Oleh:
Rama Firmansyah
Saya arungi jejalanan Ngambon seraya melihat nama-nama warung dan kafenya. Baru 2 bulan sejak terakhir kali saya kemari, tetapi satu-dua nama dapat saya pastikan berganti. Sampai akhirnya tibalah saya ke kafe anyaran yang Ella maksud, yang telak sekali lelampu neonnya baru dipasang. Luar dalamnya memang terasa seperti di film-film Hongkong, dan Ella melambaikan tangannya sambil menepuki meja dengan tangan yang lain.
Waitress tentu menangkap tepukan Ella yang berirama itu. Sebuah kode agar mereka menyajikan menu-menu terbaik tanpa dipesan dulu. Sambil menyantap tiram dan kol, saya bertanya mengapa Ella mau repot-repot memesan semua ini untuk saya padahal tarif yang saya pasang untuk mempengacarainya lebih njulang dari kasus-kasus saya yang lain lantaran saya perlu persiapan lebih melawan Qohar.
“Ya justru karena engkau melawan Qohar itu” kata Ella sembari menyelentik kuku saya, “…kau ngecat kuku bagus-bagus gini padahal sudah kubilang makanannya bakal belepotan, ‘kan? Kalau kata Kristeva yang macam kau ini punya imunitas dengan abjeksi, tak sok jijik dan hipokrit, dan begitulah kuberi kepercayaan lebih padamu, Aisyah.”
Saya tertawa. Saya katakan pada Ella bahwa sebaiknya ia tidak terlalu berharap banyak. Saya lalu mengingatkannya perihal kala pertama kali kami saling kenal di depan Patung Soejitno.
Waktu itu saya baru saja kalah kasus, sekaligus dihunjam oleh mens saya yang telat. Saya marah-marah sendiri di depan patung Soejitno, dan sebe’lum orang-orang sempat memviralkan saya, tiba-tiba Ella yang berada di lokasi tersebut ikut marah-marah bersama saya. Begitu kami diviralkan, subjudulnya bukan “Orang Gila Menghina Pejuang”, melainkan “Performance Art di Depan Monumen”. Ella menyelamatkan muka saya di depan khalayak, dan semenjak hari itulah kami mulai saling mengenal.
Lucunya... yang saya tangkap dari Ella kala kami shopping di Semarang atau Bandung adalah, ia sekadar gadis 20 tahunan akhir yang suka jalan-jalan. Reputasi Ella sebagai lulusan S2 Filsafat justru saya dengar dari kolega-kolega pengacara saya.
“Gile lu, Syah! Lu kok bisa ndak kena gigit?!”
Saya suruh teman saya mengelaborasikan pertanyaanya tersebut. Ia terangkan, bahwa si Ella itu suka mengkritik berbagai aktor hukum dalam artikel-artikelnya... terutama, pengacara. Maka, saya akhirnyapun menanya Ella langsung, dan ia katakan bahwa pada hari pertama kenal itu ia tak tahu saya pengacara. “Tapi seandainya aku tahu, tak masalah!” Ia terangkan bahwa barangsiapa sekadar keluyuran di taman tanpa seragam maka status orang itu di matanya hanya penikmat taman. Dan karena saya tampak “menikmati” amarah saya, iapun sekadar ikut saya menyelami euforia tersebut.
Lalu, ia mengajak saya ke Baureno. Ia ajak saya ke sebuah minimarket terbengkalai, dan ia berkata “Aisyah di sini makam Avietėnaitė.”
Itu jelas pertama kalinya saya mendengar nama itu. Ella bertanya, apakah saya memberi consent baginya untuk bercerita panjang lebar? Saya mengangguk. Maka iapun bercerita ini adalah tempat di mana dulu ibunya paling sering bermain ludruk. Suatu hari nenek-nenek turis menghadiahi ibunya dengan buku-buku bekas dari Eropa, yang sama sekali tidak ibunya mengerti sampai akhirnya ia menghilang setelah jadi TKW. Ella mencoba mempelajari bebukuan itu secara otodidak dengan bantuan warnet. Dari sanalah ia mengenal tokoh-tokoh seperti Hesse, Ibsen, Thoresen, dan tentu… Avietėnaitė.
Sebagian dari nama-nama yang ia kenal tentunya sudah umum dikaji pemikir-pemikir lokal. Tapi ia merasa ada kearifan tersendiri dari mempelajari sumber-sumber Eropa langsung. Terlebih Avietėnaitė, tokoh yang menurut para pengagumnya punya pemaknaan tersendiri perihal konsep “makam”. Avietėnaitė berumur sangat panjang, sehingga jelas sepanjang hidupnya ia melihat bagaimana dunia terus berubah. Dari semua tulisan Avietėnaitė yang pernah Ella akses, tidak satu kalimatpun Avietėnaitė pernah menggagaskan konsep “makam” seperti yang digagaskan para pengkajinya.
“Tapi, Aisyah... gagasan Sokrates yang tersedia untuk dilihat mata sejarahpun juga tidak lepas dari rekontekstualisasi Platon.” Terang Ella.
