Berburu pakaian bekas atau thrifting, masih diminati. Bukan hanya kawula muda Bojonegoro. Kini pasarnya merambah segala usia.
DHANI WAHYU ALFIANSYAH, Bojonegoro
Kerumunan pemuda tampak memenuhi salah satu pertokoan di Jalan Untung Suropati, Kelurahan Klangon, Kecamatan Bojonegoro Kota.
Namun, saat masuk ke dalam, tempat yang semula kedai kopi tersebut disulap seperti lorong-lorong pasar. Berbagai macam produk pakaian tampak menggantung rapi di setiap sudutnya.
Kendati rerata penjual dan pembeli berasal dari kalangan anak muda, namun pasar dadakan yang mulai digelar awal April lalu itu, cukup menarik minat sejumlah warga. Bahkan, dari berbagai usia.
Candra Dewi, salah satu pemilik usaha thrift mengatakan, pakaian bekas di Bojonegoro kini punya konsumen yang kian beragam.
Hingga pelaku usaha thrift di Bojonegoro pun kian beragam produknya, tak hanya kaus, kemeja, dan jaket, namun mulai merambah celana, sepatu, topi, tas, dan berbagai kebutuhan sandang lain.
‘’Kalau 10 tahun lalu mungkin masih terbatas hanya di kalangan anak muda saja, tapi sekarang pasarnya makin beragam. Mulai dari pakaian anak, remaja, sampai dewasa,” ungkap perempuan 28 tahun itu.
Namun Dewi, sapaannya menuturkan, bahwa untuk menentukan pakaian bagus harus melakukan pemilahan sebelum dijual kembali. Terlebih pelarangan pakaian bekas sempat memunculkan isu kesehatan bagi pemakaianya.
‘’Tentu yang layak dan bermerek atau yang sedang menjadi tren, dan dipastikan dalam kondisi bersih,” ujarnya.
Meski di sisi lain masih banyak yang tidak setuju dengan hadirnya tren pakaian bekas, hingga adanya pelarangan pakaian bekas khususnya impor yang masuk secara ilegal. Dirinya menyayangkan jika usaha pakaian bekas dilarang begitu saja.
Menurutnya, pakaian bekas masih banyak diminati oleh pembeli, dan menjadi ladang usaha yang memberi dampak ekonomi. Seperti halnya pada momen Idul Fitri tahun ini, membuat pakaian bekas ikut terdongkrak penjualannya. Meski umumnya momen Lebaran identik dengan pakaian baru, namun penjual thrift juga ikut berdampak omzetnya.
Selain, acara-acara dengan bazar thirfting juga mulai digelar secara swadaya oleh masyarakat di Bojonegoro.
Lutfi, pedagang pakaian bekas lain mengatakan, bahwa acara pasar dadakan tersebut kerap digelar pada meski hanya pada momen-momen tertentu, seperti menjelang Lebaran atau pada akhir tahun. ‘’Baru dimulai sejak 2022 lalu, dan mulai rutin menggelar event setiap tahunnya,” terangnya.
Muhamad Wisam, salah satu pembeli mengatakan, bahwa dengan adanya thrifting, dapat lebih menghemat pengeluaran khususnya bagi anak muda yang belum punya daya beli tinggi. Meski tren thrifting dianggap membawa penyakit yang disebabkan oleh pakaian bekas. ‘’Sudah sejak 10 tahun terakhir lumayan sering membeli pakaian bekas,” ungkap pria asal Kecamatan Kapas itu. (*/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana