Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Lembar Budaya: Anak Ingin Membahagiakan Ibunya

Yuan Edo Ramadhana • Sabtu, 1 Februari 2025 | 22:00 WIB
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

 

Oleh:
FERDY ARDIANSYAH
Siswa Kelas XI Bisnis Digital-1

 

MENTARI pagi baru saja terbit, menyelimuti desa kecil di tepi pantai dengan sinar keemasannya. Udara pagi yang segar bercampur dengan aroma laut menciptakan suasana damai memayungi desa.

Di sebuah rumah kayu kecil yang berdiri di atas pasir putih, seorang pemuda bernama Hisam sedang duduk termenung di depan rumah. Rumah itu sederhana, hanya berisi perabot seadanya, tetapi penuh kenangan dan kehangatan yang ia jalani bersama ibunya, Bu Fatimah.

Hisam adalah seorang pemuda yang berusia 17 tahun. Dia anak tunggal dari Bu Fatimah. Sejak ayahnya meninggal lima tahun yang lalu karena penyakit stroke, Hisam tumbuh menjadi pemuda tangguh yang harus memikul tanggung jawab sebagai tulang punggung keluarga.

Meski hidup mereka penuh keterbatasan, Hisam menyimpan mimpi besar. Ia ingin mengubah nasib keluarganya, memberikan kehidupan yang lebih baik untuk ibunya, dan membalas semua pengorbanan yang telah dilakukan ibunya itu untuknya.

Setiap hari, kehidupan mereka di desa yang terpencil ini tidak mudah. Hisam harus membantu ibunya di ladang dan di laut. Mereka tinggal di rumah kayu yang sudah lapuk termakan usia. Air bersih hanya bisa didapat dari sumur tua yang jaraknya cukup jauh.

Meskipun begitu, Bu Fatimah selalu menunjukkan senyuman yang hangat setiap kali Hisam menatapnya.

“Kita masih punya Tuhan dan satu sama lain, Nak,” katanya seringkali.

Namun, Hisam merasa ada sesuatu yang lebih dalam yang ia inginkan untuk ibunya. Ia merasa kasihan melihat ibunya yang setiap hari terjaga memetik hasil laut atau bekerja di ladang.

Bu Fatimah selalu berkata bahwa ia bahagia karena bisa melihat anaknya tumbuh sehat dan kuat, tetapi Hisam tahu betul betapa kerasnya perjuangan ibunya.

Pada suatu malam, ketika Bu Fatimah sudah tertidur, Hisam duduk di luar rumah sambil menatap langit yang cerah. Dalam hati, ia bertanyatanya bagaimana caranya ia bisa memberikan kehidupan yang lebih baik bagi ibunya.

Dalam sekejap, sebuah keputusan besar pun terbersit dalam pikirannya ia harus pergi ke kota besar untuk mencari pekerjaan yang lebih baik.

Keesokan harinya, setelah makan pagi, Hisam berbicara dengan Bu Fatimah tentang niatnya untuk pergi ke kota. Bu Fatimah terdiam sejenak. Ia merasakan gelisah di hati, tetapi ia tahu bahwa anaknya perlu mewujudkan mimpinya.

“Bu, aku ingin pergi ke kota,” kata Hisam, matanya penuh tekad, “Aku akan bekerja keras di sana, dan aku berjanji, aku akan mengirimkan uang untuk ibu. Kita bisa hidup lebih baik.”

Mata Bu Fatimah berkaca-kaca setelah mendengar tekad anaknya “Hisam, kau tahu. Ibu hanya punya kau sekarang. Kalau kau pergi, siapa yang akan menemani Ibu? Kau adalah segalanya bagi Ibu.” Kata Bu Fatimah.

Hisam menatap mata ibunya dengan penuh rasa bersalah, namun ia tahu bahwa untuk mencapai mimpinya, ia harus mengambil langkah besar ini.

“Aku harus pergi, Bu. Jika aku tidak pergi, aku tidak akan pernah bisa memberikan hidup yang lebih baik untuk kita,” kata Hisam dengan suara pelan.

Dengan berat hati, Bu Fatimah akhirnya merelakan kepergian anak semata wayangnya. Ia memberikan pelukan erat kepada Hisam, mengingatkan agar anaknya tetap menjaga diri dan tidak melupakan asal-usulnya.

Begitu tiba di kota, Hisam segera merasakan betapa kerasnya dunia ini. Kota yang ramai dengan kendaraan dan gedung pencakar langit ini sangat berbeda dengan desa kecil tempat ia dibesarkan.

Hisam berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Dia menawarkan tenaganya sebagai buruh kasar. Namun, hampir setiap pintu yang diketuk, ia mendapat penolakan. Tidak ada yang mau menerimanya tanpa pengalaman atau pendidikan yang memadai.

Hari-hari berlalu. Hisam mulai merasa semakin terasing di kota. Tabungannya semakin menipis. Setiap malam ia tidur di pojok jalan atau di tempat sewaan yang murah.

Sesekali ia menghubungi ibunya lewat telepon untuk memberi kabar, meski ia tidak ingin ibu tahu betapa sulitnya ia di kota besar ini. Ia tahu Bu Fatimah tidak akan tidur nyenyak jika mendengar kesulitan yang ia alami.

Suatu hari, setelah beberapa minggu mencari pekerjaan, Hisam akhirnya mendapatkan pekerjaan sebagai kuli angkut di pasar ikan. Pekerjaan ini memang berat dan upahnya tidak besar. Namun bagi Hisam, itu adalah langkah pertama menuju impian yang lebih besar.

Hari-harinya penuh dengan angkut-mengangkut kotak ikan yang berat. Ia mulai belajar tentang bisnis ikan, bagaimana memilih ikan yang segar, berkomunikasi dengan para pedagang, dan mengenal pelanggan setia yang membeli setiap pagi. Ia bekerja keras, berharap bisa menabung untuk masa depan yang lebih baik.

Namun, semakin lama, semakin banyak kuli yang merasa tersaingi oleh semangat dan kecepatan Hisam. Mereka merasa bahwa Hisam merusak pasar dengan kejujuran dan kerja kerasnya.

Salah satunya adalah Arya, seorang kuli yang dikenal licik dan sering bermain curang untuk mendapatkan uang lebih. Ia merasa terancam oleh semangat Hisam yang mulai mendapatkan perhatian dari para pedagang ikan.

Pada suatu hari, Arya memfitnah Hisam mencuri uang dari salah satu pedagang. Karena kebohongan ini, Hisam dipecat dari pekerjaan. Dia cemas karena kebangkrutan akan menghampirinya.

Hisam merasa hancur. Ia kembali ke kamar kontrakannya yang sempit, menatap buku catatan kecil yang berisi mimpinya. Ia bertanya pada dirinya sendiri, apakah ia harus menyerah?

Meskipun perasaan kecewa dan marah memenuhi hatinya, Hisam ingat pesan ibunya yang selalu menanamkan keyakinan untuk tidak pernah berhenti berusaha. Ia tidak boleh membiarkan fitnah dan kesulitan menghentikan langkahnya.

Hisam memutuskan untuk menggunakan sisa uangnya untuk membeli beberapa kilogram ikan segar dari pelabuhan Ia mulai menjualnya secara langsung kepada penduduk di sekitar kota.

Dengan bersepeda tua, Hisam keliling dari kampung ke kampung, menawarkan ikan yang segar dengan harga yang wajar. Pelan-pelan, usahanya mulai berkembang. Tidak hanya penduduk setempat, beberapa restoran kecil mulai tertarik membeli ikan darinya secara rutin.

Kejujuran dan kerja keras Hisam akhirnya mulai dihargai. Beberapa bulan kemudian, usaha Hisam semakin berkembang.

Ia berhasil menyewa sebuah kios kecil di pasar yang lebih besar. Ia bekerja sama dengan para nelayan dari desanya untuk memasok ikan segar setiap hari. Dari keuntungan yang diperoleh, Hisam bisa mengirimkan sebagian besar penghasilannya untuk ibunya di desa.

Suatu pagi yang cerah, Hisam merasa sangat bahagia. Setelah bertahun-tahun bekerja keras, akhirnya ia berhasil membeli rumah baru di desa untuk ibunya.

Rumah itu berhalaman luas dengan perabotan yang nyaman. Hisam ingin memastikan ibunya bisa hidup tenang tanpa harus bekerja keras lagi.

Ketika Hisam pulang ke desa dengan kabar bahagia. Bu Fatimah tidak bisa menahan air matanya. Rumah baru itu adalah simbol dari semua pengorbanan, doa, dan usaha Hisam yang tak kenal lelah. Bu Fatimah memeluk Hisam dengan penuh rasa syukur.

“Ibu, ini semua berkat doa dan dukungan Ibu,” kata Hisam, sambil tersenyum bahagia.

Kini, Hisam tidak hanya berhasil mengubah nasib keluarganya, tetapi ia juga menjadi inspirasi bagi banyak orang di desanya. Ia membuktikan bahwa meskipun hidup penuh dengan rintangan, cinta, kerja keras, dan kejujuran selalu membawa kebahagiaan sejati. (*)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#pasar #cerpen #tulang punggung keluarga #kisah #pedagang ikan #hidup #pekerjaan #pemuda #ibu #ikan #buruh kasar #kuli #Ladang #laut #Cerita #nelayan #inspirasi #kota #Bisnis Ikan #Pedagang