Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Begini Asal-Usul Lomba Balap Karung, Bentuk Syukur dalam Perayaan Hari Kemerdekaan RI

Yuan Edo Ramadhana • Jumat, 8 Agustus 2025 | 01:43 WIB
(Dok. Pemerintah Kota Palangka Raya)
(Dok. Pemerintah Kota Palangka Raya)

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Banyak perlombaan yang sering tersaji dalam kegiatan perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia setiap tahunnya. Salah satu yang masih menjadi tontonan utama adalah balap karung.

Selain seru, balap karung juga relatif mudah untuk dipersiapkan dan digelar. Hanya bermodal karung goni dan penanda start dan finish, masyarakat sudah dapat saling beradu atau menonton perlombaan ini.

Ternyata balap karung, dan pilihan karung goni untuk kegiatan balapan punya sejarah tersendiri. Setidaknya ada dua versi asal-usul yang diterima oleh masyarakat di Indonesia, namun masih berkaitan satu sama lain.

Banyak negara-negara Eropa yang menjadikan balap karung sebagai permainan tradisional khas mereka, termasuk Belanda, yang menyebutnya zaklopen. Karung goni dan semacamnya biasa digunakan untuk menampung kentang dan gandum yang dipanen oleh para petani Belanda.

Di Belanda, balap karung biasanya diselenggarakan untuk merayakan ulang tahun raja atau ratu Belanda. Bahkan hingga sekarang, balap karung masih populer di Belanda sebagai permainan tradisional anak dan remaja.

Menurut The Nusantara Bulletin, tradisi balap karung, beserta berbagai perayaan khas kemerdekaan seperti panjat pinang dan lomba makan kerupuk diselenggarakan pertama kali sekitar 1910-an untuk merayakan ulang tahun Ratu Wilhelmina, yang jatuh setiap tanggal 31 Agustus.

Tidak jelas kapan tiradisi ini dimulai, namun salah satu perayaan yang paling pertama terekam sejarah terjadi pada tahun 1911, ketika perayaan digelar di Garut, serta pada 1917, dengan perayaan dilaksanakan di Palembang.  Lambat laun, masyarakat Indonesia mulai terbiasa mengikuti perayaan tersebut, dan akhirnya mengadopsi lomba-lomba tersebut untuk merayakan kemerdekaan Indonesia.

Karung goni juga identik dengan masa penjajahan Jepang, yang tiba setelah Belanda pada tahun 1942. Alkisah, Jepang merampas banyak barang dan kebutuhan masyarakat pribumi, termasuk kain, sehingga mereka hanya dapat mengenakan pakaian dari karung goni.

Karung goni yang berlebih atau tidak dipakai dimanfaatkan sebagai sarana hiburan masyarakat, sebagaimana pada zaman Belanda dahulu. Tradisi penggunaan karung goni sebagai hiburan masih bertahan usai Indonesia memerdekakan diri dari Belanda dan Jepang.

Berkaca dari sejarah masa penjajahan, balap karung dipandang tidak hanya sekedar sebagai hiburan semata. Balap karung juga sering dimaknai sebagai simbol perjuangan masyarakat untuk membebaskan diri dan mencapai kemerdekaan. Selain itu, penggunaan karung goni juga dimaknai sebagai simbol kesederhanaan dalam hidup. (edo)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Penjajahan #Karung goni #indonesia #hari kemerdekaan #balap karung #permainan tradisional #belanda #kemerdekaan indonesia #karung #lomba hari kemerdekaan #perayaan hari kemerdekaan #jepang #kemerdekaan #permainan #perlombaan