Oleh:
Ahmad Zaini
Guru SMKN 1 Lamongan dan SMA Mambaul Ulum Pucuk
Angin pagi sepoi menyapa awal hari. Sinar matahari tampak kuning keemasan. Sinarnya belum begitu terasa lantaran baru keluar dari peraduannya. Sementara di jalan sudut kampung terlihat lalu Lalang warga berangkat bekerja ke sawah. Rupanya jalan kecil itu menjadi salah satu jalan menuju persawahan.
Para lelaki berbahu kekar berjalan melintasi jalan tersebut. Mata cangkul disangkutkan di pundak kiri. Gagangnya dibiarkan bergelantung menjutai. Tangan kanan menjinjing sebakul nasi sebagai bekal makan siang di sawah nanti. Sementara di depan pintu gerbang pesantren aku menjumpai remaja yang berjalan santai sambil memegang kitab kecil.
“Maaf, jam-jam segini Kiai Salim bisa ditemui?” tanyaku pada remaja yang baru keluar dari pesantren.
“Masih mengajar ngaji. Biasanya beliau bisa menemui tamu kurang lebih pukul delapan pagi,” jawab remaja itu yang ternyata salah satu santri pesantren tersebut.
Aku mematung bersama istri. Sejenak saling melihat ketika mendengar penjelasan seorang santri yang kutanyai. Aku melihat jam tangan hitam yang melingkar di lengan kiriku. Angka digital jam itu menunjuk angka 6. Berarti Kiai Salim bisa ditemui kurang dua jam lagi. Memang lama. Tapi tidak mungkin aku kembali karena hari ini waktu luang terbaikku untuk sowan ke beliau. Kami masuk gerbang pesantren lalu duduk di kursi kusam sambil menunggu kiai yang masih membalah kitab salaf untuk para santrinya.
Di sebuah kursi berbahan bambu yang tersandar di dinding bangunan asrama santri aku duduk bersama istri. Di sebelah kami duduk terdapat musala tempat kiai sedang membalah kitab kuning.
Suaranya terdengar kurang jelas lantaran terhalang tembok berjendela kaca. Aku melihat ke arah kiai yang duduk di sebelah pintu masuk. Mataku tertambat ke posisi duduk kiai. Beliau mengenakan kemeja batik. Lengan kirinya memakai jam tangan sebagai pengontrol waktu. Sesekali beliau melihat jam tangannya untuk memastikan batas waktu mengajar.
“Masa kecilku belajar mengaji di sini,” ceritaku kepada istri.
“Ternyata kamu bisa mengaji itu belajar di pesantren ini,” timpal istriku.
“Kiai Salim yang mengajariku ilmu agama sehingga aku bisa mengetahui cara melaksanakan salat lima waktu, membaca Alquran, dan membaca kitab-kitab kecil meskipun tidak sekhusuk dan sefasih beliau. Yang jelas aku pernah nyantri di pesantren ini,” kataku meyakinkan istri.
Pipiku terasa hangat. Matahari telah meninggi yang sinarnya menampar pipi kananku. Aku menoleh sejenak ke arah kiai. Ternyata beliau masih khusuk membalah kitab. Sambil menunggu kiai, sejenak aku menceritakan masa-masa kecil hingga remajaku di pesantren ini kepada istri.
Setiap hari aku belajar mengaji di sini. Kecuali malam Jumat. Di pesantren ini diberlakukan libur mengaji setiap malam Jumat. Aku berangkat ke pesantren ini sebelum azan maghrib berkumandang agar bisa berjamaah di pesantren ini. Biasanya aku diajak berangkat bersama Kang Larso. Dia santri senior yang ikut membantu kiai mengajar santri baru seperti aku.
Kegiatan pengajian di pesantren ini dimulai setelah salat maghrib. Kegiatan diawali dengan belajar membaca Alquran kemudian kitab nahwu dasar yaitu Jurumiyah. Aku masih ingat ketika ditanya oleh Kang Larso perihal i’rob rafa, nasab, dan jer. Aku waktu itu diam tidak bisa menjawab.
Wajahku memerah karena malu kepada teman-teman. Lantaran aku menyerah tidak bisa menjawab, pertanyaan yang sama dilemparkan ke teman lain, yaitu Mahrus. Wajah semakin tertunduk malu karena Mahrus bisa menjawab pertanyaan Kang Larso dengan baik. Dia sangat memahami perbedaan ketiga i’rob tersebut.
Baru aku akan melanjutkan cerita bahwa di sebelah utara pesantren ada tambak tempat setiap malam aku buang hajat, tiba-tiba terdengar suara pintu musalla dibuka. Para santri keluar dari musalla, sedangkan Kiai Salim keluar dari pintu lain. Aku dan istri lantas bergegas menuju ndalem atau rumah kiai yang berada tepat di selatan musalla.
Rumah tembok dengan ukuran ruang tamu 5x6 meter berdaun pintu kupu-kupu perlahan terbuka Kiai Salim mempersilakan aku dan istri masuk. Di atas gelaran karpet seukuran luas ruang tamu kami duduk. Sejenak beliau melihat ke arahku.
“Maaf, ruang tamu berantakan,” kata beliau memulai pembicaraan dengan merendahkan diri.
Ternyata sifat beliau yang selalu merendahkan diri masih sama dengan dua puluh lima tahun sewaktu aku masih belajar di sini. Padahal, saat ini santri beliau sudah ratusan orang.
“Tidak Kiai. Ruangan ini lebih dari layak dan rapi, Kiai,” sahutku singkat.
“Bapak dan Ibu ini dari mana, ya?” tanya beliau yang membuat aku terkejut. Sekian puluh tahun aku belum sowan membuat beliau pangling padaku. Istriku sempat mencubit pinggangku sambil mengatai-ngatai aku yang dianggap keterlaluan karena tidak pernah bersilaturrahmi ke sini.
“Saya Zaidun, Kiai. Zaidun yang dulu pernah tersungkur dalam got saat roan di pesantren ini,”
“Subhanallah, Zaidun, Zaidun! Maaf, saya benar-benar lupa dan hampir tidak bisa mengenalimu lagi,” kata Kiai Salim sambil menepuk-nepuk pundakku.
“Ngapunten, saya baru bisa bersilaturrahmi ke Panjenengan setelah hampir dua puluh lima tahun keluar dari pesantren ini.”
“Saya sangat mengerti karena menurut kabar kamu sekarang menjadi orang supersibuk.”
“Benar, Kiai. Mohon restu Penjenengan!”
Sebatang rokok beliau sulut. Tak berselang lama asap mengepul di ruang tamu. Memang sejak dulu beliau perokok berat. Selalu menyulut rokok baru lagi jika rokok di jepitan tangan habis.
Alhamdulillah meskipun beliau perokok berat dan tampak sepuh tapi beliau sehat wal afiyat. Gerakan-gerakannya sangat enerjik seperti tak pernah terjamah linu dan nyeri sendi. Perkiraanku beliau saat ini berusia 75 tahun-an.
Kiai Salim merupakan sosok kiai karismatik. Beliau dihormati dan disegani oleh masyarakat. Selain alim, ahli fiqih, nahwu, dan tasawwuf beliau juga punya keistimewaan. Beliau menjadi rujukan orang-orang yang mempunyai permasalahan kesehatan. Beliau mampu mengobati orang-orang itu dengan air suwuk. Cerita orang-orang suwuk Kiai Salim mujarab sekali.
Sambil menikmati suasana santai, aku mulai menyampaikan permasalah yang sedang terjadi pada anakku yang ketiga. Aku mulai menceritakannya dengan runtut dari awal hingga akhir.
“O, begitu. Intinya sampean ini sedang sariat mencarikan obat buat anak?”
“Batul sekali, Kiai,” jawabku tegas.
“Semua orang yang hidup pasti pernah merasakan kelainan pada tubuhnya. Kelainan itu yang kemudian disebut sakit. Sakit itu dari Allah dan yang menyembuhkan juga Allah. Jangan sampai salah niat dengan tujuan sampean ke sini agar anak sembuh. Atau sampean beranggapan saya bisa menyembuhkan sakit anak sampean. Itu merusak aqidah namanya. Paham yang saya sampaikan ini,” pesan Kiai Salim
“Paham, Kiai.”
Pesan-pesan seperti selalu beliau sampaikan kepada semua orang yang datang ke beliau. Hal ini sangat penting untuk membentengi aqidah mereka. Sesekali beliau juga sering berpesan agar kita selalu waspada dan hati-hati menjalani hidup.
“Setiap ada gunung pasti ada jurang. Biasanya manusia hanya senang berdiri di atas gunung saja tanpa memikirkan ada jurang di bawahnya. Saat manusia berada di puncak gunung biasanya melalaikan jurang. Akibatnya mereka tergelincir dan masuk ke jurang. Artinya, manusia yang hidup serba berkecukupan mestinya harus lebih berhati-hati. Sekali tergelincir akan semakin sengsara,” imbuhnya.
Aku dan istri merenung dan menunduk. Makna tersirat dari wejangan beliau sangatlah dalam. Aku tak bisa berkomentar apa-apa kecuali menghayati pesan itu. Aku hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala atas nasihat yang beliau sampaikan.
“Tunggu sebentar, ya,” pamit beliau ke kamar.
Suasana ruang tamu hening. Aku dan istri larut dalam nasihat-nasihat yang beliau berikan. Kata-kata itu menusuk telinga dan menghujam tajam ke dalam lubuk hati terdalam. Jiwaku meraba-raba dan membuka seluruh isi rekam jejak perbuatan yang pernah kulakukan selama ini. Kelopak mata istri kulihat sejenak berkaca-kaca.
Dia merasakan dan menghayati nasihat Kiai Salim. Dia seakan terguncang jiwanya. Jemarinya merajut di jemariku mengajak untuk menjalani hidup agar lebih berhati-hati. Aku merangkulnya sebagai tanda restu dan setuju melanjutkan pelayaran untuk menyeberangi samudera kehidupan lebih berhati-hati.
“Maaf, agak lama,” suara Kiai Salim dengan tiba-tiba. Beliau keluar kamar sambil menyodorkan air suci kepadaku yang terbungkus kantong plastik. Air yang sudah diberi doa-doa oleh beliau. Aku menerimanya dengan penuh harap semoga anak ketigaku disembuhkan oleh Allah ta’ala.
“Bagaima cara mengobatinya, Kiai?” tanyaku.
“Minumkan air ini kepada anakmu. Boleh dicampur dengan air biasa. Usahakan ketika memberi minum, baca basmalah. Setelah minum tunggu reaksinya dua atau lima menit. Setelah itu, tanya keluhan yang sebelumnya dirasakan. Tetap yakinlah bahwa Allah yang menyembuhkan penyakit anakmu, bukan air ini,” kata Kiai Salim.
“Baik, Kiai. Akan kami lakukan. Kami pamit dulu. Mohon maaf dan terima kasih atas nasihat dan obat Kiai,” kataku meminta izin kembali ke rumah.
Sesampai di rumah aku melihat anak ketigaku bermain-main dengan temannya di teras rumah. Mereka bermain bongkar pasang dan menyusun balok menjadi bentuk bangunan. Istriku menyembunyikan air suci dalam tasnya. Jangan sampai anak ketigaku melihatnya.
“Ibu, minta minum!” pinta sang anak.
Istriku segera mengambilkan segelas air minum yang sudah dicampuri dengan air suci penuh doa dari Kiai Salim.
“Ini, Nak,” ucap istriku sembari membaca basmalah dengan harap semoga Allah memberi kesembuhan buatnya.
“Air apa ini, Bu? Rasanya tidak enak. Panas sekali, Bu,” keluhnya sambil menyemprotkan air yang sedikit masih tersisa dalam mulutnya.
“Itu air yang biasa kamu minum, Nak. Mungkin mulutmu saja yang baru mengunyah permen.
“Tidak mungkin, Bu. Air ini rasanya sangat berbeda. Ibu, Ibu. Punggunggku.”
“Kenapa punggungmu?”
“Rasa nyerinya hilang. Tidak terasa sakit lagi. Punggungku sembuh, Bu,” ucapnya dengan girang.
“Alhamdulillah, ya, Allah. Terima kasih, Engkau telah menyembuhkan penyakit anakku,” kata istriku yang dilanjut dengan sujud Syukur.
Rasa syukur dan haru menyelimuti keluargaku. Hari itu terasa penuh bunga beraneka aroma. Berkali-kali kami tersenyum bahagia dan saling pandang bersama istri atas karunia Allah yang dilimpahkan kepada kami sekeluarga terutama dengan kesembuhan anak ketigaku.
Sore datang mengantar hari di penghujung siang. Sesaat kemudian bayang-bayang malam serupa siluet kehidupan membawa kami sekeluarga dalam rasa kebahagiaan. Syukur kami kepada Allah.
Anakku sembuh. Punggungnya normal. Dia tak rikuh lagi membenahi pakaian yang dikenakan untuk menutupi kelainan tulang di punggungnya. (*)
Wanar, 1 Januari 2026
Editor : Yuan Edo Ramadhana