LAMONGAN, Radar Lamongan - Penggemar ikan koki tak pernah surut, meski banyak jenis ikan hias baru bermunculan. Salah satunya Sugianto, pembudidaya ikan Koki asal Desa Rejosari, Kecamatan Deket.
Di lantai dua rumahnya, Sugianto membudidayakan ikan dengan nama latin carassius auratus tersebut. Terdapat lima kolam semen berukuran masing-masing 2 meter x 2,5 meter dengan tinggi 60 cm.
Selain itu, terdapat tiga kolam terpal berukuran 2 meter x 1 meter dengan tinggi 50 cm. Total ikan yang dibudidayakannya sekitar 700 ekor dengan tiga jenis yakni ikan koki rancuh, oranda, dan ryukin.
Pria yang akrab disapa Warez ini mengatakan, saat ini permintaan pasar cukup tinggi terhadap tiga jenis ikan koki tersebut. Koki rancuh memiliki jambul, tapi tidak memiliki sirip. Sedangkan, koki oranda memiliki jambul dan sirip.
‘’Bentuk kepala ryukin tidak ada jambulnya, tapi memiliki sirip,’’ imbuhmya.
Warez awalnya memelihara ikan koi. Namun, ikan koi membutuhkan lahan yang luas. Sehingga, dia beralih memelihara ikan koki. Lima tahun lalu dia memutuskan membudidaya ikan koki, berbekal melihat tutorial dari internet.
‘’Kalau koki tidak perlu lahan besar, terus penjualannya standar, normal,’’ ucap pria berusia 54 tahun ini.
Warez menyarankan, pehobi pemula harus memaksimalkan filterisasi. Sebab kunci kesehatan ikan pada filter, dengan memposisikan pompa sesuai kapasitas kolam atau akuarium.
‘’Bagaimana caranya pakai filter itu bening airnya, pemula harus tahu filterisasi,’’ ujarnya.
Selanjutnya, ketika baru membeli ikan koki harus disterilisasi, yakni ditempatkan pada wadah tersendiri. Selain itu harus memperhatikan ukuran kolam dan jumlah ikan. Sedangkan untuk pemberian makan minimal tiga kali.
‘’Jangan sampai kekenyangan, lebih baik kurang daripada lebih,’’ ujar bapak empat anak ini.
Baca Juga: Pemuda Mantup Pertahankan Resep Kikil dari Nenek, Terbukti Enaknya Sejak 1985
Warez menjelaskan langkah beternak ikan koki. Pertama yang perlu diperhatikan yakni membedakan ikan jantan dan betina. Caranya dengan melihat sirip dayung depan ikan. Jika kasar maka dipastikan ikan jantan. Namun jika polos otomatis betina.
Selanjutnya, perlu diketahui umur ikan. Sebab, untuk ikan yang diternak minimal umur enam hingga tujuh bulan. Setelah itu, dicek dengan menekan perut. Ikan koki jantan bakal keluar cairan putih. ‘’Untuk betina keluar cairan kekuningan,’’ tuturnya.
Warez lalu melakukan pemijahan (proses perkawinan), dengan menggabungkan ikan betina dan jantan bakda Salat Subuh. Disediakan tempat khusus pemijahan, yang diisi satu betina dan tiga jantan. Di media tersebut diberikan tali rafia diberikan pemberat untuk tempat bertelur. Media tersebut ditutup papan, kemudian dibiarkan hingga pukul 08.00 WIB. Terjadinya pembuahan ditandai dengan adanya busa penuh di atasnya.
‘’Kalau dari sore indukan sudah dijadikan satu, kasihan ikannya, karena rata-rata ikan koki bertelur pagi hari sampai jam 8,’’ katanya.
Setelah dipastikan ikan sudah bertelur, selanjutnya indukan dipindahkan. Media pemijahan dibersihkan dengan aerator, serta ditunggu sekitar empat hari hingga telur menetas. Warez sering mengecek suhu, karena jika terdapat perbedaan suhu maka ikan akan mati.
‘’Biasanya saya malam mengurangi dan mengganti air, karena tidak terlalu signifikan, kita kurangi air,’’ ucap Sugianto.
Warez memberikan makanan anakan ikan koki berumur sembilan hari dengan kuning telur. Makanan tersebut diberikan hingga anakan berumur tiga minggu. Selanjutnya dipindahkan ke tempat lebih besar. Warez menuturkan, harga ikan koki bervariatif antara Rp 30 ribu hingga Rp 100 ribu per ekor.
‘’Beda lagi kalau high quality dan show quality, ikan buat lomba bisa ratusan ribu,’’ pungkasnya. (sip/ind)
Editor : Yuan Edo Ramadhana