BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Endra Fitrianto begitu akrab dengan beberapa iguana. Beragam iguana tampak manja ketika dielus dan naik ke tangan pemuda asal Desa Pungpungan, Kecamatan Kalitidu, tersebut.
Endra pun sudah hafal saat iguana manja. Terlebih ia budidaya iguana sejak 2013 lalu. Kini, memiliki delapan indukan dengan lima jenis iguana. ‘’Lebih pilih iguana sih daripada ternak ayam, kambing, atau sapi,” tutur Endra ditemui Jawa Pos Radar Bojonegoro, Jumat (29/7).
Menurutnya, iguana lebih mudah dirawat daripada hewan ternak lainnya, terutama jenis pakan. Alasannya, iguana termasuk hewan herbivora sumber makanan dari sayur dan buah-buahan, seperti kangkung, sawi, pisang, semangka, hingga pepaya. ‘’Makanan wajibnya kangkung dan sawi. Tapi, untuk selingan kami beri buah,” jelasnya.
Masing-masing iguana memiliki harga berbeda. Berdasar jenis warna. Semakin aneh dan memiliki banyak warna, kian mahal. Harga iguana mengikuti pangsa pasar. Sebelumnya paling murah jenis green bisa Rp 500 ribu hingga Rp 600 ribu per ekor. Kini, menurun karena jumlah pembudidaya kian banyak.
‘’Sekarang harga paling murah jenis green Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu per ekor,” jelasnya. Paling mahal jenis albino sekitar Rp 600 ribu sampai Rp 700 ribu per ekor.
Berbeda enam hingga tujuh tahun lalu, Endra bisa meraup omzet hingga Rp 50 juta sekali musim jual anakan iguana. Namun, kini mengalami penurunan menjadi Rp 15 juta sampai Rp 20 juta sekali jual. (yna/rij)
Editor : Yuan Edo Ramadhana