Oleh:
Reyta N
Tahun ini usiaku genap memasuki 27 tahun, usia yang tergolong terlambat untuk menikah bagi perempuan di kampungku. Yaa…Perempuan seumuranku rata-rata sudah memiliki satu atau dua anak. Tak heran jika bapak dan ibu begitu khawatir dengan anak tunggalnya ini.
"Sudah berapa lama kamu kenal laki-laki itu?" tiba-tiba saja bapak melontarkan pertanyaan yang membuat jantungku terasa mau copot. Obrolan santai di teras rumah sore itu menjadi sedikit tegang.
"Uhuk... Uhuk" Air minum yang baru saja kuteguk terasa berhenti di kerongkonganku.
"Kelihatanya dia laki-laki baik, sholatnya juga khusyuk, keturunannya juga jelas" kata-kata bapak semakin membuat mataku terbelalak. Aku menoleh ke arah ibu yang duduk di sebelah Bapak, jarinya yang lentik masih saja asyik memainkan jarum dan benang di kain mukena. Kulihat ibu hanya tersenyum.
"Sudahlah ri, tidak ada laki-laki yang sempurna, justru dengan menikah itu harus bisa saling menyempurnakan. Sholatlah nyuwun sama gusti Allah, biar diberikan petunjuk apa yang terbaik untuk Tari” sahut ibu.
Aku berusaha menerka-nerka siapa gerangan lelaki itu. Mungkinkah Deni teman SMP yang katanya diam-diam mengagumiku, ah.... Pede benar aku dengan gosip nggak jelas itu. Aku bahkan tidak pernah bertemu dengannya lagi sejak lulus SMP. Aku kembali memutar otakku menerobos ingatan ke masa SMA. Hmmm….tidak ada, aku mengernyitkan dahi sambil memastikan bahwa tidak ada satupun laki-laki yang dekat denganku saat itu. Arrrghhhh...... Siapa laki-laki misterius itu?
“Buk, Tari tuh nggak punya teman dekat laki-laki lho? Siapa laki-laki yang diceritakan bapak? Kapan ketemu bapak sama ibu” Aku memberondong ibu dengan pertanyaan yang bertubi-tubi. Lagi-lagi ibu hanya tersenyum, “Lha wong tidak kenal kok dia bisa tahu semua tentang kamu tho nduk..nduk? Sampai dibela belain datang kesini lho. Lucu kamu ini… " jawab ibu.
“Demi Allah buk, Tari nggak tau" Aku berusaha meyakinkan ibuku.
“Minggu depan dia akan datang bersama keluarganya kesini... Dia akan melamarmu..” lanjut ibu.
“Aappaaa...... ????? Ya Allah apalagi ini " mataku terbelalak, bola mataku terasa mau lepas dari mataku.
Buk.... bagaimana Tari mau menerima dia, Tari bahkan nggak tau lho dia itu siapa, tari juga belum tentu mau menerima dia!” aku menjawab dengan kesal.
Kriiing..... Bunyi dering gawai seketika menghentikan sejenak aktivitasku yang sedang berdzikir sehabis sholat. Kuambil gawai itu sambil menyandarkan badanku di pinggiran dipan kayu di sebelahku. Kulihat deretan nomor tak dikenal di layar gawaiku.
“Assalamu'alaikum....” kudengar suara yang cukup asing di seberang telpon.
“Wa'alaikumsalam..”, sahutku
“Tari, ini Yusuf ketua kelompok KKN di Desa Banjarsari. Maaf sudah menganggumu malam-malam” . Ingatanku lalu tertuju pada kegiatan KKN setahun yang lalu. Ya…aku ingat dia adalah ketua kelompokku. Aku tidak terlalu mengenalnya, meskipun satu kelompok KKN dengannya selama 1 bulan penuh di Desa Banjarsari, komunikasiku sangat terbatas dengannya.
“Oh... Tidak sama sekali tidak ...” jawabku.
“Tari, sebelumnya aku mau minta maaf jika aku sudah terlalu lancang. Beberapa hari yang lalu, aku berkunjung ke rumahmu dan bertemu dengan kedua orang tuamu. Aku menyampaikan niatku untuk melamarmu menjadi istriku. Maaf jika ini terlalu mendadak dan mungkin cukup mengagetkan bagimu. Tapi aku sudah lama menyimpan rasa kepadamu, sejak kita bertemu pertama kali di tempat KKN. Aku mengagumi akhlakmu, cara berpakaianmu, dan juga ibadahmu. Kamu sudah berhasil merubah hidupku. Satu tahun bukan waktu yang singkat untuk lebih jauh mencari tahu tentangmu. Akupun terus berproses untuk memantaskan diri untukmu. Saat ini aku belum sempurna dalam berproses, dan aku mau menyempurnakannya bersamamu. Aku sudah sholat istikharah untuk meminta petunjuk, dan aku semakin yakin bahwa kamu adalah pilihan yang tepat. Dengan niat yang tulus, maka kuberanikan diri untuk menemui kedua orang tuamu. Alhamdulillah, banyak hal yang telah kami diskusikan. Sekarang tinggal menunggu keputusan dari Tari. Tidak perlu kamu jawab sekarang, masih ada waktu satu minggu sebelum aku datang melamarmu. Aku akan menerima apapun keputusanmu. Insyaallah apapun keputusanmu itu yang terbaik” Yusuf terus berbicara, tanpa jeda.
Lidahku kelu, kepalaku seketika pening, tubuhku rasanya melayang setengah tidak sadar, badanku oleng.
"Tari.... Kamu masih mendengarku " suara Yusuf segera menyadarkanku
“Eh.. Nggh... Iya, ma.. masih... " Aku terdengar sangat gugup, jantungku berdegup sangat kencang.
“Maaf ya Tari, aku tidak bermaksud membuatmu syok, tapi menurutku, niat baik ini harus disegerakan daripada aku terus terusan memendam rasa kepadamu” lanjut Yusuf.
“Beri aku waktu untuk menjawabnya.... Insyaallah sebelum satu minggu aku akan memberikan jawaban” Aku menjawab dengan sedikit gemetar, dan suara lirih.
“Terima kasih banyak Tari..... Assalamu'alaikum “ Yusuf menutup pembicaraan singkat malam itu.
“Wa'alaikumsalam” jawabku.
Kututup gawaiku lalu kuhamburkan tubuhku diatas sajadah panjangku. Ya Rabb.... Berikan petunjuk-Mu.
Ini adalah hari kelima aku menjalankan sholat istikharah, dan aku belum juga menemukan petunjuk.... Ya Rabbi tunjukkan kuasa-Mu... Berilah aku petunjuk. Kubuka Musyaf Al-Quran dengan perlahan, mataku seketika terbelalak, masyaallah Surat Ar Rum. Surat yang selalu dikutip di undangan-undangan pernikahan. Mataku langsung tertuju pada terjemahan ayat 21“ Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah Dia menciptakan pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang”. Yaa Rabbi benarkah ini petunjukmu ?.
Bismillahirrahmanirrahim..... Ya Allah hamba niatkan pernikahan ini untuk menyempurnakan ibadahku.
Aku menyampaikan keputusanku kepada bapak dan ibu, lalu mengabarkannya kepada Yusuf melalui pesan WhatsApp. Yusuf hanya menjawabnya singkat dengan ucapan terima kasih.
Hari lamaran tiba, rasanya campur aduk tapi aku berusaha mengatasinya dengan terus berdzikir menyebut nama Allah. Aku sudah lama tidak bertemu dengan Yusuf, bahkan aku sudah hampir lupa dengan wajahnya. Aku sudah berusaha mencari profilnya melalui media sosial namun tidak ketemu, profil picturenya juga tidak memajang fotonya.
“Assalamu'alaikum”
“Wa'alaikumsalam, mari silahkan masuk”
Kudengar sayup-sayup ucapan salam yang saling bersahutan dari dalam kamar, sepertinya rombongan Yusuf sudah datang. Jantungku berdegup semakin kencang. Bibirku terus melantunkan dzikir, jari jempolku terus memencet tasbih digital yang menggantung di jari telunjukku.
Kudengar beberapa kalimat yang disampaikan salah satu perwakilan keluarganya tentang maksud dan tujuan rombongan datang ke rumahku. Sesekali terdengar mereka tertawa. Aku semakin mendekatkan telingaku ke pintu kamar supaya dapat dengan jelas mendengar percakapan mereka.
“Alhamdulillah, sekarang mari kita tanya kesediaan calon istrinya ya..”“Jangan-jangan tidak diterima.... Hehehe... “ Pakdhe Slamet sebagai wakil keluargaku mencoba menggoda Yusuf dan keluarganya.
“Tari, ayo keluar”. Ibu menuntunku keluar dari kamar.
Aku duduk disebelah bapak dan ibu, kudongakkan sedikit wajahku untuk menjawab rasa penasaranku dengan Yusuf. Subhanallah...... benarkah yang aku lihat dihadapanku ini. Seorang laki-laki dengan badan tegap, kulit putih bersih, berpakaian rapi dengan jenggot tipis di dagu, penampilannya semakin sempurna dengan setelan kemeja batik dan celana panjang hitam. Astaghfirullah.....Segera kutundukkan padanganku.
“Piye nduk.... diterima atau tidak lamarannya ?” Pertanyaan pakdhe seketika membuyarkan rasa kagumku pada sosok Yusuf.
“Bismillahirrahmanirrahim, insyaallah.... Saya terima pakdhe” jawabku lirih
“Alhamdulillah…”, sontak seluruh orang yang hadir menjawab dengan serentak. Hasil keputusan hari itu, pernikahan akan dilaksanakan 2 minggu lagi.
Hari pernikahan tiba, tidak banyak orang yang kami undang. Hanya keluarga besar dariku dan Yusuf, serta tetangga. Dengan ikrar ijab qobul yang lancar diucapkan dalam sekali waktu aku sah menjadi Ny. Yusuf. Alhamdulillah…
Tok.. Tok... Tok, kudengar pintu kamarku diketuk dari luar
“Assalamu'alaikum Tari boleh aku masuk?” kudengar suara Mas Yusuf suamiku dari balik pintu.
“Wa'alaikumsalam, boleh mas silakan...” kuremas jemariku yang terasa dingin. Sosok laki-laki dengan jas hitam dan jenggot tipisnya membuatku semakin gugup. Dia duduk di sebelahku dan meraih jemariku.
“Tari, terima kasih sudah menerimaku sebagai suamimu. Aku mohon bantulah aku untuk menjadi orang yang lebih baik. Semoga kita bisa membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah”
“Aamiin....” Kami berdua menjawab hampir bersamaan.
Bismillah ya Allah kumulai perjalanan ibadah panjangku ini, jadikanlah aku istri yang sholihah yang mampu menjadi penyejuk dalam rumah tangga dan ibu yang baik untuk anak-anakku kelak. (*)
Bojonegoro, 9 Mei 2024.
Editor : Yuan Edo Ramadhana