Bahwa maksudnya ialah, rumus-rumus yang dipakai untuk mengkaji Avietėnaitė itu valid sebagai perejawantahan pemikirannya. Konsep “makam” yang ditangkap dari karya-karyanya ialah, bahwa “makam” adalah tempat manapun di mana kita bisa merasakan kematian. Kalau pakai terminologi orang-orang kita, kurang lebih seprti “suwung”. Ella berkata, bahwa ia menganggap bahwa Baureno adalah makam Avietėnaitė bukan karena Avietėnaitė dikubur di sini. Baureno adalah makam Avietėnaitė karena di Baurueno Ella tumbuh dan membaca karya-karya tokoh tersebut sampai berimersi, sampai nyuwung.
Cukup sekian kilas baliknya.
Seraya Ella melunasi pembayaran, saya mengungkit kembali pertanyaan yang ia lantunkan di Baureno. “Bagaimana dengan makam-makammu, Aisyah?” Maka, menjawab pertanyaan tersebut, saya katakan bahwa makam-makam saya tersebar di penjuru daerah. Tak hanya saya merasa nyuwung saat melihat Ngambon berubah terus formasi kafenya, melainkan saya juga nyuwung melihat pemburu kodok terpleset dan nyemplung di Embong Sukosewu. Yang pertama tentang perubahan, yang kedua tentang kecerobohan, keduanya manusiawi, keduanya membuat saya seperti melihat “makam”… kematian, yang menghidupkan.
Mendengar jawaban saya, Ella menepuk pundak saya, tersenyum.
Tiga hari kemudian sidang pertamapun di mulai. Qohar tanpa rem langsung mentubikan pelbagai data yang menurutnya dalil bahwa Ella telah mencemari nama baik institusi hukum. Awalnya saya manut-manut saja agar Qohar memuntahkan seluruh isi tenggorokannya. Baru setelah saksi-saksi ahli yang saya undang datang, saya pakai data-data yang mereka nyatakan untuk menyerang Qohar yang mulai kehabisan bensin.
Qohar terbelalak! Sebagian dari saksi-saksi yang saya datangkan adalah orang yang pernah ditemuinya langsung!
Air mukanya nampak tidak mengerti bagaimana saya bisa meyakinkan si mandor tekstil bahwa Ella tak hendak memperlambat produktifitasnya. Malahan, si mandor menyebut nama Ella langsung dalam terimakasihnya pada konteks pemberantasan makelar. Begitu juga dengan kolega saya yang “takut digigit” itu, ia bersaksi bahwa metodologi yang dipakai Ella untuk mengevaluasi kinerja hukum sah. Qohar langsung menginterupsi dan ngotot bahwa Ella bukan orang hukum, dan teman saya menawab: “Anda sendiri bukan orang tekstil”.
Demikian pula dengan sidang lanjutannya, sampai akhirnya, Ella dinyatakan tak bersalah. Dengan perasaan malu Qohar kabur ke Trenggalek dan mengemis klien, tapi ternyata kekalahannya sudah menjadi buah bibir pengacara se-Jawa dan belum lagi bisnis kriptonya semakin bangkrut. Terakhir kami mendengarnya, ia pergi keluar negeri dengan kapal kumuh, lalu hilang tiada kabar. Sebalasan karma yang puitis, ‘kah? Entahlah.
Jelasnya, kami merayakan kemenangan kami di Taman Gajah Bolong Bauereno. Kami bersandar di jembatan sambil bersama-sama baca buku, sesekali saya tanya apa yang Ella baca, dan sebaliknya. Sampai pada suatu poin tiba-tiba Ella menyinggung Wollstonecraft, dan bagaimana sosok itu telah “dimakamkan” sebagai “Gajah Inggris”.
Saya mengangguk pelan dan berkata bahwa Wollstonecraft memang pionir pendidikan. Tetapi pengacara-pengacara yang sekadar “terdidik” tanpa menghayati “makam” itu mati adanya.
“Saya rasa memang ironi bahwasanya mereka yang takut dengan makam justru orang yang paling mati, tetapi paradoks itu yang menjakan manusia itu manusia, ‘kan, La?”
Ella mengangguk. Ia pula berkata bahwa secara kolektif kota kita memang penuh “makam”. Banyak sekali kenangan yang nyuwung di benak warganya, dan rasa hening itu terkadang menusuk lantaran mengharapkan masa-masa jaya yang sebenarnya semu.
“Tetapi semu tak tentu palsu, Syah. Konsep makam Avietėnaitė sendirikan dirumuskan oleh pengkajinya, bukan dianya… dan justru dari sanalah, beliau menjadi hidup.”
Demikianlah perayaan kami pada hari itu. Hari yang tak saya lupakan sekalipun saya kini sedang jauh di Manchester. Sesekali saya iseng bertanya ke pengunjung Pub soal Wollstonecraft dan lucunya, banyak dari mereka yang hampir tak mengenalnya.
Saya memesan tiram di Pub itu, memakanya, menghela nafas, dan mencoba mengingat kembali hari-hari di kota kelahiran saya. Sepulangnya saya minggu depan, pasti saya melihat beberapa perubahan, “makam-makam” barupun akan nyuwung.
Saya menyalakan smartphone, melihat artikel anyaran Ella… dan tersenyum.***
Surabaya, 13 November 2024
Editor : Yuan Edo Ramadhana