PERABOTAN di dalam rumah pun tidak kalah mengenaskan.
Kursi dan meja yang digunakan sudah reyot, dengan beberapa di antaranya telah patah kakinya dan hanya ditopang dengan batubatu kecil. Kasur tempat tidur yang menjadi satusatunya tempat istirahat sang veteran ini juga sudah tipis dan penuh dengan sobekan. Penerangan di dalam rumah
sangat minim, hanya mengandalkan bola lampu 10 watt yang menerangi sekeliling.Di luar rumah, halaman yang dulunya mungkin rapi dan terawat, kini penuh dengan rumput liar yang tumbuh tinggi. Tak ada pagar yang membatasi rumah dari jalanan desa, membuat rumah ini terlihat semakin terbengkalai. Sang pejuang ini kondisi kesehatannya semakin menurun, tidak mampu lagi merawat rumah dan halamannya. Bantuan dari pemerintah desa sesekali datang pada peristiwaperistiwa penting saja. Hanya sebagai lipstik untuk mendongkrak popularitas kepala desa agar dianggap nasionalis karena masih memperhatikan nasib para veteran di kampungnya. Padahal mbah Darmo hidup bukan sehari dua hari saja. Beliau sama dengan kebanyakan manusia yang lain. Butuh makan dan minum setiap sehari. Bukan gelar tanda jasa pada selembar kertas yang terbingkai indah di pigura dinding rumahnya yang sudah usang.
Bendera merah putih itu masih terus melambaikan tanganya dalam desir angin malam. Meski warnanya memudar di makan usia. Ia selalu berkibar di dada mbah Darmo. Jiwa-jiwa pejuang masih terpatri
dalam sanubari. Setiap malam menemaninya dalam mimpi-mimpinya. Menyulut semangat tentang kemerdekaan yang hakiki. Bukan terjajah di negeri sendiri. Porakporanda akibat termakan kapitalisme dan nepotisme. Mbah Darmo menatap kertas kosong di depannya. Di sekelilingnya, terdapat beberapa potret masa lalu yang penuh kenangan. Ia menghela napas panjang sebelum mulai menulis catatan sejarah yang pernah dialaminya. “Tanah Airku, Indonesia,” tulisnya pelan, “Sudah sekian tahun berlalu
sejak aku berjuang demi kemerdekaanmu. Di medan perang, aku menyaksikan banyak sahabat gugur demi melihatmu merdeka. Kini, aku ingin berbicara denganmu, wahai negeriku tercinta. Di tengah gemuruh mesin-mesin perang dan suara ledakan yang tak kunjung reda, aku menulis catatan ini dengan tangan yang gemetar. Negeri kita, yang dulunya dipenuhi senyuman dan kebersamaan, kini berubah menjadi ladang kehancuran dan air
Baca Juga: Lembar Budaya: Bingkai Jendela Tanpa Kaca
mata. Setiap sudut kota yang dahulu ramai kini hening dan sunyi, hanya menyisakan reruntuhan demokrasi. Anak-anak yang seharusnya berlarilari di taman bermain kini bersembunyi di bawah tanah, mata mereka memancarkan ketakutan yang tak terkatakan. Di antara reruntuhan itu, aku melihat potonganpotongan mimpi yang hancur karena judi online dan pesta narkoba. Tersebar tanpa harapan untuk diperbaiki. Ini bukanlah negeri yang pernah aku kenal,
bukan pula tempat yang pernah kita banggakan.” Ia berhenti sejenak,
mengingat masa-masa sulit penuh perjuangan. Bagaimana ia dan temantemannya berjuang tanpa rasa takut, hanya dengan tekad kuat dan cinta pada tanah air. Pena mbah Darmo terus menari-nari di atas kertas. Peristiwa demi peristiwa tergores dengan tinta hitam. Meninggalkan jejak sejarah untuk anak negeri. Ditengah suara batuk yang memecah kesunyian malam. Tanganya gemetar memegang pena yang dulu pernah menemaninya mengirimkan berita untuk teman seperjuanganya di beberapa kantong-kantong laskar pejuang. Giginya gemeretak, wajahnya berubah memerah seketika ketika melanjutkan tulisanya. Tatapan matanya tajam seperti elang melihat samar bayang pejuang hadir dipelupuk matanya sambil mengangkat senjata. Catatatan
