Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Menurut Studi, Kebiasaan Membaca Buku Fiksi Bisa Bikin Kamu Lebih Empatik

Hakam Alghivari • Sabtu, 7 Juni 2025 | 01:30 WIB
Ilustrasi perempuan baca buku di taman.
Ilustrasi perempuan baca buku di taman.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Hiruk-pikuk dunia digital yang serba cepat, kebiasaan membaca buku fiksi mungkin terdengar kuno bagi sebagian orang. Namun, siapa sangka, kegiatan sederhana seperti menyelami cerita dalam novel justru membawa dampak psikologis yang luar biasa—khususnya dalam meningkatkan empati.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa membaca buku fiksi secara rutin bisa membuat seseorang lebih peka terhadap emosi orang lain dan mampu memahami perspektif yang berbeda dengan lebih baik.

Empati adalah kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain, dan ini bukan sekadar soal bersikap baik. Empati erat kaitannya dengan kualitas hubungan sosial, kesejahteraan emosional, bahkan kesehatan mental secara keseluruhan.

Dalam dunia yang semakin individualistik, empati menjadi keterampilan penting yang semakin langka. Menariknya, salah satu cara paling efektif untuk menumbuhkan empati adalah dengan melatih imajinasi emosional, dan buku fiksi punya peran penting di sini.

Menurut sejumlah studi psikologi, ketika seseorang tenggelam dalam cerita fiksi, otaknya bekerja seolah-olah ia benar-benar mengalami kehidupan tokoh dalam cerita. Pembaca tidak hanya mengikuti alur, tetapi juga merasakan ketakutan, harapan, dan konflik yang dialami karakter. Proses inilah yang secara tidak langsung memperkuat kemampuan otak untuk memahami emosi orang lain di dunia nyata.

Studi: Buku Fiksi Meningkatkan Teori Pikiran dan Empati

Sebuah studi yang dimuat dalam jurnal Science (2013) menemukan bahwa membaca fiksi sastra dapat meningkatkan theory of mind—kemampuan memahami keadaan mental orang lain, seperti niat, keyakinan, dan emosi. Dalam penelitian tersebut, partisipan yang membaca fiksi memiliki skor empati yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang membaca nonfiksi atau tidak membaca sama sekali.

Peneliti percaya bahwa jenis bacaan memengaruhi cara kerja otak. Fiksi mendorong pembaca untuk mengisi celah emosional dan memahami makna yang tersembunyi di balik dialog atau tindakan karakter. Ini berbeda dari teks nonfiksi yang lebih eksplisit dan tidak banyak menuntut pembaca untuk menafsirkan emosi secara mendalam.

Fiksi Membentuk Koneksi Emosional yang Tidak Disadari

Ketika seseorang membaca novel, apalagi yang bergenre drama atau psikologis, mereka cenderung mengembangkan hubungan emosional dengan tokoh-tokoh di dalam cerita. Misalnya, seseorang bisa merasa kehilangan saat karakter favoritnya meninggal, atau merasa bangga saat karakter berhasil mengatasi rintangan.

Proses ini mengaktifkan bagian otak yang sama saat kita bersosialisasi di dunia nyata, yaitu medial prefrontal cortex, bagian otak yang terlibat dalam empati dan pemrosesan sosial.

Semakin sering seseorang berlatih merasakan emosi tokoh fiksi, semakin tajam kemampuan mereka untuk merespons emosi orang lain secara nyata. Tak heran jika banyak terapis yang menyarankan biblioterapi—atau terapi dengan bacaan—sebagai metode untuk meningkatkan kecerdasan emosional.

Jadi, Membaca Fiksi Bukan Sekadar Hiburan

Membaca buku fiksi bukan hanya kegiatan menyenangkan untuk mengisi waktu luang. Lebih dari itu, ini adalah latihan mental yang membantu membentuk kepribadian yang lebih empatik, pengertian, dan penuh rasa iba terhadap sesama. Apalagi di era digital saat interaksi manusia seringkali terjadi lewat layar, fiksi mengajak kita untuk kembali memahami makna kemanusiaan.

Jika kamu ingin menjadi pribadi yang lebih peduli, punya empati yang tinggi, dan bisa memahami perasaan orang lain dengan lebih baik, mungkin sudah saatnya mulai rutin membaca buku fiksi lagi—entah itu novel klasik, roman kontemporer, atau cerita pendek yang menyentuh hati. (kam) 

Editor : Hakam Alghivari
#science #studi #empati #kepribadian #kecerdasan emosional #membaca buku fiksi