RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Di tengah gempuran tren self-improvement dan budaya hustle yang kian mendominasi, banyak anak muda merasa terdorong untuk terus aktif dan produktif.
Sayangnya, dorongan ini tak selalu berdampak positif. Di balik prestasi dan rutinitas yang terlihat impresif, tidak sedikit yang mengalami kelelahan mental dan emosional akibat tekanan untuk terus melakukan sesuatu. Fenomena ini dikenal sebagai toxic productivity.
Apa Itu Toxic Productivity?
Toxic productivity adalah kondisi di mana seseorang merasa harus selalu produktif, bahkan di luar batas kemampuannya.
Alih-alih merasa puas setelah menyelesaikan tugas, individu justru merasa bersalah saat beristirahat atau tidak melakukan sesuatu yang dianggap "bermanfaat".
Menurut psikolog klinis Jaime Zuckerman, toxic productivity adalah bentuk disfungsi dari keinginan untuk menjadi produktif, yang sering kali dilandasi oleh rasa tidak cukup baik atau kecemasan sosial.
Ini berbeda dari produktivitas sehat, yang menyeimbangkan antara pekerjaan, istirahat, dan kehidupan pribadi.
Mengapa Usia 20-an Rentan Mengalaminya?
Individu usia 20-an berada pada fase transisi penting dalam hidup—baru menyelesaikan pendidikan, memasuki dunia kerja, dan berusaha membangun identitas dewasa.
Tekanan eksternal dari media sosial dan lingkungan sering memperkuat persepsi bahwa kesuksesan harus datang cepat.
Platform seperti LinkedIn atau Instagram, misalnya, kerap menjadi ajang unjuk pencapaian. Melihat orang seusia sudah bekerja di perusahaan besar, merintis bisnis, atau kuliah ke luar negeri, dapat memicu perasaan tertinggal.
Akibatnya, banyak yang terdorong untuk terus bekerja tanpa henti demi “mengejar ketinggalan”, meskipun tubuh dan pikiran mulai lelah.
Gejala yang Sering Tak Disadari
- Toxic productivity bisa menyerang secara halus. Beberapa gejala umum meliputi:
- Merasa bersalah saat tidak bekerja atau “bermalas-malasan”
- Mengisi setiap waktu luang dengan to-do list
- Sulit menikmati liburan atau waktu istirahat tanpa memikirkan pekerjaan
- Merasa tidak pernah cukup meskipun sudah menyelesaikan banyak hal
- Cemas jika tidak segera membalas email, pesan kerja, atau notifikasi
Jika tidak ditangani, toxic productivity bisa berujung pada burnout, gangguan kecemasan, bahkan depresi ringan hingga berat.
Peran Budaya Hustle dan Fear of Missing Out (FOMO)
Budaya hustle merayakan semangat kerja keras tanpa henti, sering kali tanpa mempertimbangkan kapasitas manusiawi seseorang.
Kalimat seperti “tidur untuk yang lemah” atau “kalau santai, nanti disalip” menjadi semacam moto tak tertulis dalam lingkungan kerja maupun komunitas produktivitas digital.
Di sisi lain, FOMO (Fear of Missing Out) juga memperparah kondisi ini. Ketika orang lain terlihat selalu aktif, mengikuti banyak kegiatan, atau produktif secara sosial dan profesional, muncul dorongan untuk tidak mau ketinggalan. Padahal, setiap orang memiliki konteks dan ritme hidup yang berbeda.
Bagaimana Mengatasi Toxic Productivity?
Mengatasi toxic productivity bukan berarti menjadi pasif. Ini tentang membangun produktivitas yang lebih sehat dan seimbang. Beberapa langkah yang bisa dilakukan:
1. Redefinisi arti sukses dan produktivitas
Sukses tidak selalu berarti bekerja tanpa henti. Meluangkan waktu untuk diri sendiri, membangun relasi, atau merawat kesehatan mental juga merupakan bentuk produktivitas.
2. Jadwalkan waktu istirahat dengan sadar
Menyediakan waktu tanpa agenda kerja bukan bentuk kemalasan, tetapi bagian penting dari proses pemulihan energi.
3. Batasi paparan media sosial yang memicu perbandingan
Kurangi waktu melihat highlight kehidupan orang lain yang bisa memicu rasa tidak cukup atau tertinggal.
4. Kenali batas kemampuan dan dengarkan sinyal tubuh
Lelah bukan musuh, melainkan sinyal untuk berhenti sejenak.
5. Berani bilang ‘tidak’ tanpa merasa bersalah
Menolak tambahan beban kerja atau proyek bukan tanda kelemahan, tetapi bentuk perlindungan diri.
Wajar Merasa Lelah, Tak Perlu Selalu Produktif
Toxic productivity adalah bentuk tekanan yang sering tak disadari, tapi bisa berdampak besar pada kesehatan mental. Terutama bagi generasi muda yang sedang membangun arah hidupnya, penting untuk memahami bahwa istirahat bukan kemunduran.
Justru, kemampuan untuk menyeimbangkan kerja dan jeda adalah bentuk kematangan emosional yang dibutuhkan dalam jangka panjang.
Produktif bukan berarti harus terus bergerak. Kadang, diam dan tenang justru menjadi ruang terbaik untuk kembali menyusun langkah. (kam)
Editor : Hakam Alghivari