Oleh:
Mustofa Efendi dan Ahmad Rohim
Guru SMP Negeri 1 Kanor, Bojonegoro
Sudah lama Emak Samisih hidup menjanda setelah suaminya meninggal dunia karena sakit jantung yang menderanya. Emak Samisih hidup bersama tujuh anaknya, di antaranya Darsono, Sangat, Sriatun, Sulastri, Budi, Samin, dan Sunipah.
Emak Samisih menghidupi anak-anaknya dengan gaji pensiunan suaminya yang menjadi pegawai Negeri golongan rendah. Sebetulnya uang pensiunannya pas-pasan untuk menghidupi keluarganya bahkan kurang. Belum lagi untuk membiayai pendidikan anak-anaknya. Karena keterbatasan biaya, anak-anaknya hanya mengenyam pendidikan SMP bahkan ada yang hanya SD. Yang penting uang pensiun bisa untuk kebutuhan ramah tangga sehari-hari.
Emak Samisih bersama anak-anaknya menempati rumah kuno yang terbuat dari kayu jati, berdinding papan kayu mahoni, dan berlantai ubin. Rumah tersebut terletak di jalan raya yang ramai akan lalu lalang lalu lintas. Sehari-hari Emak Samisih hanya beraktivitas mengurusi rumah tangganya dan tidak ada aktivitas lain.
Pagi itu habis membuat sarapan, Emak Samisih duduk-duduk di ruang tamu sambil menunggui anak-anaknya yang sarapan. Sudah menjadi kebiasaan kalau pagi, ketika sarapan sudah matang, Emak Samisih langsung menyuruh anak-anaknya sarapan dan berkumpul di ruang tamu sambil menungguinya.
“Dar, Cung anakku, sampean sekolah SMP saja. Setelah lulus nanti sudah tidak usah melanjutkan sekolah lagi. Emak sudah tidak kuat membiayaimu. Apalagi adik-adikmu setelah ini butuh biaya sekolah masuk SMP, masuk SD. Silakan kamu cari pekerjaan apa sana,” ujar Emak Samisih sambil merapikan bajunya karena mau ambil uang pensiunan di bank. “Iya Mak, gak papa. Aku ya sadar bahwa uang pensiunan bapak sebetulnya kurang bisa mencukupi kebutuhan rumah tangga. Tapi sampean pintar-pintarnya mengatur keuangan,” jawab Darsono dengan nada memelas. “Pokoknya anak-anakku semua kalian nanti hanya bersekolah hanya sampai SMP. Sebetaulnya Emak ingin menyekolahkan sampai sarjana tetapi tidak ada biaya,”imbuhnya. “Iya Mak, aku juga mau dan menyadari kalau Emak uangnya pas-pasan,” sahut Sunipah, “Bahkan sekolah SD saja aku mau Mak.”
Karena anak-anaknya hanya mengenyam pendidikan SMP, sulit juga untuk mencari pekerjaan yang layak. Anak-anak Emak ada yang ikut jualan di toko tetangga; ada yang bekerja di pabrik krupuk; ada yang menjadi penjahit; yang lainnya masih kecil dan bersekolah di TK, SD, dan SMP. Bahkan ada anaknya yang menderita sakit jiwa yaitu Samin. Sehingga menambah beban hidup dan pemikiran Emak Samisih.
Seiring dengan pertumbuhan ketujuh anak-anaknya dan segala persoalannya, kebutuhan rumah tangga semakin banyak, tuntutan anak-anaknya juga semakin luar biasa. Apalagi kebutuhan hidup yang semakin meroket saja. Belum lagi biaya pengobatan anaknya yang sakit. Sungguh amat berat beban hidup bagi Emak Samisih.
“Mak, nanti sampean ambil uang pensiun di bank to? Aku nanti minta bayar ulangan. Besok terakhir. Jika tidak bayar, tidak boleh ikut ulangan,” ujar Budi pada Emak. “Mak, seragamku sudah robek,” lapor Sulastri, ”Aku malu sama teman-temanku. Belikan nanti ya.” “Budi, Lastri, sabar dulu ya. Ini Emak mau memeriksakan adikmu Samin. Coba kamu lihat, sejak kemarin meronta-ronta di kamar,”jawab Emak dengan nada kesal. “Nggak mau. Kalau tidak bayar ulangan, aku gak boleh ikut ulangan. Aku malu Mak,”bentak Budi. “Aku juga gak mau sekolah,”tambah Sulastri, “Tiap hari aku diledek teman-temanku gara-gara bajuku robek.”
Pikiran Emak semakin ruwet dan kacau memikirkan fenomena keluarga yang banyak permasalahan. Sementara dia harus memutar otak sendiri dalam mengelola rumah tangga. Anak-anaknya yang sudah besar dan sudah bekerja tidak mau tahu keruwetan yang dialami Emak. Mereka dapat upah bekerja tetapi untuk kebutuhannya sendiri bahkan kadang masih minta uang Emak.
“Sri, adikmu ini minta uang untuk bayar ulangan. Coba kamu beri uang untuk bayar. Katanya kalau gak bayar, gak boleh ikut ulangan,”ujar Emak merengek ke Sriatun. “Gak ada Mak. Uang apa ? Jahitan sepi.” “La kemarin kok ada orang yang ambil jahitan ?” kata Emak. “Belum dikasih uang katanya belum punya,”sahut Sriatun sambil menyelesaikan jahitan yang tersisa.
Sementara itu Samin anaknya yang sakit jiwa berteriak-teriak di kamar sejak tadi malam. Tidak jelas apa yang diminta dan apa yang dikeluhkan. Seluruh keluarga pun juga tak peduli saudaranya yang sakit jiwa itu. Hal itu dianggap hal yang biasa terjadi setiap hari. Mereka masa bodoh dengan aneka permasalahan yang ada di rumahnya.
“Ngat, Sangat, adikmu Lastri belikan baju seragam. Dia malu diledek teman-temannya katanya bajunya sudah robek,”rayu Emak. “Uang apa ? Gak punya uang. Kalau malu, gak usah sekolah saja,”jawab Sangat dengan ketus. “Kamu kan sudah bekerja di pabrik krupuk ? Kan dapat bayaran to ?” “Bayaran untuk ngopi saja kurang kok.”
Emak semakin resah pikirannya memikirkan anak-anaknya yang tidak ada yang peduli dengan adik-adiknya. Apalagi peduli dengan kebutuhan rumah tangga. “Kalau kamu semua tidak ada yang peduli keluarga, tidak peduli dengan adik-adikmu, tidak kasihan dengan Emak, kamu rela jika Emak ini sakit hingga menderita jiwa raga, menderita jasmani dan rokhani? Emak ini hanya memutar uang pensiun bapakmu untuk semua kebutuhan. Tidak punya penghasilan sampingan. Sedangkan kalian yang sudah bekerja, sudah mendapatkan upah, tidak ada yang peduli pada Emak apalagi pada adik-adikmu,”ujar Emak dengan nada marah.
Darsono dan adik-adiknya ketika mendengar ocehan kemarahan Emak, hanya terdiam dan menunduk saja. Tidak ada yang menjawab, tidak ada yang bersuara. Seolah mereka sudah tidak mempedulikannya. "Jika kalian sudah tidak peduli lagi, Emak juga bisa tidak peduli dengan kalian semua,” timpal Emak yang semakin emosi itu, “Mestinya kalian yang sudah besar-besar itu, sudah bekerja itu, bisa membantu, menyumbang kebutuhan Emak untuk keperluan sehari-hari. Jangan masa bodoh. Sudah, kalau begitu, Emak mau keluar entah kemana,” ujarnya sambil meninggalkan anak-anaknya.
Emak keluar dengan menumpang kendaraan umum. Anak-anaknya bengong melihat kebergian emaknya. Mereka saling lihat di antara saudara-saudaranya seolah saling menyalahkan. Di wajah mereka tampak rasa penyesalan yang mendalam. Tapi penyesalan tiada guna.
Tidak lama kemudian Darsono keluar rumah melihat emaknya di pinggir jalan raya. Mobil kendaraan umum yang ditumpangi emaknya sudah tidak kelihatan lagi. Lalu adik-adiknya juga turut mendekat ke Darsono. “Kak, terus gimana ini langkah kita ?”tanya Sangat. “Coba Ngat, kamu kejar ke terminal barangkali emak masih di sana. Nanti kalau ketemu, kamu ajak pulang saja. Kamu rayu bagaimana yang penting emak mau pulang,”imbuh Darsono.
Dengan mengendarai sepeda motor, Sangat mencari emak di terminal siapa tahu emak masih disana. Sementara saudara-saudaranya yang lain harap-harap cemas akan kepergian emaknya. Apalagi emaknya sudah tua lagi pula tidak pernah pergi jauh. Darsono dan adik-adiknya di rumah menunggu kepulangan Sangat. Mereka amat berharap agar emaknya berhasil diajak pulang kembali. Namun apa yang terjadi, Sangat pulang tanpa bersama emaknya.
“Kak, gimana emak ?”tanya Budi. “Emak sudah tidak ada, emak tak dapat aku temukan. Aku cari di sudut-sudut terminal, aku tanyakan orang-orang yang ada di terminal semua tidak tahu,” jawab Sangat dengan nada kesal dan penuh penyesalan. Akhirnya Darsono dan adik-adiknya lemas, tak berdaya dengan raut wajah penuh penyesalan yang amat dalam setelah mendengar keterangan dari Sangat. (*)
Editor : Yuan Edo Ramadhana