BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Antrean tampak mengular di salah satu Bioskop Bojonegoro. Penonton yang didominasi muda-mudi tersebut rela antre hingga luar gedung bioskop untuk membeli tiket masuk.
Antrean panjang ini terjadi sejak libur Hari Raya Idul Fitri 2024 hingga Jumat (19/4). Tepatnya, ketika mulai penanyangan serentak film Siksa Kubur dan Badarawuhi pada 11 April 2024.
‘’Paling banyak penonton film Siksa Kubur dan Badarawuhi,’’ ujar Ghefira, kasir Bioskop NSC Bojonegoro.
Dua film horor yang digandrungi ini berhasil menyita perhatian masyarakat. Keviralannya di sosial media (sosmed) berhasil membuat penasaran hingga bersaing dalam perebutan jumlah penonton. Bahkan jumlah penonton kedua film horor tersebut sudah tembus 2 juta penonton per kemarin (19/4).
Salah satu penonton yang antre membeli tiket di Bioskop NSC Bojonegoro, Fitri mengatakan, saat sampai di Bioskop antrean sudah panjang hingga di luar gedung. Meski begitu, tidak menyurutkan semangatnya untuk menonton film horor yang telah membuat penasaran tersebut.
‘’Penasaran sama Film Siksa Kubur dan Badarawuhi. Karena dua-duanya ramai dibicarakan di sosmed. Tapi, saya lebih memilih untuk menonton film Siksa Kubur,’’ ujarnya.
Perempuan 23 tahun tersebut melanjutkan, sudah penasaran dengan kedua film horor sejak sebelum penayangan. Mengingat, kedua film horor tersebut tengah ramai dibicarakan di media sosial. Terlebih, saat sudah tayang beragam komentar dan review membanjiri kolom komentar tentang film-film itu. Sehingga, semakin membuatnya penasaran.
‘’Saya memang suka menonton film. Apalagi setelah lebaran seperti ini, perlu sesuatu yang menarik untuk memantik semangat memulai aktivitas setelah libur panjang,’’ katanya.
Dia mengaku, penasaran dengan film Siksa Kubur karena sutradaranya Joko Anwar yang film-filmnya tidak pernah gagal. Kemudian, penasaran dengan Badarawuhi karena sebelumnya sudah pernah menonton film KKN di Desa Penari yang menurutnya menarik.
‘’Setelah melakukan beberapa pertimbangan, akhirnya memutuskan untuk menonton film Siksa Kubur,’’ pungkasnya. (ewi/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana