LAMONGAN,Radar Lamongan -Arus lalin di Pertigaan Sumlaran, Kecamatan Sukodadi - Desa Banjarwati, Kecamatan Paciran tidak terlalu padat. Saat melintas terdapat beragam tanaman bonsai di salah satu rumah di Desa/Kecamatan Karanggeneng, tepatnya di depan Pasar Cendere Karanggeneng. Tampak seorang pria sedang serius merapikan dedaunan tanaman yang dikerdilkan tersebut.
Setelah didekati dan mengobrol beberapa saat, baru diketahui jika pria tersebut bernama Jayadi Said yang merupakan pehobi sekaligus pembudidaya tanaman bonsai. Dia kemudian mengajak ke belakang rumahnya, yang terdapat lebih banyak bonsai. Jayadi, sapaan akrabnya memiliki ratusan koleksi, mulai dari tanaman santigi, cemara udang, asem, anting putri, serut, dan beragam jenis tanaman lainnya. Dia tertarik dengan bonsai karena tidak tergerus tren tanaman tertentu, serta memiliki banyak peminat.
’’Bisa dikatakan setiap hari masih laku, kalau tanaman hias lain kan musiman dan tren,’’ kata bapak tiga anak ini.
Dia menjelaskan, saat ini yang sedang menjadi primadona yakni bonsai santigi. Tanaman tersebut memiliki tekstur batang yang kuat. Sehingga, menurut dia, santigi paling susah dibentuk bonsai dibanding tanaman lain. Sebab, tekstur batang yang keras membuat gampang putus saat dibentuk.
’’Kalau membengkokkan agak besar sedikit gampang putus, jadi dari kecil dibentuk. Caranya batang diliukkan, kemudian dibentuk,’’ kata pria berusia 55 tahun ini.
Namun, bukan itu saja yang membuat bonsai santigi memiliki banyak peminat. Bagi beberapa orang masih mempercayai khasiat tertentu dari tanaman yang biasa digunakan sebagai tasbih dan kalung tersebut. ’’Ada orang memiliki sugesti sendiri,’’ ucapnya.
Jayadi mengatakan, perawatan bonsai santigi cenderung gampang-gampang susah. Kebutuhan paparan sinar matahari dan air, wajib tercukupi. Untuk itu, santigi sebaiknya diletakkan pada tempat terbuka, agar mendapatkan paparan sinar matahari yang cukup.
Selain itu harus diperhatikan pemupukan dan medianya, karena nanti menganggu kesuburan bonsai yang akhirnya menyebabakan daun menguning.
’’Media milik saya pasir sama tanah, ada sekam bakar juga,’’ imbuhnya.
Untuk penyiraman sebaiknya menggunakan air payau atau air asin. Sebab, menurut dia, santigi habitat aslinya di pinggir laut yang sering terkena air asin. ’’Penyiraman satu kali sehari,’’ ujarnya.
Jayadi menuturkan, bonsai tidak bisa diukur menggunakan angka. Sebab, para pehobi melihat karakter dan bodi tanaman yang bagus. ‘’Bonsai itu beli karena senang, kadang ada yang jutaan hingga ratusan juta rupiah,’’ tukasnya.
Harga bonsai yang mahal sesuai dengan ketelatenan perawatannya. Selain membuat tanaman bisa hidup, juga dibutuhkan pengetahuan memperlakukan tiap tanaman sesuai dengan habitatnya. Jayadi biasa membentuk bonsai sejak tanaman masih kecil. Beberapa tanaman hanya membutuhkan waktu tiga tahun untuk membentuk pola batang. Bahkan ada beberapa pohon yang membutuhkan waktu hingga tujuh tahun.
’’Tanaman saya ada yang nyangkok, ada juga yang beli,’’ terangnya.(sip/ind)
Baca Juga: Mengajak Bicara Bonsai, Diperhatikan Layaknya Istri
Editor : Yuan Edo Ramadhana