Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Mengenal Komunitas Perpustakaan Jalanan Blora, Tujuh Tahun Sebarkan Virus Literasi

Yuan Edo Ramadhana • Sabtu, 4 Mei 2024 | 20:00 WIB
BERTAHAN: Lapak buku dari Komunitas Perpustakaan Jalanan (Perpusjal) Blora bergerak secara kolektif dan bertahan selama tujuh tahun. (LUKMAN HAKIM/RADAR BOJONEGORO)
BERTAHAN: Lapak buku dari Komunitas Perpustakaan Jalanan (Perpusjal) Blora bergerak secara kolektif dan bertahan selama tujuh tahun. (LUKMAN HAKIM/RADAR BOJONEGORO)

 

Komunitas Perpustakaan Jalanan (Perpusjal) Blora sudah tujuh tahun menjadi oase di tengah kehausan literasi di Kota Sate. Mereka tetap eksis dan optimistis.


LUKMAN HAKIM, Bojonegoro


PETANG menyingsing jalanan perkotaan, para pemuda satu per satu menjajakan buku-buku untuk dibaca masyarakat. Tidak seperti perpustakaan pada umumnya yang memiliki rak dan ruang baca tetap, namun perpustakaan ini berada di jalanan.

Menerabas ruang-ruang yang tidak tersentuh pemerintah. Perjalanan perpustakaan jalanan tersebut sudah cukup lama, didirikan komunitas pemuda Blora sejak 11 Desember 2017 lalu dan bertahan hingga saat ini.

’’Saya ini generasi kedua. Awalnya, sudah ada. Saya meneruskan yang pertama. Melanjutkan jerih payah teman-teman,” ujar seorang pegiat Perpustakaan Jalanan (Perpusjal) Blora, Adistya Wahyu Putra.

Pria berusia 30 tahun tersebut mengungkapkan, komunitas literasi tersebut bergerak secara kolektif. Mulanya perpustakaan ini memiliki slogan 'Membaca adalah Melawan', tetapi tidak bertahan lama. Karena istilah melawan, tidak banyak orang menerima.

’’Dipikir-pikir dalam dunia literasi, kita memakai kata-kata itu tidak ada yang membaca, tidak ada yang datang ke lapak,” jelas pria yang juga mantan fotografer tersebut.

Kemudian Perpusjal Blora mengubah slogan menjadi 'Membaca dan Berbahagia'. Dengan perubahan slogan tersebut, perpusjal lebih luwes dan banyak pengunjung ketika melapak di tepi jalanan.

Adistya mengaku, pegiat Perpusjal Blora tidak sepenuhnya kutu buku, melainkan lebih menonjolkan pada kerja kreatif sembari menghidupkan perpustakaan ini. Kerja kreatif yang dimaksud ialah kerap membuat workshop sablon cukil, kolase plastik, dan ecoprint.

Perpusjal Blora tidak memiliki kepengurusan. Tidak ada anggota tetap, menurutnya, siapa saja yang mempunyai minat bergabung, otomatis akan diterima.

Hari melapak tidak ditentukan secara pasti. Namun, kegiatan tersebut dijalankan saat sore hari. Seperti di alun-alun, embung rowo, atau Lapangan Kridosono Blora. Para pegiat tidak pernah meminta buku kepada pemerintah.

Komunitas tersebut berprinsip, bahwa siapapun yang berkenan menyumbangkan buku dipersilakan. Awalnya, hanya sekitar 50 buku. Setelah berjalan tujuh tahunan hingga saat inii sekitar 300-an judul buku dengan bermacam-macam genre. Mulai dari buku anak-anak, pelajaran sekolah, novel, komik, majalah, dan zine.

Dia berharap kantong-kantong literasi di Blora masif. Sesuai dengan Blora yang sudah ditetapkan sebagai Kota Sastra. Sehingga, terdapat pertukaran ide gagasan. (*/bgs)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#kota sate #membaca #perpustakaan jalanan #pemuda #perpustakaan #perpus #kolektif #Workshop #literasi #blora