Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

7 Kebiasaan yang Diam-Diam Menghambat Perempuan Meraih Kesuksesannya, Menurut Psikologi

Hakam Alghivari • Senin, 26 Mei 2025 | 22:57 WIB
Ilustrasi perempuan yang sering menunda pekerjaannya, dan menjadi salah satu faktor penghambat dirinya untuk berkembang penuh
Ilustrasi perempuan yang sering menunda pekerjaannya, dan menjadi salah satu faktor penghambat dirinya untuk berkembang penuh

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Perempuan modern hidup di zaman yang membuka banyak kesempatan, dari pendidikan tinggi, karier cemerlang, sampai kepemimpinan di berbagai bidang. Namun, di balik semua peluang itu, banyak perempuan masih merasa langkah mereka tertahan oleh sesuatu yang tak selalu terlihat — tekanan internal yang muncul dari pikiran dan kebiasaan mereka sendiri. Rasa kurang cukup, takut salah, atau menunda karena takut gagal menjadi fenomena umum yang dialami diam-diam.

Psikologi telah lama meneliti bahwa hambatan terbesar kesuksesan bukan hanya berasal dari lingkungan luar, tapi juga dari pola pikir dan kebiasaan internal yang tidak sehat. Ini bukan hanya soal kurangnya kemampuan atau kesempatan, tetapi lebih kepada cara perempuan memandang diri sendiri, memperlakukan diri, dan menghadapi tantangan yang muncul di hadapan mereka.

Dikutip dari Psychology Today, terdapat beberapa pola umum yang sering menghambat perempuan berkembang penuh, mulai dari dorongan untuk selalu sempurna, kebiasaan menunda tugas, menghindari konflik yang justru penting, lalai merawat diri, takut gagal berlebihan, sering membandingkan diri dengan orang lain, hingga kurang percaya diri. Kita akan membahas bagaimana pola-pola ini memengaruhi kehidupan perempuan, apa dampaknya, serta saran psikologis praktis yang bisa diterapkan untuk keluar dari jebakan-jebakan ini.

1. Terjebak dalam Obsesi Kesempurnaan

Perfeksionisme sering disalahartikan sebagai tanda ambisi, padahal menurut Verywell Mind, ini lebih banyak merusak daripada membantu. Perempuan perfeksionis cenderung mematok standar yang tak realistis, lalu merasa kecewa meski hasil mereka sebenarnya sudah baik. Mereka takut gagal, takut dinilai, hingga akhirnya enggan mengambil risiko.

Dampaknya bukan hanya pada karier, tapi juga kesehatan mental. Studi psikologi menunjukkan bahwa mengejar kesempurnaan terus-menerus dapat meningkatkan kecemasan, stres, bahkan depresi. Lebih sehat jika seseorang fokus pada kemajuan, bukan kesempurnaan.

2. Suka Menunda dan Mengulur Waktu

Menurut Forbes Women, procrastination sering muncul saat kita merasa kewalahan atau tidak percaya diri. Alih-alih menghadapi tugas yang sulit, kita memilih mengalihkan perhatian ke hal lain yang lebih nyaman. Namun, kebiasaan ini menumpuk stres karena pekerjaan tetap harus diselesaikan pada akhirnya.

Cara mengatasinya adalah dengan mengenali pemicu penundaan: apakah karena takut gagal, atau karena merasa tidak cukup mampu? Dengan memecah tugas besar menjadi langkah kecil, kita bisa membangun rasa percaya diri dan perlahan mematahkan siklus penundaan.

3. Menghindari Konfrontasi yang Sehat

Banyak perempuan diajarkan sejak kecil untuk menghindari konflik demi menjaga keharmonisan. Namun, konflik yang sehat justru penting untuk menegaskan batas, menyuarakan kebutuhan, dan menjaga hubungan yang jujur.

Menghindari konfrontasi bisa membuat perempuan menekan perasaan mereka sendiri, yang lama-kelamaan memicu frustrasi. Belajar bicara asertif — tegas tanpa agresif — adalah keterampilan penting yang membantu mereka tampil lebih percaya diri dan dihargai.

4. Mengabaikan Perawatan Diri

Dalam Verywell Mind, disebutkan bahwa perempuan sering merasa bersalah saat mengambil waktu untuk diri sendiri, apalagi jika mereka punya banyak peran (pekerja, ibu, istri). Padahal, perawatan diri adalah fondasi produktivitas.

Tanpa cukup istirahat, olahraga, atau aktivitas relaksasi, tubuh dan pikiran kita cepat kehabisan energi. Self-care bukan egoisme, melainkan investasi agar kita bisa hadir secara penuh, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

5. Takut Gagal Berlebihan

Kegagalan sering dianggap sebagai bencana, padahal itu adalah bagian dari proses menuju keberhasilan. Ketakutan ini membuat perempuan enggan mencoba hal baru, menghindari tantangan, bahkan mundur sebelum memulai.

Psikologi positif menekankan pentingnya membingkai ulang kegagalan dengan cara melihatnya sebagai pelajaran, bukan penghinaan. Orang sukses biasanya adalah mereka yang paling sering gagal, karena mereka juga paling sering mencoba.

6. Terlalu Sering Membandingkan Diri

Di era media sosial, membandingkan diri dengan orang lain jadi semakin mudah. Perbandingan ini jarang adil karena kita hanya melihat highlight orang lain, bukan seluruh cerita hidup mereka.

Perempuan yang terus-menerus membandingkan diri cenderung merasa tidak cukup baik, meski mereka sebenarnya sudah sangat berkembang. Fokuslah pada perjalanan pribadi: catat pencapaian sendiri, rayakan kemajuan sekecil apa pun, dan ingat bahwa standar sukses tiap orang berbeda.

7. Kurangnya Keyakinan Diri

Kurang percaya diri bisa memengaruhi semua aspek hidup, dari mengambil peluang kerja, menyuarakan pendapat, hingga mengejar impian. Perempuan sering meremehkan kemampuan mereka sendiri, meski faktanya mereka sama kompetennya dengan laki-laki.

Untuk membangun keyakinan diri, kita perlu latihan mental, ubah dialog internal negatif, fokus pada kekuatan, dan kelilingi diri dengan dukungan positif. Ingat, percaya diri bukan bawaan lahir, tetapi keterampilan yang bisa dipelajari. (nnd/mgg)

Editor : Hakam Alghivari
#pendidikan tinggi #Perempuan #psikologi #Karier #berkembang #kesuksesan #Menghambat