Oleh:
Hanafi
Ketua FKUB Bojonegoro
PUASA Ramadan bukan hanya ibadah ritual, menahan lapar dan haus dari fajar hingga terbenam matahari. Lebih dalam dari itu, puasa merupakan "Madrasah / Sekolah Rohani" yang dirancang untuk meningkatkan ketaqwaan individu sekaligus memperkuat ikatan persaudaraan dan kepedulian lingkungan sosial kita, ibadah puasa memiiki dimensi vertikal dan horizontal yang kuat antara manusia dengan manusia lainnya yang secara langsung berdampak pada terciptanya harmoni sosial .
Ketika manusia melaksanakan ibadah puasa baik orang itu kaya atau miskin, pejabat atau rakyat jelata mereka merasakan lapar yang sama. Rasa lapar ini yang menghancurkan sekat sekat sosial.
Orang orang yang mampu atau kaya akan merasakan langsung bagaimana penderitaan orang yang tidak beruntung sehingga akan memunculkan rasa empati dan silidaritas sosial.
Hasil akhir dari proses Madrasah Ramadan adalah tattaquun, sebagaimana firman Allah dalam Alquran (QS. Al- Baqarah:183 ) yang artinya:
"wahai orang orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa".
Makna tattaqun/muttaqiin mempunyai cakupan makna yang sangat luas baik vertikal atau horizontal.
Orang yang melaksanakan ibadah puasa akan berdampak langsung dan tercermin dalam kehidupan seharinya. Perilaku orang yang bertaqwa akan senantiasa sesuai dengan karakteristik apa yang telah difirmankan Allah dalam Alquran dan hadist. Perubahan perilaku itu lah buah dari proses pembelajaran selama di madrasah ramadan (bulan suci ramadhan).
Puasa mengajarkan pengendalian hawa nafsu, menahan emosi dan hifdhil lisan, berbuat baik antar sesama, sikap toleransi, pemaaf dan lain sebagainya sesuai demgan karakteristik orang orang muttaqin.
Saat berpuasa seseorang dilarang berkata kotor atau bertengkar. Hal ini akan menciptakan suasana yang tenang dan damai, mengurangi potensi konflik dan mengajarkan kepada manusia saling menhormati dan memaafkan.
Sabagimana hadis nabi: "Puasa adalah perisai , maka apabila di antara kalian berpuasa, jangan lah berkata kotor dan jangan berbuat bodoh jika ada orang yang mengajak bertengkar, katakanlah : Sesungguhnya aku sedang berpuasa (HR. Bukhari dan Muslim )
Demikian juga dengan kepedulian, empati dan perhatian kita terhadap sesama, hadis dari Ibnu Abbas , ia berkata : Rasulullah SAW adalah manusia yang paling dermawan , dan beliau kebih dermawan lagi di bulan Ramadhan ( HR. Bukhari dan Muslim)
Apa yang terdapat dalam Alquran dan alhadis merupakan tuntunan yang harus dipedomani dan kita lakukan sebagai seorang muslim tidak hanya di bulan Ramadan tepati juga mejadi pedoman kehidupan sehari hari dalam mewujudkan tatanan sosial yang harmoni. (*)
Editor : Yuan Edo Ramadhana