LINTAS generasi mampu memertahankan kikil yang berdiri sejak 1985. Salah satu kuncinya, meracik bumbu dengan resep warisan sang nenek.
M Yayan Firmansyah menjadi penerus setelah orang tua dan neneknya menjual kikil di pinggir jalan raya Mantup.
’’Untuk resep, turun temurun Mas, jadi pakemnya sejak dulu,’’ ucap bapak satu anak ini.
Selain bumbu, kunci berjualan kikil terletak pada hasil pengolahan kaki sapi. Kikil yang lembut dan enak digigit dihasilkan dari tiga kali proses perebusan.
Kemajuan teknologi membuat Yayan tak lagi kesulitan mengolah kaki sapi. Dulu, dia harus memasak menggunakan tungku berbahan kayu bakar. Waktunya sangat lama.
Dengan alat lebih modern, kini hanya membutuhkan waktu sekitar enam jam untuk persiapan membuka warung. ‘’Sekarang bisa menjual setiap harinya 30 kg kaki sapi,’’ jelasnya.
Kaki sapi awalnya dibersihkan. Kemudian dilakukan pembakaran untuk menghilangkan bulu – bulunya. Setelah itu, barulah direbus tiga kali untuk mencari kelembutan kikil dan daging.
Untuk menghilangkan bau apek, ada racikan bumbu sendiri. Yayan memilih merahasiakannya. Karena warung buka sejak era neneknya, maka pelanggannya sudah menyebar ke luar Kabupaten Lamongan. Mereka mampir bila searah tujuan bepergiannya. (mal/yan)
Editor : Yuan Edo Ramadhana