Oleh:
ICHWAN ARIFIN
Rumor berbisik di kalangan ibuibu. ada yang nyinyir menuduh banowati pakai dukun penglaris. ada pula yang menghembuskan praktik prostitusi terselubung.
INFORMASI ditemukannya tambang emas di Desa Bengawan membuat warga terhenyak. Tak disangka, desa yang gersang itu memiliki kekayaan alam luar biasa. Kabar itu dengan cepat menyebar ke seantero desa dan pelosok negeri.
Suasana desa yang biasanya sepi, berubah ramai dan gempita. Meski belum banyak aktifitas terkait pertambangan, orang-orang dari daerah lain mulai berdatangan. Beberapa kontraktor sudah ada yang membuka kantor perwakilan di desa itu.
Warga desa melihatnya sebagai peluang usaha. Sebagian diantaranya membuka warung makan, toko kelontong hingga menyewakan tempat tinggal. Para pemilik tanah berharap, lahannya akan dibeli dengan harga berlipat oleh perusahaan pertambangan. Harapan lainnya, warga akan direkrut menjadi karyawan perusahaan atau kontraktor.
Intinya, semua berharap kegiatan tambang dapat menyejahterakan masyarakat. Harapan itu juga muncul dalam benak Banowati, perempuan muda yang belum lama menjanda. Ia tinggal di Desa Bengawan bersama neneknya yang berusia senja. Tidak ada sanak saudara lainnya. Banowati membuka warung makan untuk mencukupi kebutuhan hidup. Ia tidak punya tanah yang dapat dijual untuk kegiatan tambang. Jadi harapannya sederhana, eksplorasi ini akan berdampak positif pada usaha warung makannya.
*
Banowati pulang ke Desa Bengawan setelah merantau di ibu kota cukup lama. Rumor berkata, perempuan itu bekerja ditempat hiburan malam. Entah sebagai Female DJ, penyanyi karaoke, atau LC, tidak ada warga desa yang tahu. Komunitas dunia malam di ibu kota mengenalnya sebagai Cindy, bukan Banowati.
Perempuan itu pulang setelah mendapat kabar ibunya sakit. Tak lama, ibunya pun menyusul almarhum bapaknya. Kini hanya tinggal neneknya, kerabat yang dimiliki. Banowati pun memutuskan tidak kembali ke ibu kota. Selain karena neneknya, ia juga merasa sudah saatnya membuka lembaran hidup, dan tak mau hidup di kota yang sama dengan mantan suaminya.
Tabungan hasil kerja kerasnya masih berlebih untuk merenovasi rumah, serta modal membuka warung makan. Bagian depan rumah dipakai untuk warung makan, sedangkan sisi belakang untuk tempat tinggal.
Baca Juga: SLOT
Pergaulan di ibu kota membuat penampilan Banowati berbeda dengan kebanyakan perempuan di Desa Bengawan. Ia terlihat lebih “bening”, kulitnya putih mulus terawat. Rambut panjangnya dicat pirang. Penampilan seksinya selalu mengundang sorot mata lelaki. Banowati juga sangat supel dan mudah akrab dengan siapapun.
Tak butuh waktu lama, warung makan Banowati jadi favorit. Pembeli ramai berdatangan, sebagian besar lelaki dan para pendatang. Mereka betah berjamjam sekedar minum kopi, makan mie instan atau camilan lainnya. Bapakbapak di situ juga lebih memilih menikmati kopi di warung Banowati daripada di rumah. Warung itu beroperasi hingga larut, melayani pekerja kontraktor yang pulang malam.
**
Beberapa bulan kemudian, sebagian warga mulai jengah dengan keberadaan warung Banowati. Sebenarnya, banyak juga yang membuka warung makan, seperti Mak Tun, Yu Mar dan Husnatul. Namun rata-rata tutup sebelum mahrib. Pengunjungnya pun tidak “membludak” seperti di warung Banowati.
Rumor berbisik dikalangan ibu-ibu. Ada yang nyinyir menuduh Banowati pakai dukun penglaris. Ada pula yang menghembuskan praktik prostitusi terselubung. “Rasa makanannya sih biasa aja. Malah masih lebih enak masakanku. Tapi servis pemilik warungnya itu yang mungkin luar biasa,” kata Asriawatun, ketua arisan ibu-ibu Desa Bengawan, sambil tersenyum penuh arti.
Akhirnya, sebagian warga, mayoritas ibu-ibu menghadap kepala desa. Mereka dipimpin Mardiah, istri Ketua BPD Desa Bengawan, Jono Widaksono. “Keberadaan warung Banowati ini telah merusak tatanan sosial, kerukunan warga dan jadi sumber kemaksiatan. Pak Kades harus segera ambil tindakan!,” ujar Mardiah dengan nada tinggi. “Betul! harus segera ditindak tegas!,” teriak Mak Tun. “Tutup warung Banowati!”, tegas Markudel dengan nada provokatif. Dibelakangnya yel-yel dukungan dikomando oleh Muhlisin, Probo, Ali Sopan dan Markundi.
Pak Kades dengan sabar mendengarkan. “Saya sangat memahami keluhan bapak ibu. Namun, harap semua tenang. Tak boleh main hakim sendiri. Percayakan pada saya dan aparat desa lainnya,” responnya bijaksana, namun otoritatif. Warga pun menurut dan bubar dengan damai.
Kemudian, Pak Kades didampingi Jono mendatangi warung itu. “Dik Banowati, saya selaku kades minta njenengan ikut menjaga tata tertib dan patuhi norma masyarakat. Operasi warung dibatasi sampai jam 7 malam ya,” jelas Pak Kades dengan lembut. Jono yang berdiri disamping Pak Kades ikut mengangguk-anggukkan kepala. Matanya menatap tajam Banowati, dari ujung rambut hingga jempol kaki.
Banowati tidak membantah sepatah katapun. “Inggih, pokoknya saya manut Pak Kades saja.” Kata Banowati sambil menganggukkan kepala dan tersenyum manis. Senyuman itu bikin Pak Kades tersipu, jantungnya berdegup kencang. Hidungnya kembang kempis. “Heem, nggih sampun, ayo Mas Jono, kita pulang!” kata Pak Kades sambil menggamit lengan Jono Widaksono. Mata lelaki itu masih menyusuri tubuh Banowati.
Setelah kejadian tersebut, Pak Kades sering terlihat di warung Banowati. Alasannya memantau situasi dan menjaga suasana tetap kondusif. Warung pun tetap ramai pengunjung. Diantara pengunjung setia, terlihat Ucok Romadon, pemuda kota yang bekerja pada salah satu kontraktor.
Ucok sangat lugu, namun ramah dengan semua orang. Ia kos di salah satu rumah warga. Setiap malam, pemuda itu nongkrong di warung Banowati. Penampilannya perlente. Rambutnya disisir kelimis. Bau minyak wangi semerbak di seluruh tubuhnya. Senyumnya “sumringah”. Perut buncitnya berguncang setiap tertawa. Banowati sangat terhibur dengan hal-hal lucu yang sering diceritakan pemuda itu.
Baca Juga: Sapi Kurban
***
Melihat tak ada perubahan sesuai yang diharapkan, warga mulai tak puas dengan kebijakan kades. Dianggap tidak tegas dan permisif pada kemaksiatan. Isu liar pun berkembang, kades ada “main” dengan Banowati. Ali Sopan, pemuda yang pernah berkontestasi dalam pilkades, paling gencar menghembuskan isu tersebut.
Isu itu jadi bola liar yang terus memanas. Apalagi ada satu warga bercerita, pernah memergoki sesosok lelaki keluar dari rumah Banowati saat dinihari. Warga itu berusaha mengejar, namun lelaki yang dicurigai itu sangat sigap, menghilang tanpa jejak.
****
Hingga akhirnya, warga mulai melihat tanda-tanda perut Banowati membesar. Warga semakin heboh. “Gibahan” ibu-ibu semakin dahsyat. Kabar liar lainnya berhembus, Banowati hamil karena perbuatan Ucok. Apalagi, warga kerap melihat kedekatan pemuda itu dengan Banowati.
Ali Sopan dengan dukungan sekelompok pemuda akhirnya melaporkan ke BPD dan sesepuh warga. Mereka minta BPD bersidang. Merespon hal itu, Gus Hamim, sesepuh desa berinisiatif memfasilitasi permuyawaratan warga dan mengundang kades dan pihak terkait lainnya. Meski dinyatakan tertutup, namun warga tetap memaksa menyaksikan.
Demi menjaga suasana kondisif, dengan dikawal aparat, Pak Kades bersedia datang ke forum tersebut. Di lokasi itu juga sudah ada Banowati dan Ucok, dijaga ketat para pemuda desa. Para anggota BPD juga hadir. Namun, tidak terlihat keberadaan Jono Widaksono.
Di forum itu, ibu-ibu menghujat Banowati. Sumpah serapah mengalir dari warga.
Setelah warga tenang, barulah Gus Hamim membuka suara. Ia memulai dengan mengutip ayat-ayat kitab suci yang panjang. Setelah itu, Gus Hamim melanjutkan dengan ceramah yang tak kalah panjangnya. Lupa jika ini bukan pengajian.
Warga mulai terkantuk-kantuk, ibu-ibu gelisah. Gus Hamim bergeming. Diselingi batuk yang merajam, ia terus melantunkan ceramahnya. Suaranya tajam membelah ruangan. Intinya, berharap semuanya berpihak pada kejujuran dan kebenaran.
Baca Juga: Mahmud Van Basten
***
Ditengah tatapan puluhan mata yang ganas dari ibu-ibu, Banowati hanya bisa menunduk. Jari jemarinya memainkan ujung bajunya. Tubuhnya dibalut jaket hoodie, sekaligus menutup sebagian kepalanya. Air mata menetes disudut matanya. Namun, perempuan itu terlihat tegar.
Ucok tak kuasa menegakkan kepalanya. Terdengar isak tangisnya yang coba ditahan. Keringat mengucur deras. Disampingnya, Pak Kades juga terdiam dan menunduk. Kewibawaannya hilang, dikuasai tirani emak emak.
Dari bibir tipisnya, Banowati berkata lirih. ”Banyak laki-laki yang menyatakan suka. Ada mas Ali, Bang Ucok dan juga Pak Kades,” ungkapnya terbata-bata sambil menangis. Warga terhenyak dan mulai mengumpat mereka bertiga. Ali Sopan terdiam, Pak Kades terpekur, wajah Ucok makin memerah dan kepalanya tertunduk.
Banowati melanjutkan, “Namun.. yang berbuat ini bukan mereka…tapi, tapi, tapi,” ucapan itu terhenti. “Tapi siapa nduk?” Tanya Gus Hamim lembut. Banowati terisak, air matanya berderai dan dengan lirih menceritakan peristiwa terkutuk itu.
Gus Hamim seketika terhenyak mendengar pelakunya orang terpandang di Desa Bengawan. Banowati pun tak kuasa melawan rudapaksa itu.
Mulut ibu-ibu menganga lebar. Para bapak berguman lirih. Di sudut ruangan, Mardiah, istri Jono Widaksono terkulai pingsan!
Port Moresby, Juli 2024