TEKSTUR serabi-ketan di utara Jembatan Semanding-Bakalan, Kecamatan Bojonegoro Kota beda. Tak keras dan tidak lembek. Ternyata ramuannya pakai air kelapa.
Matahari pelan-pelan mulai terbenam, lampu penerangan di sepanjang jalan mulai menyala. Tampak sepasang suami istri (pasutri) menata dagangannya.
Mulai menjajar daun pisang, wadah serabi, kelapa parut, hingga sambal kedelai.
Api dari tungku tembaga tradisional pun mulai dinyalakan. Pertanda mereka siap berjualan. Satu per satu pembeli mulai menghampiri.
Sepasang pasutri menjual serabi ketan khas Bojonegoro. Lokasinya di utara Jembatan Semanding-Bakalan, Kecamatan Bojonegoro Kota. Buka dari pukul 17.00 sore hingga pukul 22.00.
"Mulai berjualan sejak 1990. Awalnya keliling di kampung setiap pagi," kata Pedagang Serabi-Ketan Hariyanto.
Heri menuturkan, serabi-ketan buatannya memiliki resep khusus agar mendapatkan tekstur pas. tidak keras dan terlalu lembek. Komposisinya mulai dari tepung beras, santan (air perasan kelapa), dan air kelapa.
"Tidak menggunakan air biasa, tapi air kelapa," jelasnya.
Menurut dia, dalam membuat ketan-serabi butuh keahlian khusus. Jangan sampai bawah serabi gosong atau mentah di tengah.
Terlebih, mempertahankan cita rasa. Baginya menjadi prinsip.
"Karena yang beli bukan dari desa sekitar saja. Malah banyak dari jauh. Orang Tionghoa barat klenteng banyak ke sini. Pasti dua hari sekali ke sini," bebernya.
Baca Juga: Olahan Ikan Jendil dan Wader Bikin Ngiler
Untuk mempertahankan rasa khasnya, menggunakan cobek tanah liat di atas tungku tembaga tradisional.
Harga serabi ketannya pun dibanderol dengan harga ekonomis. Mulai dari Rp 2.000 untuk serabi bisa memilih santan atau parutan kelapa disertai sambal kedelai.
Kemudian, serabi ketan harga Rp 2.500 dan ketan saja harga Rp 3.000.
"Harga ketan tergantung permintaan sebenarnya. Kalau dari kami Rp 3.000 per bungkus. Harga murah tidak masalah yang penting lancar dan habis terus," tuturnya. (yna/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana