Ketika anak-anak mulai memainkan meriam spiritus berarti sebagai penanda Ramadan. Suara ledakannya menggelegar. Mereka biasanya memainkannya agak jauh dari permukiman.
SUARA ledakan menghujam telinga saat tombol pelatuk korek elektrik dari meriam spiritus ditekan. Sontak tawa anak-anak Desa Ngloram, Kecamatan Cepu itu menyeringai. Meriam spiritus itu terbuat dari bahan pipa sederhana. Namun, menggelegar suara ledaknya.
’’Ayo isi lagi (meriam mercon), nanti gantian. Yang banyak biar tambah nyaring suaranya,” ujar Kinan yang sedang bermain bersama kawan-kawannya di ruas Jalan Ngloram-Jipang.
Ardi Saputra yang juga termasuk kawanan tersebut kemudian menyemprotkan cairan spiritus yang telah dipersiapkan di sebuah botol. Cairan tersebut berguna untuk memicu ledakan dari dalam lubang meriam yang terbuat dari pipa PVC.
Cairan berwarna ungu itu, semacam mesiu pada meriam asli untuk memicu ledakan. ’’Disemprotkan dulu, terus ditutup botolnya. Kemudian dikocok-kocok dan ditembakkan,” ujarnya seperti ahli senjata.
Ardi mengatakan, anak-anak sebayanya saat bulan Ramadan rutin setiap hari bermain dengan suara-suara ledak dari meriam spiritus tersebut. Biasanya sambil ngabuburit, yakni usai azan Ashar hingga menjelang berbuka.
Suara ledakan akan banyak dijumpai dan saling sahut di sepanjang Jalan Desa Ngloram. ’’Jam 3-an seperti ini persiapan, nanti pas sore lebih banyak lagi yang bermain. Kalau hari libur biasanya pagi habis Subuh,” katanya.
Ada berbagai macam ukuran meriam spiritus yang digunakan anak-anak tersebut, mulai dari ukuran dengan diameter kecil hingga sedang. Tentu, ukuran diameter dan spiritus yang disemprotkan berpengaruh kepada suara ledakan yang dihasilkan.
’’Takaran semprotnya harus pas, kalau sampai terlalu basah, suaranya jadi ngebluk (tidak nyaring)," katanya. Bermain dengan suara-suara ledakan dari meriam spiritus itu tampak membuat mereka bergembira.
Namun, bagi yang memiliki penyakit jantung tidak diperkenankan dekat-dekat. Karena nyaringnya suara yang terdengar. Lokasi yang digunakan bermain pun jauh dari permukiman. Sehingga, tidak mengganggu warga kampung. (luk/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana