RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Setiap rumah produksi batik menghasilkan berbagai macam batik dengan ciri khasnya tersendiri. Hal ini seperti Rumah Produksi Kelompok Batik Sekar Rinambat.
Sekar Rinambat sendiri merupakan sebuah kelompok yang terbentuk dari binaan proyek JTB Pertamina EP Cepu dan Ademos dengan membuat sebuah pelatihan pembuatan batik pada 2016 lalu yang pada pelatihan tersebut diikuti oleh beberapa kelompok untuk mengikuti binaan tersebut.
Kelompok yang dipimpin oleh Tri Astutik ini menamainya Sekar Rinambat dengan maksud Bunga yang Merambat yang membuka rumah produksi batik di Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro.
Tri Astutik selaku Ketua dari Kelompok Sekar Rinambat menjelaskan, bahwa mulai memproduksi batik ini tepat setelah pelatihan batik dengan modal yang diberi oleh Pertamina EP Cepu berupa alat-alat dan bahan.
’’Habis pelatihan itu sudah produksi kali pertama pas ada pesanan dan dari pihak Pertamina EP Cepu itu sendiri kan banyak kegiatan jadi souvenirnya ya dari batik yang kami buat. Kemudian dari tahun ke tahun kan yang namanya usaha ada naik turunnya jadi dari lima kelompok yang ikut binaan tersebut yang masih memproduksi sampai sekarang ya kami ini,” ungkapnya.
Dalam rumah produksi batik Sekar Rinambat sendiri memiliki ciri khas tersendiri dengan menggunakan elemen warna yang dominan kalem dan tidak terlalu mencolok. Selain itu, dengan memodifikasi beberapa corak dan motif khas batik Bojonegoro menambah keotentikan batik yang dibuat langsung oleh Sekar Rinambat.
Dengan dikerjakan sekitar tujuh orang Kelompok Sekar Rinambat bisa menghasilkan sekitar 10-30 batik sehari tergantung dengan motif yang dibuatnya. Selain itu, durasi pembuatan batik bisa sampai 1-3 hari untuk menuju hasil jadinya. ’’Untuk kainnya kita ada pemasoknya biasanya kami ambil dari Solo,” tandasnya.
Untuk penjualannya sendiri rumah produksi Batik Sekar Rinambat masih mencakup wilayah sekitar Bojonegoro saja dengan sistem pengiriman atau terkadang melalui pemesanan tergantung stok batik yang ada. Namun juga pernah melakukan pengiriman sampai Jakarta bahkan Kalimantan.
Untuk harga perkainnya sendiri biasa dibandrol mulai dari Rp 65 ribu sampai dengan Rp 180 ribu tergantung motif dan corak hingga pemilihan kualitas kainnya. ’’Kalau pendapatan sekarang ya lumayan mas biasanya sebulan minimalnya ya dapat Rp 5 juta-an lah,” pungkasnya. (naw/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana