Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Lembar Budaya: Senandung Suro di Sendang Wangi

Yuan Edo Ramadhana • Sabtu, 5 Juli 2025 | 21:28 WIB
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

 

Oleh:
SLAMET WIDODO
Guru MTs Negeri 3 Bojonegoro

Dusun Laraswangi masih menyimpan desau mitos yang tak lekang oleh waktu. Di ujung dusun, tepatnya di Lor-etan (timur laut), tersembunyi Sendang Wangi—mata air bening di bawah pohon pule tua yang menjulang tanpa sombong. Daun-daunnya bergerak pelan tertiup angin malam, seolah menjadi satusatunya suara yang diperkenankan bersenandung di bawah langit Suro.

Dulu, sendang ini adalah sumber kehidupan utama warga Laraswangi. Airnya tak pernah surut, bahkan saat kemarau berkepanjangan. Namun seiring bergesernya zaman, perlahan sendang itu mulai dilupakan. Meski begitu, bagi para sesepuh dan keturunan leluhur, Sendang Wangi tetap dianggap suci— penjaga harmoni antara alam, manusia, dan takdir.

Sendang Wangi dipercaya sebagai pusaka leluhur. Airnya bening, dan tiap malam Satu Suro,menguar aroma samar seperti bunga kenanga yang baru mekar. Saat itulah dipercaya, alam menyingkap tabirnya.

Warga percaya, sendang itu hanya akan tetap penuh airnya bila dijaga oleh seorang“perempuan suci” yang terpilih oleh alam. Ia tidak boleh sembarangan bicara, tidak boleh terikat duniawi— apalagi cinta.

Tiap malam Satu Suro, perempuan itu harus menjalani nyadran banyu—tirakat dalam hening: tanpa suara, tanpa keluh. Dan ketika nyadran itu selesai, pertanda bahwa tugasnya telah usai.

Ia akan digantikan oleh perempuan suci berikutnya. Seperti air yang terus mengalir, penjaga sendang pun berganti, namun tak boleh berhenti.

*

Baca Juga: Lembar Budaya: Teman Sebangku

Di balik pohon pule yang menaungi sendang, tinggal seorang sepuh yang setia merawatnya: Mbah Rayi. Rumahnya sederhana, berdinding gedhek, berdiri menghadap langsung ke arah air sendang. Meski usianya telah melampaui tujuh dasawarsa, tubuhnya masih tegap, dan sorot matanya tajam, menyimpan daya yang sulit dijelaskan dengan nalar.

Ia dikenal sebagai juru kunci dan perawat Sendang Wangi, satu-satunya yang masih menjalani laku leluhur dengan ketekunan penuh.

Mbah Rayi adalah adik kandung Mbah Joyo, tokoh sepuh yang pernah memimpin adat Laraswangi di masa lampau. Berbeda dengan kakaknya yang banyak bicara dan tampil di muka umum, Mbah Rayi lebih senyap. Ia tak banyak berkata-kata, namun bila membuka suara, tutur katanya lirih dan dalam, seolah berasal dari tempat yang lebih sunyi daripada malam itu sendiri.

“Sendang iki ora mung banyu,” ucapnya suatu malam, kepada Nayla yang duduk menemaninya menanak air di pawon tua. “Iki panggonan janji. Sapa sing gelem dijerani janji, kudu wani nglakoni laku. Ora setengah ati." 

Rambutnya memutih semua, digelung rapi. Ia selalu memakai kain lurik tua dan kain udeng hitam polos. Wajahnya lembut tapi tak gampang dibaca. Ia tahu kapan harus diam, kapan harus menunduk, dan kapan  harus menghadap langit.

Bagi warga Laraswangi, Mbah Rayi bukan sekadar penjaga sendang, tapi penjaga batas antara yang kasat mata dan yang gaib, antara laku dunia dan tanda-tanda langit. Ia tak pernah menyebut dirinya “orang pintar”, tapi banyak orang datang diam-diam, meminta petunjuk lewat air sendang yang dirawatnya.

Tak ada yang tahu bagaimana Mbah Rayi tahu siapa yang akan ditunjuk sebagai “perempuan suci” selanjutnya. Ia hanya akan berkata, “Alam yang memilih, aku hanya mendengar bisiknya lewat angin malam dan cahaya kenanga.”

*

Nayla Ayu Larasati, putri tunggal Pak Sarjo, menjadi gadis yang paling banyak dibicarakanwarga Laraswangi setahun belakangan ini. Ia dikenal pendiam, lembut, dan menundukkan pandang bila bicara dengan orang tua. Sejak usianya genap sembilan belas tahun, ia ditunjuk sebagai perempuan suci penjaga Sendang Wangi— gelar yang hanya diberikan kepada satu anak perempuan dalam satu generasi.

Pak Sarjo, ayahnya, adalah seorang petani tua yang dikenal rajin, jujur, dan setia pada adat. Sejak kecil, Nayla dibesarkan dalam laku prihatin. Ia tak diizinkan keluar malam, tak pernah ikut remaja tangguh dusun, dan tak sekalipun diizinkan bersolek berlebihan. Semua demi satu harapan: agar anak semata wayangnya menjadi layak dipilih alam.

“Kowe ngerti, Nduk, kenapa sendang milihmu?” tanya Mbah Rayi pada suatu sore, saat keduanya duduk di batu pipih dekat sendang, di bawah teduhnya pule yang tak pernah menua.

Nayla menunduk pelan, jemarinya menyentuh permukaan air. “Kulo mboten saged mangsuli, Mbah... Mungkin niki dalanipun  Gusti...”

Mbah Rayi tersenyum tipis, tatapannya seperti menembus ke tahun-tahun yang telah lewat.

“Alam milihmu, Nduk, bukan sembarangan. Siji, kowe anak tunggal. Ora ana gantine.

Wong tuwamu wis nyepakake sliramu saka cilik—karo atimu, karo uripmu. Kuwi wis dandan saka wetune. Dandan batin.”

Nayla masih terdiam. Di hatinya ada sesuatu yang bergetar—bukan karena bangga, tapi karena beban. Ia tahu, gelar perempuan suci bukan kehormatan semata, melainkan juga larangan cinta hingga usianya genap dua puluh tahun. Larangan yang sudah menjadi janji bersama antara keluarganya dan alam. Nayla mengangguk pelan, meski air di matanya mulai menghangat.

*

Baca Juga: Lembar Budaya: Kembar Mayang

Sore itu, awal bulan Besar. Langit kelabu menggantung, dan Mbah Rayi tampak gelisah. Ia duduk bersila di tepi Sendang Wangi, menatap nanar air yang mulai menyurut.

Ia paham betul tabiat sendang. Bila airnya bergeser, meski sejengkal, pasti ada yang tak seimbang. Ia menunduk hening, seolah berdialog dengan yang tak kasat mata—penjaga takdir yang menyatu dalam getah pule dan bisu air.

Di waktu yang sama, Nayla Ayu Larasati, penjaga sendang yang tengah menjalani tirakat terakhirnya, dihantui desir rasa yang tak seharusnya singgah. Sejak mengenal Kang Santri, hatinya tak lagi setenang air sendang.

Lelaki itu datang atas amanah kiainya, mengabdi di Laraswangi sejak Ramadhan. Di pengajian malam-malam itu, benih cinta tumbuh— halus, sunyi, tak terdengar. Tapi Nayla tahu: cinta sebelum purna tugas adalah pantangan bagi perempuan suci penjaga sendang.

Mbah Rayi tahu. Namun ia tak murka. Hanya berkata lirih: “Sing dipilih alam, ora mung kudu kuat, tapi kudu wani ngadhepi rasa sing ora bisa dikendhaleni karo akal.”

Sebagai penebus, Nayla harus menjalani tirakat sunyi tiga malam berturut. Duduk sendiri ditepi sendang, berteman kabut, angin, dan ayat-ayat langit.

Malam ketiga, Kang Santri datang. Bukan untuk melipur, tapi membimbing. Ia duduk di sisi sendang, membacakan wirid dan doa. Tak menatap Nayla, tak menyentuh. Tapi cukup untuk menguatkan hati gadis itu—bahwa cinta tak selalu dimiliki, dan kadang cinta yang paling suci… adalah cinta yang berani merelakan

*

Malam Satu Suro, para sepuh Laraswangi berbondong-bondong menuju Sendang Wangi, membawa pusaka-pusaka leluhur—keris, tombak, hingga besi kuno peninggalan masa silam.

Mereka datang untuk mengikuti jamasan, ritual penyucian yang hanya dilakukan setahun sekali.

Mbah Rayi tampil khidmat dalam jarit lurik, baju hitam-coklat, dan udheng legam yang melilit kepala. Jemarinya dihiasi cincin kecubung, dan tongkat kayu berbentuk ular tergenggam erat—lambang penjaga warisan alam. Langkahnya lambat, namun terasa menembus keheningan.

Di tepi sendang, Nayla Ayu Larasati tampak anggun dalam jarit motif parang dan kebaya senada. Rambutnya tersanggul rapi, tangannya menggenggam bokor kembang setaman. Ia duduk bersila, menghadap barat, merapal doa-doa sebagaimana laku yang diwariskan Mbah Rayi.

Pelataran sendang hanya diterangi obor dan aroma dupa lidi. Tak ada listrik— malam itu milik cahaya alam dan suara batin. Di bawah pule tua, para sesepuh duduk melingkar di atas tikar pandan. Suasana sunyi. Lalu, Mbah Rayi memimpin doa dalam bahasa leluhur.

Baca Juga: Lembar Budaya: Nyadran

Tepat tengah malam, gamelan ditabuh pelan. Dari sudut sendang, seorang sinden melantunkan kidung:

Ratri sunyaruri, wengi kang sepi Anglangkahi pepati, tanpa lirih swara Kahanan kang ngrame, atiku kasuwung Tanpa daya lan upaya, nanging atiku tansah eling....

Setelah kidung usai, pusaka-pusaka dijamas dengan air sendang yang disakralkan. Sebagai penutup, para penjaga dan sesepuh menjalani mandi jamasan—membasuh diri sebagai lambang pembersihan lahir dan batin.

Di saat sunyi mencapai puncaknya, Nayla membuka mata. Air sendang menyentuh ujung kakinya. Kang Santri diam-diam menunduk. Tak ada kata yang terucap. Tapi malam tahu, doa mereka telah sampai ke langit. (*)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#mitos #Perempuan #mata air #Pusaka #juru kunci #penjaga #Sendang Wangi #malam satu suro