Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Tantangan dan Pentingnya Komunikasi yang Efektif Bagi Orang Tua Saat Anak Beranjak Remaja

Hakam Alghivari • Selasa, 6 Mei 2025 | 13:40 WIB
ilustrasi orang tu yang membangun komukasi positif dengan anaknya
ilustrasi orang tu yang membangun komukasi positif dengan anaknya

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Masa remaja adalah fase transisi penting dalam kehidupan anak. Pada masa ini, mereka tidak lagi anak-anak, namun juga belum sepenuhnya dewasa. Perubahan fisik, emosi, hingga cara berpikir remaja membuat hubungan antara orang tua dan anak menjadi lebih kompleks. Tidak jarang muncul konflik yang disebabkan oleh perbedaan cara pandang, harapan, dan komunikasi yang tidak efektif. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memahami cara membangun hubungan yang sehat dan positif dengan anak remajanya.

 

Mengutip dari kanal YouTube Mommies Daily, dalam sebuah podcast bersama Irma Gustiana A., M. Psi, seorang psikolog anak dan keluarga dari @ruangtumbuh.id, dijelaskan bahwa hubungan orang tua dan anak remaja umumnya berada dalam fase long and high relationship. Artinya, hubungan ini bisa panjang dan erat, tetapi juga berpotensi menimbulkan banyak gesekan. Hal ini terjadi karena orang tua sering kali masih memperlakukan anaknya seperti anak kecil, padahal remaja sudah memiliki keinginan untuk didengar dan dihargai sebagai individu yang mulai mandiri.

Salah satu penyebab konflik antara orang tua dan anak remaja adalah ekspektasi yang tinggi di bidang akademik. Banyak orang tua yang menuntut anak untuk bisa dalam semua pelajaran tanpa menyadari bahwa setiap anak memiliki kemampuan dan minat yang berbeda-beda. Tidak jarang pula bakat dan minat anak di bidang non-akademis seperti seni, olahraga, atau teknologi justru tidak mendapat dukungan yang semestinya. Padahal, menghargai minat anak merupakan bentuk pengakuan terhadap identitas dan potensi mereka.

 

Selain itu, saat remaja mulai mengenal cinta dan lawan jenis, respons orang tua sering kali cenderung negatif. Banyak orang tua yang langsung menilai buruk pasangan anak tanpa mengenalnya lebih dalam. Sikap menghakimi seperti ini justru bisa membuat anak merasa tidak dipercaya dan menjauh dari orang tua. Menurut Irma, seharusnya orang tua bersikap terbuka dan hadir sebagai pendengar yang bijak agar anak merasa nyaman untuk bercerita.

 

Remaja juga mulai memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, termasuk soal seksualitas. Sayangnya, masih banyak orang tua yang merasa tabu untuk membahas hal ini. Ketika anak bertanya soal seks, tidak sedikit orang tua yang memilih diam atau malah marah. Padahal, edukasi seks yang sehat dan terbuka dari orang tua sangat penting untuk mencegah anak mendapatkan informasi keliru dari luar.

Salah satu hal yang paling dibutuhkan remaja dari orang tua adalah apresiasi. Orang tua sering kali terlalu fokus pada kekurangan anak dan lupa memberikan penghargaan atas usaha dan pencapaian kecil mereka. Padahal, ucapan sederhana seperti “terima kasih” atau “aku bangga padamu” bisa memberikan dampak besar terhadap rasa percaya diri anak.

 

Ketika anak datang membawa masalah, mereka tidak selalu butuh solusi, melainkan ingin didengarkan. Orang tua sebaiknya menampung keluh kesah anak tanpa menghakimi. Hadir, mendengarkan, merangkul, lalu bersama-sama mencari jalan keluar adalah bentuk dukungan emosional yang sangat berarti.

 

Konflik yang kerap terjadi antara orang tua dan anak remaja sering kali dipicu oleh perbedaan generasi. Orang tua yang makin dewasa mungkin mengalami tekanan hidup yang berat, sementara remaja berada di fase pencarian jati diri dengan emosi yang labil. Oleh karena itu, memahami perbedaan ini dan membuka ruang komunikasi menjadi kunci keharmonisan keluarga.


Menjadi orang tua remaja memang penuh tantangan. Namun dengan komunikasi yang efektif, empati, dan kehadiran emosional yang penuh, hubungan antara orang tua dan anak bisa tumbuh menjadi lebih kuat dan sehat. Saat orang tua mampu mendampingi, bukan menghakimi, serta memahami bukan sekadar menasihati, maka kepercayaan dan kedekatan akan tercipta dengan sendirinya. Remaja tidak butuh orang tua yang sempurna, mereka hanya butuh orang tua yang hadir dengan hati. (oss/mgg)

 

Editor : Hakam Alghivari
#Tantangan parenting #konflik #remaja #komunikasi #solusi #parenting