NGOPI, menjadi budaya dan tren. Perkembangannya tidak dipungkiri pesat menjamah para kaum muda mudi. Tak jarang juga generasi sebelumnya. Dari generasi X, Y, Z, hingga tak jarang gen Alpha.
Tentu menjadi tantangan dan peluang. Banyak pengusaha melirik potensi kongko sambil ngopi satu ini.
Saking pesatnya konsep warung kopi (warkop) atau kafe cepat berubah dan balik ke siklus dulu tapi, naik level. Seperti konsep vintage yang mengusung tema klasik, tradisional, antik, dan nostalgia.
Ornamennya membuat seperti kembali ke masa lalu. Dekorasi tempat tak sedikit menggunakan kursi, meja, dan lampu klasik.
Rerata banyak yang memilih menggunakan batu bata, kayu, dan tambahan benda antik seperti sepeda ontel jaman dulu, motor, sampai radio dan televisi masa 1950-1990-an.
Bahkan, menunya juga mengusung tema klasik seperti tempe mendoan dan wedang kopi. Warkop atau kafe vintage ini mulai menjamur di area perkotaan Bojonegoro. Misal kage Tiga Djaya, Jinawi, Koh Cun, Kenduri, Warung Kopi (WK), hingga Copitalist.
Menurut rerata pemuda ini tempat ngopi vintage menjadi salah satu destinasi wajib dikunjungi. Seperti dirasakan Siti Nur Mukaromatun Nisa dan Dini Rizki Hidayatul Rohmah.
Bagi mereka, ngopi di tempat vintage nan klasik memiliki daya pikat tersendiri. Pemandangannya apik dan makanan bisa jadi rekomendasi.
‘’Meski nggak bisa setiap hari minum kopi tapi aku suka ngopi di warkop vintage gitu. Yang ala-ala klasik. Jadi, bisa hampir tiap hari ngopi meski ngga pesen kopi,’’ tutur mahasiswi Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) Bojonegoro itu.
Dia melanjutkan, paling sering berkunjung di salah satu warkop di Jalan Pondok Pinang, Desa Sukorejo, Kecamatan Kota, Copitalist namanya. Karena, menurut dia, aroma khas sangrai kopi membuatnya terpikat. Seperti harum bau surga disebutnya. ‘’Apalagi ada spot favorit di jendela menghadap sawah. Banyak tanaman,’’ imbuhnya.
Dini Rizki Hidayatul Rohmah mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Muhammadiyah Bojonegoro menambahkan, juga sangat menyukai kegiatan kumpul bersama teman dengan menyeduh kopi alias ngopi. Terlebih di tempat yang klasik dan menyatu dengan alam seperti Jinawi.
Minuman dan makanan disajikan, patut dicoba sebagai salah satu rekomendasi. Tempatnya yang dominan menggunakan kayu dan kursi menghadap ke sawah menjadi nilai tersendiri.
‘’Aku suka banget ngopi yang menyatu dengan alam gitu. Tapi untuk waktu menyesuaikan sih,’’ ucap Dini sapaan akrabnya. (yna/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana