Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Lembar Budaya: Teman Sebangku

Yuan Edo Ramadhana • Sabtu, 28 Juni 2025 | 20:28 WIB
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

 

Oleh:
MEILLYA
Siswa SMK Negeri 1 Lamongan

 

Namanya Dita. Dia duduk sebangku denganku sejak semester pertama. Jujur, waktu pertama kali dia duduk di sebelahku, aku merasa sedikit kesal. Aku tipe anak yang kalem, suka duduk sendiri, dan terbiasa menikmati suasana kelas yang tenang. Tapi Dita? Dia berbeda.

Dia sangat ramai dan ceria, sampai-sampai aku merasa terganggu. Hari pertama dia duduk di sebelahku, dia langsung membuka percakapan dengan cara yang tak biasa.

"Eh, kamu suka es boba nggak?” tanyanya tiba-tiba, sambil menatapku penuh harap. Aku cuma mengangguk pelan, tidak terlalu yakin harus menjawab apa. Aku bukan tipe yang mudah diajak ngobrol, apalagi dengan anak baru yang tiba-tiba duduk di sebelah. “Besok kita beli bareng, ya!” katanya sambil tersenyum lebar.

Aku tahu itu bukan sekadar ajakan biasa. Dita memang tipe yang mudah bergaul dan percaya diri. Dia tidak takut untuk mendekati orang lain, bahkan orang yang pendiam seperti aku.

Hari-hari berikutnya, Dita tidak pernah berhenti mengajakku ngobrol. Setiap kali aku menjawab singkat dan pelan, dia tetap berusaha membuka pembicaraan baru. Dari hal-hal kecil seperti makanan favorit, film yang disukai, sampai hal-hal sepele seperti tugas sekolah.

Baca Juga: Lembar Budaya: Kembar Mayang

Aku mulai bertanya-tanya, kenapa dia tidak menyerah juga. Apa dia tidak capek menunggu jawaban dariku yang hampir selalu singkat dan datar?

Suatu hari, aku lupa membawa PR Matematika. Itu adalah PR yang cukup sulit, dan aku memang tidak mengerjakannya karena kurang paham soal-soal yang diberikan. Saat guru meminta siapa yang tidak membawa PR untuk berdiri, jantungku langsung berdegup kencang. Aku berdiri pelan, berharap tidak mendapat perhatian lebih.

Namun, tiba-tiba Dita berkata dengan lantang, “Bu, PR-ku aku bawa dua. Ini buat dia, aku bantuin kemarin,” Aku tercengang. Aku tahu itu bohong, tapi di saat yang sama aku juga merasa lega. Guru tidak jadi marah dan menyuruhku duduk. Aku merasa malu sekaligus terharu dengan sikap Dita.

Saat istirahat, aku memberanikan diri bertanya, “Kenapa kamu bohong? Kenapa kamu membela aku?”

Dita hanya tertawa cengar-cengir, “Bukan bohong, sih. Aku memang nulis dua PR itu. Buat jaga-jaga. Kamu tuh pelupa.”

Aku terdiam. Kali pertama seseorang peduli begitu dalam sampai mau berbohong demi aku. Aku lalu berkata dengan tulus, “Makasih.”

Sejak saat itu, aku mulai membuka diri. Aku tidak lagi menolak obrolan Dita. Kami jadi partner belajar, partner jajan, bahkan partner untuk nugas dadakan di perpustakaan. Hari-hari kami penuh dengan tawa dan cerita kecil  yang membuat suasana sekolah jadi lebih menyenangkan.

Dita yang dulu hanya teman sebangku, sekarang sudah menjadi bagian penting dalam hidupku. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Suatu pagi, Dita tidak masuk sekolah. 

Aku mencoba tidak terlalu peduli, mungkin dia sakit ringan. Tapi dua hari berlalu, tiga hari pun demikian.

Saat aku bertanya kepada teman-teman lain, mereka bilang Dita sedang demam biasa. Tapi kehadirannya yang selalu ceria dan menghibur di kelas sangat dirindukan. Satu minggu kemudian, wali kelas mengumumkan di depan kelas bahwa Dita harus pindah sekolah karena orang tuanya pindah kerja ke luar kota. Aku merasa seperti tersentak.

Bangku sebelahku tiba-tiba terasa kosong dan sunyi. Aku hanya bisa duduk diam, menatap kosong ke arah tempat duduk Dita yang kosong.

Keesokan harinya, aku membuka laci mejaku seperti biasa. Tiba-tiba ada selembar kertas yang dilipat kecil. Kertas itu berisi tulisan tangan Dita. “Ternyata, nyenengin orang pendiam seperti kamu lebih sulit daripada ujian Matematika. Tapi seru. Jangan berubah jadi batu lagi, ya. Nanti aku video call terus sampai kamu kesal.”

Aku tersenyum. Kali ini, senyuman itu bukan karena terpaksa atau sekadar basa-basi. Tapi benar-benar tulus, dari hati. Setelah Dita pindah, suasana di kelas menjadi berbeda. Bangku sebelahku kosong dan tidak ada yang mengisinya. Aku merasa kehilangan sesuatu yang tak bisa kujelaskan.

Saat jam istirahat, aku sering menatap ke arah bangku itu, berharap Dita tiba-tiba muncul dengan senyum lebarnya, mengajakku ngobrol seperti dulu. Namun, yang ada hanyalah sunyi dan sepi.

Baca Juga: Lembar Budaya: Nyadran

Aku mulai menyadari betapa pentingnya kehadiran Dita selama ini. Dia yang selalu sabar menghadapi keaku yang pendiam dan susah diajak bicara. Dia yang selalu berusaha membuatku merasa diterima dan tidak sendirian.

Kadang aku merasa bersalah karena selama ini aku terlalu tertutup dan tidak membalas kehangatan yang dia berikan. Tapi aku tahu, Dita tidak pernah berharap banyak. Dia hanya ingin menjadi teman, seseorang yang bisa kupercaya.

Aku ingat saat kami belajar bersama di perpustakaan. Dita yang selalu sabar menjelaskan soal matematika dengan cara yang mudah dimengerti. Dia yang selalu mengingatkan aku untuk tidak lupa membawa buku dan mengerjakan tugas.

Sekarang, aku harus belajar sendiri. Tapi aku merasa ada semangat baru dalam diriku. Semangat untuk tidak lagi menutup diri, untuk lebih terbuka dan berani berbagi dengan orang lain.

Hari-hari berlalu. Kami tetap berkomunikasi lewat video call seperti yang Dita janjikan. Awalnya, aku merasa agak canggung. Tapi lama-lama aku mulai menikmati momen itu.

Setiap malam sebelum tidur, aku menunggu pesan dari Dita yang selalu penuh dengan cerita lucu dan semangat. Dia bercerita tentang sekolah barunya, teman-teman baru, dan pengalaman baru yang dia alami.

Aku juga mulai bercerita tentang hari-hariku yang sederhana, tentang pelajaran yang aku sukai dan yang masih aku kesulitan. Walau jarak memisahkan kami, persahabatan kami tetap hangat dan hidup.

Suatu hari, Dita mengirim pesan video yang membuatku tersenyum sampai lebar. “Lihat nih, aku di depan sekolah baru. Tempatnya keren, kan? Tapi tetap nggak ada yang seru kayak kamu,” katanya sambil tertawa.

Aku membalas dengan berkata, “Aku juga kangen. Tapi aku janji, aku nggak akan berubah jadi batu lagi.”

Dita tertawa lagi dan berkata, “Itu baru sahabat sejati.”

Baca Juga: Lembar Budaya: Sajadah Ibu Dibawa Terbang Malaikat

Waktu terus berjalan. Aku merasa beruntung punya teman seperti Dita. Teman yang tidak hanya sebangku, tapi juga sahabat sejati.

Aku belajar banyak dari Dita. Bahwa kehangatan dan perhatian kecil bisa berarti banyak bagi seseorang yang sepi. Bahwa membuka diri itu penting, walau kadang terasa sulit.

Dan yang paling penting, aku belajar untuk berani menerima orang lain dan juga menerima diriku sendiri.

Sekarang, setiap kali aku melihat bangku kosong di sebelahku, aku tidak merasa sedih lagi. Aku tahu, di manapun Dita berada, persahabatan kami tetap hidup dan tak akan pernah pudar.

Aku pun siap membuka hati untuk teman-teman baru, dengan semangat yang sama seperti Dita dulu. Karena hidup ini akan lebih berarti jika kita tidak pernah takut untuk membuka diri dan menjalin persahabatan. (*)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#video call #cerpen #kisah #pindah sekolah #Cerita #Sekolah #teman #kelas