dengan orang yang dipercaya.

Dalam hubungan sosial yang saling menguatkan, menghargai pencapaian orang lain adalah cerminan kedewasaan emosional. Tidak ada yang hilang dengan memuji atau mengakui kehebatan orang lain—justru dari situlah proses belajar bisa dimulai. (kam) 

Editor : Hakam Alghivari
#Perempuan #Meremehkan orang lain #Fakta Psikologi