RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Perayaan Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke-347 yang jatuh pada 20 Oktober tak hanya menjadi momen penting bagi masyarakat setempat. Tetapi, juga mengandung makna mendalam berkaitan dengan filosofi alam dan budaya lokal.
Salah satu prosesi yang menjadi inti dari perayaan ini adalah pengambilan api abadi di Kayangan Api. Sebuah situs alam di Bojonegoro yang terkenal dengan semburan api abadi yang diyakini memiliki nilai sakral.
Prosesi ini tidak sekadar seremoni, melainkan simbol dari semangat pembangunan dan kebangkitan Bojonegoro. Susetyo, seorang pamong budaya Bojonegoro, memberikan pandangannya terkait filosofi yang mendasari prosesi tersebut dan pentingnya dalam memperingati hari jadi kabupaten ini.
Menurut Susetyo, Kayangan Api sudah sejak lama dikenal sebagai salah satu potensi budaya dan alam yang dimiliki Bojonegoro. Situs ini dimanfaatkan dalam rangkaian acara Hari Jadi Bojonegoro sebagai simbol keberlanjutan dan semangat tak pernah padam.
Pengambilan api dari Kayangan Api ini mengandung filosofi mendalam tentang semangat yang harus terus menyala dalam setiap individu masyarakat Bojonegoro. Api ini melambangkan energi yang tak terpadamkan dalam upaya membangun Kabupaten Bojonegoro yang makmur dan sejahtera,” terangnya.
Prosesi pengambilan api di Kayangan Api sendiri sudah menjadi bagian dari tradisi sejak pemerintahan Kang Yoto, Bupati Bojonegoro sebelumnya. Tim perumus Hari Jadi Bojonegoro yang dibentuk pada masa tersebut akhirnya menetapkan tanggal 20 Oktober sebagai hari kelahiran kabupaten ini.
Saya tidak tahu pasti, tapi awalnya, pada zaman Kang Yoto, tim perumus hari jadi akhirnya menyepakati 20 Oktober sebagai hari jadi. Filosofi dari Kayangan Api ini kemudian dimanfaatkan menjadi bagian dari perayaan, dengan harapan masyarakat Bojonegoro juga memiliki semangat yang sama seperti api yang terus menyala,” tambah Susetyo.
Semangat tersebut bukan hanya berlaku bagi pemerintah, melainkan juga bagi seluruh elemen masyarakat. Dengan potensi alam begitu melimpah, seperti minyak bumi dan gas alam, Bojonegoro diharapkan dapat terus maju dan berkembang.
Potensi alam kita luar biasa, seperti minyak dan gas bumi yang melimpah, jika dimanfaatkan dengan baik, maka bisa meningkatkan pendapatan masyarakat,” jelas Susetyo. Ia juga mengingatkan, bahwa dengan tingginya APBD Bojonegoro yang menduduki peringkat kedua tertinggi di Jawa Timur, diharapkan pendapatan masyarakat juga dapat meningkat secara signifikan.
Jika APBD kita tertinggi kedua di Jawa Timur, seharusnya pendapatan masyarakat juga harus mengikuti. Harapannya, kemiskinan bisa berkurang dan pemerintah terus membuat regulasi untuk mengurangi kemiskinan,” bebernya.
Susetyo juga menekankan pentingnya menjaga semangat kebersamaan dalam membangun Bojonegoro yang lebih baik. Kayangan Api bukan hanya sekadar api abadi, tetapi juga cerminan harapan bahwa masyarakat Bojonegoro dapat terus berjuang dan bekerja keras untuk mencapai kesejahteraan bersama.
Filosofi api abadi dari Kayangan Api ini membawa pesan, bahwa masyarakat Bojonegoro harus selalu semangat, tidak mudah menyerah, dan terus membangun daerah ini dengan segala potensi yang dimiliki,” tegasnya.
Perayaan Hari Jadi Bojonegoro melalui simbol api Kayangan Api menjadi momentum bagi warga untuk merenungkan apa yang telah dicapai dan menatap masa depan dengan penuh optimisme.
Bojonegoro, dengan segala kekayaan alamnya, diharapkan mampu menjadi kabupaten yang tidak hanya makmur secara ekonomi, tetapi juga sejahtera dalam kehidupan masyarakatnya. (fra/bgs)
Editor : Hakam Alghivari