Oleh:
Irawaty Nusa
NAMANYA Karni Ismail, usianya di atas 70 tahun, bangga sekali dipanggil sastrawan senior. Di atas meja kerjanya sedang mengetik bait-bait puisi yang akan segera diterbitkan, lalu diadakan acara bedah bukunya di akhir Maret.
Kalau dia sudah tampil, para penulis muda terpaksa harus minggir, dan harap maklum untuk menunda saat-saat penerbitan bagi karya-karya mereka. Karena buku Pak Karni, tentu paling diprioritaskan, serta akan meraup pundi-pundi yang menggiurkan bagi kalangan penerbit.
Dia masih memiliki tenggat waktu selama dua bulan untuk menyelesaikan kumpulan puisinya, namun akhir-akhir ini ia kelihatan letih dan murung. Sambil mondar-mandir di kamarnya, tiba-tiba berhenti, mengacak-acak rambutnya, dan berkata dengan nada sinis dan ketus kepada sang istri,
“Bu, usahakan tidak ada suara-suara yang mengganggu dalam beberapa minggu ini. Juga tak usah ada seorang pun dari cucu kita yang memasuki kamar kerja saya. Juga kalau bisa, Bi Narti pembantu kita disuruh tidur di kamar belakang, karena suara ngoroknya membuat kepala saya pusing.”
“Ya, akan saya usahakan, Pak.”
“Harus diusahakan! Soalnya saya perlu konsentrasi penuh dalam minggu-minggu ini, dan usahakan teh manis harus selalu tersedia di mug besar... karena hanya teh manis yang bisa menyegarkan pikiran saya.”
Pak Karni Ismail melepas baju batiknya, menggantungnya pada kastok di belakang pintu, lalu ia pun menuju meja kerjanya dengan hanya mengenakan kaos oblong berwarna putih.
Untuk mengejar deadline bagi penerbitan kumpulan puisinya, ia tak mau mengenal kata “santai” bahkan dalam hal-hal yang paling sepele pun. Semuanya harus terprogram di kepalanya dengan rapi. Layar komputer harus lurus berhadapan dengan kursi; tak boleh ada buku yang tersimpan sembarangan di atas meja; bahkan tata letak foto-foto sastrawan terkenal harus lurus terpampang di setiap dinding kamarnya.
Ia duduk bersandar pada kursi, seakan sedang merenungkan suatu ide dan gagasan yang harus segera dipantulkan ke layar komputernya. Ketika ia menulis beberapa bait puisi, terdengar suara-suara gaduh mengganggu dari sandal istrinya, hingga membuat konsentrasinya buyar kembali.
Setelah ditegur keras, sang istri melangkah pelan-pelan sambil berjinjit menuju dapur, kemudian balik kembali dengan membawa mug besar berisi teh manis kesukaannya.
Dua judul puisi terselesaikan dalam beberapa jam. Namun, ia merasa terganggu kembali mendengar suara mendesis seperti suara gas elpiji yang bocor atau penutupnya yang agak longgar. Tak lama kemudian, desisan suara mesin kosmos dan percikan ikan tempe dan tahu yang sedang digoreng di dapur.
“Ya, ampun, Bu, ini ada asap dari mana?!” teriak Pak Karni dari dalam kamar.
“Itu cuma sedikit asap yang keluar dari minyak goreng dengan kosmos, karena nasinya sudah mulai masak!” sahut sang istri.
Pak Karni melongok ke pintu dapur dengan raut muka ketakutan. Ia mengendus udara dengan wajah meringis dan mata melotot. “Kenapa sih alat-alat dapur suka berisik?” protesnya lagi, “belum lagi mesin cuci? Coba, hari ini Ibu enggak usah mencuci dulu sampai saya selesai mengetik.”
Dia duduk sambil memegang kertas yang baru di-print, kemudian pandangannya menerawang jauh. Dalam waktu yang cukup lama ia merenung, meralat beberapa kata dan kalimat, mengerutkan dahi sambil memijit-mijit keningnya. Ia pura-pura serius, tak memerhatikan sang istri yang masuk kamar untuk mengganti mug-nya yang sudah kosong.
Dengan gaya seorang filosof kaliber dunia, ia pun tak kalah menunjukkan gaya dan ekspresi seorang pemikir handal. Puisi keempat sudah dia tulis, namun ia sedang berpikir keras untuk menentukan nama judulnya. Ia merasa pusing membedakan kata “hati” dengan “kalbu”, sampai kemudian ia pun menghapus judul pada puisi ketiga, untuk meralat kata “jiwa” dengan “ruh”.
Lalu, pada puisi kelima, berkali-kali ia harus meralat kata “pikiran” dengan “akal”, sampai kemudian ia pun memutuskan untuk menggunakan kata “perasaan”.
Seperti seorang gadis yang sedang berdandan di depan cermin, dia pun membaca karyanya sendiri dengan muka meringis, seakan sedang berpose untuk dirinya sendiri sebelum meralat judul-judul puisinya.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan yang membuatnya tersentak kaget. “Nenek! Hari ini Nita libur, karena gurunya sedang rapat!” teriak salah seorang cucu yang bertandang bersama mamahnya.
“Huss, jangan berisik! Kakek sedang menulis!” kata si Nenek memperingatkan.
Si cucu melongok ke kamar kerja kakeknya. Matanya bertanya-tanya heran melihat sang kakek terlihat polos tanpa ekspresi. Ia menatap sang kakek yang mengetik dengan cepat di depan komputer. Seakan foto-foto para sastrawan sedang menatapnya serius sambil berujar: “Wiih, kau hebat sekali Karni Ismail! Di antara kami tak ada yang mampu menulis seporoduktif kau!”
“Ssst!” mesin komputernya seakan memperingatkan mereka agar jangan berisik.
"Ssst...,” bisik sastrawan lain yang mukanya terpampang di dinding sebelah kanan.
Sebagian sastrawan itu bahkan sudah tiada alias almarhum. Seakan membuat gemanya bernuasa magis dan sakral di ruang kamar kerjanya. Di Minggu pagi itu, ketika sedang serius merenung di atas kursi, Pak Karni kontan menegakkan tubuhnya, menggeser keyboard ke samping, lalu matanya memicing seakan mendengar lagu yang didengungkan secara monoton oleh kerumunan orang
“Suara apa itu, Bu!” teriaknya memanggil sang istri.
“Itu, rumah di sebelah sana sedang ada kebaktian, Pak. Mungkin mereka sedang menyanyikan lagu-lagu gereja? Mana saya tahu?”
Pak Karni Ismail menghempaskan punggungnya di atas kursi sambil menghempaskan secarik kertas di atas meja. Beberapa jam kemudian, ia hanya dapat menulis satu buah puisi yang belum diberinya judul, lalu tiba-tiba disentakkan kembali oleh suara toa dari pengeras suara di masjid, yakni seorang kakek yang melantunkan azan dengan suaranya yang fales dan serak-serak kering.
“Ya, ampun! Ada apa dengan petugas masjid itu?” gumamnya jengkel. “Kenapa kakek-kakek yang sudah bau kuburan dibiarkan melantunkan azan seperti itu?”
“Mungkin di masjid enggak ada anak muda, Pak,” tanggap istrinya.
“Lalu, buat apa azan dikumandangkan, kalau suaranya membuat kuping panas begini?!”
Pak Karni melongok jam dinding dengan mata menyorot tajam. Senderan kursinya terlihat basah oleh keringat, sehingga ia memerintahkan istrinya agar mengambil lap di dapur.
"Astaga, tak terasa sudah jam duabelas, Bu. Orang-orang sedang istirahat dan makan siang, sementara saya masih terus bekerja sejak jam lima pagi.”
Dengan perasaan lelah dan letih, ia pergi dengan kepala miring, mengambil air mineral dari kulkas dan menenggaknya dari ujung botol. Ia memerintahkan istrinya agar memijit punggung dan lehernya di atas tempat tidur. “Terus, Bu, sebelah sini... terus yang keras, sebelah sini... pijit yang keras, Bu...”
“Pak, kita ini sudah tujuhpuluhan tahun? Mana mungkin Ibu masih punya tenaga dengan umur setua ini?” ujar istrinya.
"Capek sekali saya, Bu... lelah sekali berhari-hari di atas kursi di depan layar komputer... kalau dulu sewaktu muda, tak begitu merepotkan karena saya menulis dengan pena di atas kertas... kemudian diketik dengan mesin ketik lama. Tetapi sekarang, mata sudah agak kabur, sementara saya dipaksa bersaing dan berkejaran dengan para penulis muda....”
“Apa mungkin Bapak masih bisa bersaing dengan penulis-penulis muda?” tanya sang istri sangsi.
Sastrawan tua itu terdiam tak menjawab. Matanya menerawang jauh. Wajah-wajah yang terpampang di dinding seakan memperingatkan dirinya secara serempak, “Sudahlah, Karni... zamannya sudah lewat... sekarang tak ada lagi yang mau baca tulisan-tulisanmu. Ketahuilah, semakin cepat waktu berlalu, ide-ide di kepala kita hanya akan menjadi tumpukan kata di atas kertas, yang siap dilemparkan ke dalam tong-tong sampah....”
Pikirannya terus berkecamuk, seakan berseliweran antara tanya dan jawab. Baginya, pekerjaan akan semakin melelahkan jika harus menuruti waktu yang ditentukan orang lain. Di usia setua itu, Karni Ismail seakan baru menyadari, bahwa jiwanya jauh lebih melelahkan ketimbang tubuhnya.
Selama ini, ia hanya berkarya dan berkreasi lantaran tuntutan pihak luar, baik kebutuhan keluarganya, karyawan redaksinya, maupun pihak-pihak yang mengambil keuntungan dari publikasi karya-karyanya.
Ia semakin menyadari, ketika seorang sastrawan berkarya atas perintah orang lain, dan bukan panggilan nuraninya, lalu apa bedanya dengan para pekerja rodi yang berjuang untuk memenuhi hajat para makelar dan kaum penjajah di zaman Hindia Belanda? Apa bedanya dengan pekerjaan sastrawan yang dipaksa bertugas untuk memenuhi kurikulum yang dianjurkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan di zaman Orde Baru dulu?
Pagi itu, belum selesai ia merampungkan kumpulan puisinya, tiba-tiba ia bangkit dari kursinya dan melangkah sempoyongan ke tempat tidur. Sepanjang hari ia tak bisa tidur, hingga sang istri menawarkannya, apakah ia mau pergi ke klinik untuk memeriksakan kesehatannya.
Akhirnya, pihak dokter memberinya obat penenang agar dia bisa tidur nyenyak. Setelah beberapa jam tertidur, sastrawan tua itu kembali melangkah menuju meja kerjanya. Ia menyalakan komputer, menatap foto-foto sahabatnya di sepanjang tembok, lalu terbersit dalam pikirannya untuk memberi judul panjang pada puisi terakhirnya: “Malu Aku Jadi Penulis yang Tak Pernah Memiliki Jiwa yang Merdeka.” (*)
Editor : Yuan Edo Ramadhana