BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Sudah tak asing dengan kata fashion designer. Ternyata, kini banyak talenta muda memih desainer fesyen. Lilis Wardani mulai menekuni dunia fesyen sejak sekolah menengah kejuruan (SMK) 2008. Berlanjut hingga kuliah jurusan tata busana Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Lilis memberanikan diri membuka jasa jahit ketika duduk di bangku kelas 3 SMK. Mengawali dengan permak baju. Mulai mengganti resleting rusak, menjahit baju sobek, hingga mengecilkan baju.
Ternyata permak dijalaninya tidak berjalan mulus. Lilis menerima anggapan bahwa siswa SMK hanya bisa sebatas permak baju. Kepercayaan orang belum muncul. Lilis terus mencoba dan memastikan sekolah dan kuliah jurusan tata busana memiliki peluang besar dunia usaha. Meski awalnya, peraih juara dua lomba Muslim Fashion Fest tersebut tidak sengaja bersekolah jurusan tata busana.
Bermunculan desainer muda salah satunya melalui event Bojonegoro Nglenyer Fashion Festival (BNFF). Menurutnya, desainer dituntut terus desain tidak monoton dan mengikuti perkembangan zaman dan mengikuti pasar.
Namun, inspirasi desain sering kali muncul tiba-tiba ketika menghadiri acara. Baik ketika melihat peragaan busana hingga event perlombaan desain.
‘’Adanya perlombaan fesyen menunjukkan bahwa banyak talenta muda di Bojonegoro mengarah menjadi desainer muda,” tutur juara dua lomba Drapping Se-Jatim. (yna/rij)
Editor : Yuan Edo Ramadhana