RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Hidup sebagai pekerja seni di Bojonegoro masih penuh tantangan. Minimnya apresiasi hingga imbas akulturasi kesenian yang tidak tepat menjadi keluhan para seniman.
Seni masih dipandang sebatas hiburan semata. Belum menjadi bagian penting dari kehidupan sosial budaya. Salah satu penari muda asal Kelurahan Banjarejo, Bojonegoro, Jamalludin Munthoha mengatakan, pekerja seni di Bojonegoro masih kurang diperhatikan.
Seni hanya dianggap sebatas hiburan dan tidak banyak yang mengapresiasi. Termasuk seniman tari, jika ingin diperhatikan, maka harus mencari konsep yang sangat bagus. ’’Di Bojonegoro minim banget apresiasinya. Banyak juga seniman yang sampai ke luar kota,” terangnya.
Kurangnya apresiasi tersebut dirasakan sendiri oleh Jamal, dengan prestasi yang sukses meraih Juara 1 di Pemilihan Putra Putri Tari Jawa Timur. Ia belum mendapat apresiasi atas kerja keras dan bakat luar biasa yang dimiliki dalam dunia seni ini.
Menurutnya, di Bojonegoro ini tidak semua paham terkait seni. Sehingga, untuk menjadikan seni sebagai tujuan bekerja, masih sulit. Terlebih, jika hanya terpaku di tingkat lokal Bojonegoro saja.
’’Saya yakin, karya kita sulit laku. Karena orang di sini, tidak memungkiri, cepat bosan dan kurang tertarik dengan hal-hal yang kurang gong,” katanya.
Di sisi lain, ia melanjutkan, pekerja seni lebih terdukung di era modern seperti saat ini. Adanya era digital, para seniman bisa semakin luas mengeksplor diri. Juga, bisa membagikan karyanya kepada masyarakat lebih luas dalam jaringan.
’’Dari dinas-dinas juga mulai menggandeng seniman untuk bekerjasama dalam event-event seni yang ada di Bojonegoro,” terangnya.
Terpisah, Krisna Julinanta pemilik grup jaranan Admojo Putro menyampaikan, kesenian jaranan berkembang saat ini. Baik dari segi regenerasi pemain hingga job dari masyarakat. Di Bojonegoro juga banyak dijumpai komunitas atau grup-grup jaranan.
Namun, sangat disayangkan, pertunjukan jaranan sering dijadikan sebagai ajang tawuran. Beberapa penyebabnya, banyak grup jaranan yang menggabungkan dangdut di dalamnya. Membuat penonton turut berjoget di area pertunjukan jaranan.
Sehingga, memunculkan gesekan antara penonton yang menjadi tawuran. Banyak dijumpai kasus-kasus seperti itu. Sehingga, berdampak pada job jaranan itu sendiri.
’’Membuat sulit mendapat job malam hari. Kadang pentasnya dialihkan di siang hari, di mana para pemain terkadang masih sekolah. Bahkan, karena kesulitan izin, terkadang orangnya tidak jadi ngejob,” terangnya.
Menurutnya, meski terkendala kesulitan tersebut. Namun, apresiasi masyarakat terhadap kesenian jaranan masih tinggi, dibanding dengan kesenian lainnya. ’’Bisa dilihat ketika ada pementasan, banyak penonton dari berbagai usia. Efeknya juga dirasakan para UMKM,” pungkasnya. (ewi/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana