CEPU, Radar Bojonegoro - Banyaknya bangunan lawas peninggalan Belanda di Kawasan Cepu jadi destinasi wisata kawula muda. Mereka menyusuri setiap jengkal Kota Cepu yang masih berdiri bangunan-bangunan lawas itu.
Seperti, Gereja Santo Willibrordus, Bangunan Pegadaian lawas, Gedung Sasono Suko, SDN 1 Cepu yang dahulu sebagai bangunan sekolah Hollandsch Inlandsche School. Kemudian, Tuk Buntung dan Taman Seribu Lampu serta rumah-rumah dengan arsitektur Eropa yang ada di kawasan Cepu tersebut.
Mereka tampak asyik menyusuri bangunan-bangunan itu, dipandu salah satu pemerhati budaya Cepu. Selain jalan-jalan, mereka juga dijelaskan tata Kota Cepu zaman Belanda. ’’Sebenarnya ada banyak peminat Walking Tour di Cepu, tapi kami batasi 30 orang,” ungkap inisiator Walking Tour Cepu, Andre.
Para kawula muda itu memperhatikan bangunan demi bangunan, pada setiap lokasi yang dituju. Pemandu tur menunjukkan gambar bangunan lama, sehingga peserta mengetahui perubahan bangunan dari ratusan tahun lalu.
Banyak bangunan yang masih utuh, dan ada yang sudah mengalami perbaikan. ’’Kami buat skema jalan-jalan sambil belajar tentang sejarah, terutama bangunan di Cepu ini,” ungkapnya.
Selama ini, bangunan-bangunan lawas itu hanya sebagai bangunan.
Tak ada peminat untuk mengetahui sejarah bangunan itu didirikan dan digunakan apa saat zaman Belanda. Terlebih, Cepu adalah kota yang cukup sentral pada zaman Belanda, kilang minyak yang dikelola saat itu menjadi embrio Kota Cepu berkembang pesat.
Andre mengatakan, selain warga lokal Cepu, Blora, dan Bojonegoro ada yang dari Surabaya, Malang, dan Sidoarjo. Menurutnya, mereka tertarik dengan banyaknya bangunan zaman belanda di Cepu. “Secara transportasi juga mudah, mereka turun langsung di stasiun cepu, terus berkumpul di Tuk Buntung,” ujarnya.
Saat pemandu menceritakan bangunan demi bangunan yang dituju, peserta seperti diajak menyelami suasana zaman belanda. Tidak hanya di luar mereka juga diajak masuk, merasakan bagaimana atmosfir bangunan yang menjadi saksi bisu perkembangan kota cepu pada masa indonesia masih menjadi Hindia Belanda. (luk/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana