Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Kakak-Adik Asal Belanda Cari Jejak Leluhur di Blora, Potensi Wisata yang Perlu Digarap

M. Lukman Hakim • Sabtu, 6 September 2025 | 20:29 WIB
CARI LELUHUR: Kakak beradik Edward Geus dan Esther Geus saat berkunjung di Blora hendak mencari jejak leluhurnya.
CARI LELUHUR: Kakak beradik Edward Geus dan Esther Geus saat berkunjung di Blora hendak mencari jejak leluhurnya.

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Edward Geus dan Esther Geus, menaruh harap jejak leluhurnya di Blora terungkap. 

Kakak beradik asal Belanda itu rela menghabiskan waktunya untuk mencari serpihan data kakek-neneknya yang dahulu bekerja di jawatan Kehutanan di Blora. Keduanya datang di Blora bukan sekadar wisata, melainkan menelusuri akar keluarga yang diyakini berawal dari Blora.

Edward mengaku memperoleh secuil informasi dari orang tuanya, Marry Evers. Bahwa nenek buyutnya, bernama Mbah Karsi, merupakan warga pribumi Blora yang menikah dengan seorang pria Belanda bernama John Evers (kakeknya).

’’Orang tua tidak banyak bercerita tentang Blora, sehingga kami datang ke sini dengan harapan bisa menemukan petunjuk, bahkan mungkin keluarga yang masih tersisa,” ungkap Edward.

Dalam pencariannya, Edward dan Esther menaruh perhatian besar pada sejarah Kampung Petak Kunden, saat ini menjadi Kelurahan Kunden di Kecamatan Kota. Nama Mbah Karsi serta ayahnya, Karso, menjadi kunci utama pencarian.

Selain itu, keduanya juga menggali informasi seputar pekerjaan leluhur yang pernah berkaitan dengan Perhutani Jati Blora dan sejarah perkebunan tembakau, komoditas penting Blora pada masa kolonial, sekitar abad ke 19 awal.

’’Kami sangat senang berada di Blora. Orang-orangnya ramah sekali. Kami berharap bisa menemukan apa yang kami cari, sekaligus merasakan kembali akar keluarga kami,” ungkapnya.

Edward dan Esther pun berharap ada warga maupun sejarawan lokal yang bisa membantu mereka menemukan silsilah keluarga yang belum ditemukan. ’’Misi kami ini bukan hanya soal nama dan silsilah, tapi juga cara kami mengobati kerinduan dan menyambung kembali ikatan keluarga yang sudah lama terputus,” bebernya.

EDUKASI: Komunitas Walking Tour Cepu mengeksplorasi lokasi-lokasi bersejarah, seperti rumah berarsitektur Belanda.
EDUKASI: Komunitas Walking Tour Cepu mengeksplorasi lokasi-lokasi bersejarah, seperti rumah berarsitektur Belanda.

Sebelumnya, pada akhir Juli lalu, rombongan warga Belanda lainnya juga berkunjung ke Blora, untuk mencari jejak keluarga. Saat itu, ditemui Bupati Arief Rohman dan jajarannya, beberapa informasi yang didapat bahwa leluhurnya merupakan seorang dokter yang bertugas di Rumah Sakit Blora pada 1940-an.

Ketua Dewan Kebudayaan Daerah Blora, Dalhar Muhammadun mengatakan, pencarian jejak leluhur warga Belanda di Blora itu dilakukan Agustus hingga awal September ini. Kedatangan warga belanda yang mencari serpihan sejarah juga terjadi pada Akhir Juli lalu, tercatat ada dua rombongan.

’’Untuk yang sebelumnya penelusurannya masih tergolong mudah karena dokter di rumah sakit, untuk yang baru ini perlu waktu,” katanya.

Madun membenarkan, beberapa informasi yang dibawa warga Belanda tersebut selaras dengan kondisi pada saat itu. Wilayah Blora sekitar pertengahan abad 19, jati dan minyak bumi jadi komoditas yang menarik belanda untuk datang.

’’Sebelum minyak, sebenarnya komoditas jati maupun perkebunan termasuk tembakau diminati oleh pengusaha internasional (Belanda),” katanya.

Dirinya melihat, dengan kedatangan warga Belanda yang mencari leluhurnya, potensial dikembangkan pariwisata sektor bangunan-bangunan Belanda yang masih tersisa. Namun, menurutnya wisata yang tidak hanya berbasis rekreasi namun juga informasi.

’’Kalau untuk wisata edukasi memungkinkan, wisata rekreatif kayaknya masih relatif agak berat,” katanya.

Pihaknya melihat, baru-baru ini terdapat komunitas yang mengajar wisata keliling bangunanbangunan Belanda yang berada di Cepu. Hal tersebut perlu mendapat dukungan untuk terus dikembangkan.

Terlebih bisa menarik wisatawan luar negeri terutama dari warga Belanda yang leluhurnya pernah menjajaki wilayah Blora. ’’Inisiatif yang sangat bagus dan memang dalam konteks banyaknya bangunan kuno tentu saja cepu memiliki potensi yang lebih besar, karena faktanya memang pusat ekonomi di Cepu, setelah eksploitasi minyak sudah mulai berjalan,” katanya. (luk/bgs)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#pribumi #Arief Rohman #Ikatan keluarga #buyut #informasi #kolonial #Kunden #Wisata #leluhur #belanda #cepu #pekerjaan #kehutanan #kebudayaan #pencarian #silsilah keluarga #tembakau #keluarga #blora