RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Melaksanakan ibadah puasa di negara tropis seperti Indonesia biasanya menjadi sebuah ujian tersendiri, terutama jika bulan Ramadan jatuh pada musim kemarau. Namun sepatutnya kita tetap wajib bersyukur, karena ternyata jangka waktu puasa di Indonesia tergolong normal dibanding beberapa negara di dunia.
Sebagaimana telah banyak diketahui, ibadah puasa dilaksanakan sejak fajar tiba hingga matahari terbenam, atau sejak subuh hingga maghrib, sebagaimana disyaratkan melalui potongan dari QS. Al-Baqarah ayat 187:
وَكُلُوۡا وَاشۡرَبُوۡا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَـكُمُ الۡخَـيۡطُ الۡاَبۡيَضُ مِنَ الۡخَـيۡطِ الۡاَسۡوَدِ مِنَ الۡفَجۡرِؕ ثُمَّ اَتِمُّوالصِّيَامَ اِلَى الَّيۡلِۚا.......
Artinya:"Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam,"
Pergantian siang dan malam di berbagai wilayah di dunia dapat memiliki jangka waktu berbeda-beda, tergantung pada jarak wilayah bumi dengan garis khatulistiwa. Selain itu, poros bumi yang tidak sepenuhnya lurus juga menyebabkan bergesernya posisi kutub bumi terhadap matahari.
Sederhananya, hal ini merupakan salah satu penyebab pergantian musim di wilayah selatan dan utara bumi. Misal pada Juli hingga September, posisi matahari mendekati kutub utara, sehingga wilayah seperti benua Eropa dan Amerika menikmati musim panas, sementara benua Australia mengalami musim dingin. Sebaliknya pada November hingga Januari, posisi matahari mendekati kutub selatan, sehingga benua Eropa dan Amerika mengalami musim dingin, dan benua Australia menikmati musim panas.
Karena terbit dan terbenamnya matahari di berbagai wilayah dunia dapat berbeda-beda, otomatis ketentuan waktu berpuasa di berbagai wilayah di dunia juga dapat berbeda-beda. Selain itu, waktu berpuasa juga banyak bergantung pada periode jatuhnya bulan Ramadan dalam kalender masehi.
Namun secara sederhana, semakin jauh sebuah wilayah dari garis khatulistiwa, wilayah tersebut bakal mengalami siang hari lebih lama pada musim panas di wilayah tersebut. Sebaliknya, siang hari akan berjalan lebih singkat ketika musim dingin tiba di wilayah tersebut.
Mengutip dari analisis BBC, pada tahun 2026, bulan Ramadan jatuh di ujung musim dingin di wilayah utara bumi, dan musim panas di wilayah selatan bumi. Sehingga penduduk yang melaksanakan puasa di wilayah utara bumi bakal menikmati puasa yang lebih singkat, seperti di wilayah-wilayah berikut:
- Murmansk, Rusia - 1 hingga 1,5 jam
- Longyearbyen, Norwegia - 2,5 hingga 3 jam
- Kazan, Rusia - 10,5-11 jam
- Anchorage, Alaska, Amerika Serikat - 11 hingga 11,5 jam
- Paris, Perancis - 11,5 hingga 12 jam
Sebaliknya, penduduk yang melaksanakan puasa di wilayah selatan bumi bakal menjalani puasa sangat panjang. Bahkan jam sahur dengan jam berbuka bisa mepet sangat dekat, misal di berbagai daerah berikut:
- Ushuaia, Argentina - 19,5 jam
- Puerto Williams, Chile - 19,5 jam
- Cape Town, Afrika Selatan - 15 jam
- Christchurch, Selandia Baru - 15,5 jam
- Canberra, Australia - 14,5-15 jam
Terkadang, ulama di negara-negara di dekat wilayah kutub mengusulkan agar umat Islam di wilayah mereka mengikuti waktu Makkah untuk menentukan waktu berpuasa. Sehingga mereka tidak perlu terlalu lama berpuasa, atau sebaliknya tidak sempat berpuasa.
Kebetulan, jangka waktu puasa di Makkah tidak terlalu berbeda dengan jangka waktu puasa di Indonesia, karena letak kedua wilayah yang tidak terlalu jauh dari garis khatulistiwa. Kurang lebih untuk tahun 2026, umat Islam di Makkah kurang lebih akan menjalani puasa kurang lebih sepanjang 12 jam, sementara rerata umat Islam di Indonesia menjalani puasa kurang lebih sepanjang 13 jam. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana