Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Kayangan Api: Wisata Alam dan Budaya yang Terus Menjaga Tradisi Bojonegoro

Hakam Alghivari • Rabu, 4 September 2024 | 13:00 WIB
DESTINASI WISATA: Di lokasi wisata Kayangan Apia ada spot air blukuthuk atau air belerang untuk mencuci dan merendam keris.
DESTINASI WISATA: Di lokasi wisata Kayangan Apia ada spot air blukuthuk atau air belerang untuk mencuci dan merendam keris.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Kayangan Api, salah satu situs wisata unggulan di Bojonegoro, tetap menjadi maskot kebanggaan daerah meskipun menghadapi berbagai tantangan dalam beberapa tahun terakhir. 

Kayangan Api bukan hanya tempat wisata alam, tetapi juga pusat kegiatan budaya dan spiritual, terutama selama perayaan Hari Jadi Bojonegoro (HJB). Namun, menurut Sarji selaku pengelola Kayangan Api, jumlah wisatawan yang berkunjung ke lokasi ini mengalami penurunan, terutama saat Hari Raya Idul Fitri tahun lalu.

Kayangan Api terletak di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, sekitar 25 kilometer dari pusat kota Bojonegoro. Lokasi ini dikenal sebagai salah satu sumber api abadi terbesar di Asia Tenggara. 

Setiap tahun, Kayangan Api menjadi saksi berbagai prosesi tradisional yang sarat makna budaya dan spiritual. Salah satu yang paling ikonik adalah prosesi pengambilan api yang dilakukan pada HJB. 

Api yang diambil dari Kayangan Api ini kemudian digunakan dalam berbagai upacara dan prosesi di wilayah Bojonegoro, sebagai simbol semangat, dan keberanian. Selain prosesi pengambilan api, setiap tahun diadakan acara ruwatan massal di Kayangan Api. 

Ruwatan adalah prosesi spiritual yang bertujuan untuk membersihkan diri dari hal-hal negatif. Sehingga, peserta ruwatan diharapkan mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan terhindar dari segala bentuk kesialan. 

Upacara ini diikuti oleh warga dari berbagai penjuru Bojonegoro, bahkan dari daerah lain. Tak hanya itu, sedekah bumi juga menjadi agenda tahunan yang tak pernah terlewatkan. Sedekah bumi merupakan bentuk syukur masyarakat terhadap hasil bumi yang mereka terima sepanjang tahun. 

Dalam upacara ini, masyarakat membawa hasil panen mereka untuk didoakan dan dibagikan kepada yang membutuhkan. Sebagai penutup rangkaian acara, dilaksanakan jamasan, prosesi pemandian keris-keris pusaka yang dipercaya memiliki kekuatan magis.

Meski demikian, Sarji mengungkapkan, keprihatinannya terkait menurunnya jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kayangan Api. Pengunjung saat ini didominasi oleh warga lokal Bojonegoro. Banyak wisatawan dari luar daerah yang kini lebih tertarik untuk berkunjung ke destinasi wisata baru yang menawarkan pengalaman yang lebih modern,” ujarnya.

Menurutnya, penurunan yang paling terasa terjadi pada Hari Raya Idul Fitri tahun lalu, di mana jumlah pengunjung menurun drastis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sarji berharap pemerintah setempat lebih memperhatikan kondisi ini. 

Kayangan Api membutuhkan perhatian lebih, baik dari sisi perbaikan bangunan maupun penambahan fasilitas. Misalnya, pembangunan taman bermain untuk anak-anak. Selama ini, pengunjung datang untuk belajar sejarah dan menyaksikan prosesi budaya, tapi bagi anak-anak, itu mungkin kurang menarik. Jika ada taman bermain, orang tua bisa membawa anak-anak mereka tanpa harus khawatir mereka bosan,” tambahnya.

Sarji percaya bahwa dengan adanya penambahan fasilitas, Kayangan Api akan kembali menjadi tujuan wisata yang diminati tidak hanya warga lokal, tetapi juga wisatawan dari luar daerah. 

Kayangan Api memiliki potensi yang besar. Ini bukan hanya tentang api yang tak pernah padam, tetapi juga tentang bagaimana kita menjaga dan melestarikan tradisi serta budaya yang telah diwariskan oleh nenek moyang kita,” tutupnya dengan harapan. 

Dengan perhatian dan upaya yang tepat, Kayangan Api dapat terus menjadi maskot Bojonegoro, menjaga tradisi sambil beradaptasi dengan kebutuhan zaman. (fra/bgs)

Editor : Hakam Alghivari
#Budaya #Ngasem #bojonegoro #kayangan api #spiritual #abadi