Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Menengok Objek Wisata Tebing Gupit: Telaga yang Diapit Dua Bukit, Bisa Lihat Dua Kabupaten Sekaligus di Puncak

Yuan Edo Ramadhana • Minggu, 23 Maret 2025 | 21:53 WIB
POTENSI WISATA: Luas WTG sekitar 1,3 hektare, tanah kas desa yang dipolse menjadi objek wisata. (HAKAM ALHIFARI/RADAR BOJONEGORO)
POTENSI WISATA: Luas WTG sekitar 1,3 hektare, tanah kas desa yang dipolse menjadi objek wisata. (HAKAM ALHIFARI/RADAR BOJONEGORO)

 

RADARBOJOENGORO.JAWAPOS.COM - Potensi wisata di Bojonegoro terus bermunculan. Namun, yang eksis hingga menghasilkan cuan bisa dihitung jari. Butuh terobosan dan merawat semangat untuk konsisten hingga menyumbang pendapatan asli desa (PAD) dan menggerakkan ekonomi warga.

Salah satunya potensi wisata di perbatasan Bojonegoro, Tuban dan Lamongan ini, Objek Wisata Tebing Gupit (WTG) yang kini berdiri gagah di puncak perbukitan. Menyimpan sejarah panjang, dari telaga yang diapit dua bukit. Kini berubah menjadi destinasi wisata perbukitan yang memanjakan mata.

Kepala Desa Sumuragung, Kecamatan Baureno Matasim menceritakan, WTG memiliki riwayat. Bahwasannya, lokasi ini dulu merupakan sebuah telaga yang diapit dua pegunungan. Yakni, tepat di sebelah utara dan selatan. Sejarah tersebut melatarbelakangi penamaan WTG. Yakni, tebing gupit karena dulunya diapit oleh dua pegunungan kapur yang tinggi menjulang.

“Dulunya adalah tempat air berupa telaga. Jadi, agak lengkung. Karena diapit dua gunung, akhirnya dinamakan gupit,” jelasnya.

Seiring berjalannya waktu, pegunungan batu kapur di sisi utara dan selatan yang merupakan tanah negara bebas yang dikelola perusahaan tersebut terus digali. Pemanfaatan gunung kapur sebagai pertambangan membuatnya semakin tergerus hingga habis.

Sedangkan, lokasi WTG yang merupakan tanah kas desa tetap seperti itu. Tidak tersentuh oleh pertambangan. Hanya dimanfaatkan sebagai lahan pertanian, sebelum beralih fungsi menjadi destinasi wisata.

“Tanah kas desa, dulunya digunakan sebagai pertanian. Mulai 2019 kami desain untuk tempat wisata,” lanjutnya.

Matasim mengatakan, total luas lahan WTG adalah sekitar 1,3 hektare (ha). Peralihan lahan menjadi tempat wisata tersebut melalui banyak pertimbangan. Terlebih, melihat potensi alam luar biasa.

Selain bisa melihat Kabupaten Lamongan, Bojonegoro, dan segala aktivitas di daerah bawah WTG. Di lokasi tersebut juga memiliki suhu dingin yang sama seperti daerah-daerah wisata di dataran tinggi.

Terlebih, ketika malam hari, suhu semakin dingin, persis seperti di daerah pegunungan.

“Malam hari di atas jam 22.00, dinginnya seperti di Malang. Sejuk,” ujarnya.

Selain dikenal dengan kesejukan dan pemandangan alam yang luar biasa. Sesuai dengan daerah keberadaannya, yakni di Desa Sumuragung, lokasi WTG juga kaya akan sumber air. Sehingga, dibangunkan fasilitas dua kolam renang di WTG karena memang memiliki sumber air yang melimpah.

“Sumber air di sini sangat memadai. Sesuai dengan yang dinamakan sesepuh-sesepuh kami, Sumuragung, jadi sumur-sumur di sini pasti ada sumbernya,” terangnya.

Menurutnya, lokasi WTG yang terletak di perbatasan Bojonegoro dengan Lamongan menjadikannya sangat strategis. Terlebih dari arah Jombang-Babat terdapat wisata-wisata religi. Seperti, makam Gus Dur dari Jombang, makam Sunan Giri, hingga makam Sunan Bonang yang turut melintasi lokasi WTG.

“Ini prospek sangat bagus untuk digunakan sebagai tempat wisata berbaur antara religi dengan alam yang ada di WTG. Mudah-mudahan memberi manfaat dan menarik perhatian masyarakat,” harapnya. (ewi/msu)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#baureno #Wisata #destinasi wisata #Pendapatan Asli Desa #kapur #tuban #potensi wisata #bojonegoro #objek wisata #telaga #lamongan #sumuragung #pad #pegunungan #Gunung