sejarah tertuang dalam tangannya yang semakin keriput. Termakan usia. “Wahai Indonesia,” lanjutnya, “Aku selalu bangga melihatmu tumbuh. Dulu, aku bertarung melawan penjajah dengan segenap jiwa raga. Tak terhitung berapa kali peluru nyaris merenggut nyawaku. Teriakan dan dentuman meriam menggema di seluruh penjuru, mengoyak kesunyian yang pernah ada di desa kecil itu. Asap tebal membumbung tinggi ke langit, menutupi sinar matahari yang sebelumnya hangat menyinari ladangladang singkong. Pasukan
musuh menyerbu tanpa ampun, menyapu bersih segala yang menghalangi jalan mereka. Bau mesiu dan darah bercampur menjadi satu, menciptakan atmosfer mencekam yang menyesakkan dada. Di tengah kecamuk itu, suara tangis dan jeritan kesakitan terdengar di mana-mana, seakan mengiringi setiap ledakan yang terjadi. Di sudut lain prajuritprajurit yang kelelahan berjuang mati-matian, melawan rasa takut dan keputusasaan yang terus menghantui mereka. Peluh dan darah bercucuran dari tubuh mereka yang sudah penuh luka. Tanah yang tadinya subur kini berubah menjadi lautan merah yang dipenuhi mayat-mayat tak bernyawa. Langit yang biasanya biru cerah, kini gelap tertutup awan perang, seolah-olah alam pun turut berduka atas kehancuran yang terjadi. Setiap detik berlalu terasa seperti satu abad, penuh dengan penderitaan dan perjuangan yang tak pernah usai.” Tangannya bergetar kembali saat menulis kalimat-kalimat terakhir. Ada rasa haru yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Dadanya semakin sesak melihat lunturnya nasionalisme. Aset-aset negerinya terjual atas nama kepentingan sesaat, Tergadaikan oleh kepentingan kapitalis asing. Menjadi penonton di negerinya sendiri.
Mbah Darmo menutup suratnya dengan tanda tangan dan tanggal kejadiannya. Ia meletakkan pena, lalu menatap
keluar jendela. Di luar sana, bendera merah putih berkibar dengan gagah. Ia tersenyum tipis mendengar derap langkah pejuang lewat tengah malam. Derap langkah pejuang di malam hari itu terdengar seperti irama teratur yang menggema di antara pepohonan. Dengan setiap langkah yang diambil, tanah lembab di bawah mereka merespons dengan bisikan halus, seolah-olah menyambut kehadiran mereka. Mereka bergerak dalam kesatuan yang sempurna, mengikuti komando yang hampir tak terdengar namun begitu tegas. Malam yang sunyi dan dingin membuat setiap suara langkah mereka semakin nyata, menciptakan ritme yang menggetarkan jiwa. Di balik kegelapan itu, para pejuang menyelinap dengan hati-hati, mata mereka waspada terhadap setiap gerakan dan telinga mereka tajam menangkap setiap suara. Bulan yang pucat menyinari wajah mereka yang penuh tekad dan semangat, sementara bayangan mereka menari di antara dedaunan yang bergoyang pelan oleh angin malam. Derap langkah mereka bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin yang penuh dengan harapan, keberanian, dan keteguhan hati. Setiap langkah yang mereka ambil membawa mereka lebih dekat ke tujuan mulia, meskipun bahaya mengintai di setiap sudut. Ketika malam semakin larut, derap
Baca Juga: Lembar Budaya: Emak yang Terusir
langkah mereka mulai menyatu dengan suara alam sekitar. Rintik hujan yang turun perlahanlahan menambah suasana misterius dan dramatis. Di tengah kegelapan, mereka terus maju tanpa ragu, percaya bahwa perjuangan mereka akan membawa perubahan. Setiap langkah yang mereka ambil adalah simbol dari pengorbanan dan dedikasi, membawa pesan bahwa meskipun malam gelap dan panjang, cahaya harapan selalu menanti di ujung perjalanan. Angin berhembus kencang membasuh wajah keriput itu. Larut dalam suasana malam yang mencekam. Derap langkah pejuang masih samar membayang di pelupuk matanya. Pekik “Merdeka atau Mati “berkumandang di gendang telinganya. kebebasan adalah harga yang harus dibayar, bahkan jika itu berarti menyerahkan nyawa.
