Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Batik Latansa Dander Menginspirasi Edukasi Batik di Tengah Masyarakat

Yuan Edo Ramadhana • Kamis, 17 Oktober 2024 | 15:30 WIB
EDUKASI: Mahasiswa asal Prancis belajar membatik di Latansa Batik Dander. Mahasiswa itu mengikuti kegiatan cultural camp yang digelar Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Cendekia (Stiekia) Bojonegoro. (FARHAN
EDUKASI: Mahasiswa asal Prancis belajar membatik di Latansa Batik Dander. Mahasiswa itu mengikuti kegiatan cultural camp yang digelar Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Cendekia (Stiekia) Bojonegoro. (FARHAN

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Batik telah menjadi warisan budaya yang tidak lekang oleh waktu di Indonesia. Salah satu upaya untuk melestarikan budaya ini datang dari Eny, pemilik Latansa Batik yang berlokasi di Dander, Bojonegoro.

Eny menceritakan perjalanan awal berdirinya Latansa Batik dan bagaimana edukasi batik menjadi bagian penting dari usahanya. Eny mengungkapkan, bahwa inisiatif untuk membuka usaha batik edukasi berawal sekitar tahun 2011 atau 2013. Ia mengaku tidak mengingat pasti tahunnya, namun hal tersebut diawali dari gagasan sang suami.

Suami Eny, yang kala itu terinspirasi oleh tayangan televisi, melihat bahwa di sekitar Bojonegoro belum ada wisata edukasi batik. Kebutuhan akan kegiatan kreatif dan edukatif di kalangan masyarakat, terutama guru dan anak-anak, mendorong pasangan ini untuk memulai usaha tersebut.

’’Awalnya, wisata edukasi ini hanya untuk lingkup kecil, teman-teman dan warga sekitar. Suami saya lalu membuat brosur dan menyebarkannya. Dari situ, wisata edukasi batik Latansa mulai dikenal, dan sekarang pengunjungnya sudah datang dari berbagai tempat,” jelas Eny.

Salah satu momen berkesan bagi Eny adalah ketika beberapa mahasiswa dari Prancis datang dan ikut serta dalam kegiatan belajar membatik. Hal ini menjadi bukti bahwa Latansa Batik tidak hanya dikenal di tingkat lokal, tetapi juga menarik minat internasional.

Latansa Batik menawarkan dua program edukasi utama bagi para pengunjung yang ingin belajar tentang proses pembuatan batik. Pertama, mewarnai kain batik yang sudah memiliki cap motif. Program ini memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk mengenal warna-warna khas batik dan bagaimana mengaplikasikannya di kain.

Kedua, menulis di atas kain putih menggunakan malam atau canting, sebuah teknik tradisional yang sering kali membutuhkan ketelitian dan kesabaran. ’’Kami juga menjelaskan seluruh prosesnya, dari mewarnai, kemudian dikunci dengan malam, hingga proses pelorotan. Jadi, selain praktek, para peserta juga mendapatkan pengetahuan tentang bahan-bahan yang digunakan serta tahapan-tahapan dalam membatik,” kata Eny.

Program edukasi ini tidak hanya diperuntukkan bagi anak-anak sekolah, tetapi juga terbuka untuk masyarakat umum. Hal ini bertujuan untuk melestarikan seni batik dan memberikan pemahaman lebih mendalam mengenai proses yang tidak semudah yang dibayangkan banyak orang.

Keberadaan Latansa Batik membawa dampak positif yang nyata bagi masyarakat sekitar. Wisata edukasi ini membuka lapangan pekerjaan bagi penduduk lokal, terutama sebagai karyawan di Latansa. Selain itu, pedagang kecil di sekitar lokasi, seperti penjual jajanan pasar, pentol, ciki, dan lainnya, juga merasakan peningkatan pendapatan ketika ada kunjungan wisata edukasi.

’’Anak-anak yang datang untuk belajar membatik sering kali juga membeli jajanan dari pedagang kecil di sekitar sini. Ini tentunya menjadi dampak ekonomi positif bagi mereka,” ungkap Eny.

Eny memiliki harapan besar agar Latansa Batik dapat terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas. Salah satunya adalah harapan agar para pengunjung, terutama anak-anak, dapat memahami betapa rumitnya proses pembuatan batik. Dengan demikian, ketika mereka membeli batik, mereka akan lebih menghargai nilai seni dan budaya di balik kain tersebut.

’’Kami ingin memberikan tempat yang nyaman dan sejuk bagi para pengunjung, sehingga mereka merasa betah. Selain itu, kami berharap anak-anak dan masyarakat pada umumnya bisa memahami bahwa membatik itu tidak mudah, dan batik lebih dari sekadar kain biasa,” tambahnya.

Eny juga berharap agar batik bisa lebih dikenal oleh generasi muda saat ini. Baginya, penting untuk menanamkan kecintaan terhadap batik sejak dini, agar warisan budaya ini tetap lestari dan terus dihargai oleh generasi yang akan datang.

Latansa Batik Dander telah membuktikan bahwa seni batik tidak hanya bisa dinikmati sebagai produk jadi, tetapi juga sebagai sarana edukasi yang mampu memberdayakan masyarakat dan melestarikan warisan budaya. (fra/bgs)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#latansa #Budaya #pedagang kecil #canting #Usaha Batik #Edukasi #dander #wisata edukasi #bojonegoro #edukasi batik #batik #televisi