Senja memerah di ufuk Timur. Semburat warna menghias cakrawala. Damai bergelayut dalam rindang pepohonan. Lekuk peta sawah mengular hijau menyejukkan mata bagi siapa saja yang melihatnya. Suara lenguh lembu bersahutan bersamaan kokok ayam menandai pergantian hari. Tekukur menekur pagi hari. Memberi makan anak kesayangan. Kecipak ikan dikolam kejar-mengejar berebut makanan yang tersebar. Bau tanah basah dalam tarian rintik hujan. memberikan kesan syahdu dari balik perbukitan. Sesosok bayangan berpayung daun pisang menghampiri kolam sambil meyulut rokoknya dari balik kantong baju. Haji Qomar. Begitulah penduduk kampung memanggilnya. Tuan tanah centeng kapitalis asing, beristri empat yang serakah. Sebentar lagi rumah reot di simpang jalan akan menjadi sasaranya. Berkali-kali ia mendatangi mbah Darmo untuk menyerahkan rumah dan sertifikat tanahnya. Berkali-kali datang, berkali-kali pula mbah Darmo menolaknya secara terang-terangan. Tanah yang ia tempatinya itu adalah tanah markas para pejuang waktu itu. Ia tak rela jika rumah itu terjual atas nama kapitalis dan keserakahan semata.
Ia berharap pemeritah desa merehap rumahnya menjadi museum pejuang dengan catatan pena yang mewarisi sejarah para pejuang. Tak ada lagi yang bisa ia berikan sesuatu untuk negerinya. Kecuali bingkai sejarah yang termaktub dalam kisahnya di lembaran kertas yang ia kumpulkan di laci usang termakan usia. Darah dan air mata pernah tumpah atas nama kemerdekaan. Bahkan ia relakan kakinya tertembus peluru demi menyelamatkan negeri ini dari penjajahan. Akankah ia jual begitu saja. Tidak, tidak! dalam batinya menolak keras. Semboyan “Merdeka atau mati” tetap dipegang teguhnya sampai titik darah penghabisan.
Lembar-demi lembar naskah perjuanganya telah berhasil dicatat dengan tinta emasnya. Sebuah desain sampul telah dibuatnya. Desain sampul naskah ini menampilkan seorang pejuang berpakaian lusuh, memegang bendera merah putih yang berkibar di tengah medan pertempuran. Di latar belakang, terlihat bayanganbayangan para pejuang lain yang tengah berjuang matimatian, dengan langit yang memerah oleh cahaya senja, menggambarkan darah dan pengorbanan yang tak terhitung jumlahnya. Judul naskah terukir di bagian atas dengan huruf tebal, melambangkan tekad dan keberanian yang tak tergoyahkan, sementara di bagian bawah terdapat semboyan perjuangan, menegaskan semangat pantang menyerah dalam merebut kemerdekaan. Usai sudah catatan sejarah itu dibuatnya. Sejarah tak akan terulang kembali untuk kedua kali, sejarah bukan untuk di kenang atau ditangisi. Sejarah akan bercerita tentang dirinya sendiri. Sebagaima pena mbah Darmo yang masih mengalirkan tinta hitamnya. Walau sang pemiliknya telah dikabarkan berpulang dalam sepi pagi ini. Kabar duka telah tersebar bersamaan menghilangnya pena sang pejuang dari laci meja kayunya yang telah usang.