Oleh:
SUHARSONO A.Q.S
Guru Bahasa Indonesia, mengajar di MAN 1 Lamongan
Wabah ini telah ditenggarai sudah menjalar di perkampungan Desa Timbun Roso. Segala lini lapisan sosial masyarakatnya sudah tertular penyakit mematikan ini. Tak ubahnya virus Corona yang pernah menghantui dua tiga tahun lalu. Bahkan lebih parah dari Corona. Kampung pemalas ini hanya mengandalkan keberuntungan dari Slot. Dari pagi hingga larut malam, mereka habiskan untuk begadang. Menunggu keajaiban turun dari langit. Wajah-wajah mereka, persis kain bekas yang lucek dan kumuh. Bau dan tak berharga.
Malam mulai bergelayutan ke perkampungan warga. Udara dingin menyelimuti pohon jati yang berdiri menggelilingi warung Cak Ukin. Musim Pancaroba segera tiba. Hawa dingin akan terasa lebih menusuk tubuh, tatkala malam semakin larut. Warung yang berukuran 5x5 meter itu penuh sesak oleh pengunjung.
Maklumlah, selain seduan kopinya yang khas, warung tersebut juga terpasang wafi yang bisa diakses dengan lancar dan mudah. Sehingga untuk mengundi nasib melalui Judol terfasilitasi dengan nyaman. Semakin malam semakin ramai para petarung di warung tersebut. Wifi itu terus menyala. Udara tak lagi dingin menusuk. Hawa panas mulai terasa diantara Cacian dan umpatan para petarung. Kadang nerocos tanpa pengendali rem yang jelas. Loos doll kata anak zaman sekarang.
Tanpa mereka sadari, uang dikantong amblas tertelan hiruk pikuknya permainan. Mereka dininakbobokkan dengan mimpi-mimpi panjang menjadi orang kaya. Tanpa kerja keras dan serba instan.
Padahal dari sepuluh permainan hanya satu kali kemenangan. Itu pun kadang membuat mereka bangga dan ketagihan untuk memulai perjudiannya lagi. Inilah umpan para pembisik yang terus bergerilya mematikan perekonomian rakyat. Hingga banyak korban berjatuhan. Tanpa disadarinya.
Lagi-lagi Slot memakan korban. Sri Utami menggugat cerai suaminya karena setahun lebih tidak menerima nafkah lahir batin dari suaminya. Keluarganya berantakan. Mimpi Gunawan menjadi orang kaya, kandas di tengah jalan. Harta bendanya ludes tak tersisa.
Padahal dulu sebelum kecanduan judi Slot. Ia pemuda bersahaja. Memiliki banyak ekor kambing sebagai matapencahariannya. Ia banyak meraup keuntungan puluhan juta rupiah dari ternak kambing yang digelutinya itu. Apalagi saat Idul Qurban kemarin. Permintaan semakin meningkat sampai ia kewalahan menerima orderan dari pelanggan.
Entah setan mana yang merasukinya hingga ia lupa anak istrinya di rumah. Terjerumus dalam judi online yang menjanjikan itu. Kini ia meringkuk di jeruji penjara saat tertangkap razia gabungan dari Polres setempat. Nasi sudah menjadi bubur. Hanya penyesalan yang datang belakangan. Di hotel prodeo ini, ia mulai menjalani kehidupan baru bersama para napi penjudi.
“Gawat, Gawat!!!, Gawaaat!!!, Tolong…Tolonnggggg…,” Sambil berteriak mencari pertolongan, Lek Su lari tergopoh-gopoh ke permukiman warga. “Ada apa Lek Su? pagi-pagi kok sudah berlarian seperti orang kesetanan!”, tanya Centini sambil membawa belanjan dari tukang sayur yang biasa mangkal di pertigaan.
“Sar…,to, Sarto! Gantung diri! Apa??? Jawab Centini. Seperti petir yang menyambar di siang bolong. Kabar duka ini menjatuhkan barang belanjaanya hingga tumpah ruah di jalan. “Duh…Gusti, Ampuni segala dosa kang mas Sarto Gusti…”. Tubuhnya gemetaran. Tangan dan kakinya terasa tidak dapat digerakkan lagi. Tubuhnya mendadak lemas tanpa daya. Mulutnya komat-kamit merapalkan doa. Tidak berapa lama kemudian warga kampung berkerumun di pertigaan kampung.
Bersama warga, lek Su menunjukkan tempat Sarto gantung diri. Mulailah mereka berjalan menyusuri jalan setapak menuju pohon mangga yang berdiri persis satu meter dari arah tempat pemakaman desa. Melihat Sarto yang terlilit tali di lehernya dengan lidah menjulur keluar. Centini jatuh pingsan. Ia tak kuasa melihat suaminya meninggal dengan jalan yang tak wajar.
“Innalillahi wainnailahi rajiuun”, Ucap Mahmud. Modin desa yang terkenal alim karena ilmunya. Dengan pandangan menunduk ke bawah ia mengucapkan istigfar berkali-kali. Tak terasa buliran air matanya menetes jatuh ke bumi. Menyesali perilaku warga yang mulai berubah 360 derajat. Semenjak ramai Judol di kampungnya. Segera sebagian warga membopong tubuh Centini yang lunglai tersebut ke gubuk persawahan.
Sedangkan warga yang lain berusaha menurunkan mayat Sarto yang sudah mulai kaku untuk dirawat jenazahnya. Dan dimakamkan layaknya jenazah warga lainya.
Usut punya usut Sarto meninggal karena terjerat hutang Pinjol untuk bermain judi Slot. Ia rela mencari jalan pintas dengan cara gantung diri karena tidak mampu membayar tagihan yang berlipat ganda tersebut.
Peristiwa yang menimpa Gunawan dan Sarto ternyata belum mampu menyadarkan warga tentang bahaya Pinjol dan Judol yang mengepung warga dari depan dan belakang mereka. Pembisik-pembisik itu mulai bergentayang menghisap perekonomian warga kampung. Hingga lumpuh tak berdaya. Hidup tak ubahnya menang dan kalah dalam gengaman gadget.
“Tak ada ceritanya para penjudi kaya-raya. Yang kaya raya itu bandarnya. Bukankah dalam kitab suci kita dijelaskan bahwa mengundi nasib dan berjudi itu perbuatan setan. Jauhi…jauhi agar kita selamat! Ucap Mahmud menyadarkan warganya. Ditengah-tengah gempuran Pinjol dan Judol yang masif.
**
Berita kurang sedap dan memilukan tersiar lagi. Hansa anak Yuk Supilah yang sekarang duduk di kelas 6 SD juga terpapar Judol. Anak yang masih belia ini nekat mengakhiri hidupnya dengan cara yang sama dengan gantung diri di kamarnya. Secarik kertas tergeletak di kamar tidur Hansa. “Yo Wes, lek aku gak diwenehi duwek neh satus ewo, mending aku kendat wae buk (Ya sudah kalau saya tidak dikasih uang seratus ribu lagi lebih baik saya gantung diri saja, Buk.”, Ujar Hansa sebelum mengakhiri hidupnya.
Hasil autopsi terhadap korban, kata petugas Polsek setempat, ditemukan adanya gantung pada leher korban yang mengakibatkan gangguan pernapasan dan menyebabkan mati lemas, “Berdasarkan hasil autopsi dan visum luar tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan atau penganiayaan,”Katanya.
Warga mulai berdatangan saat mobil jenazah dari rumah sakit telah tiba. Segera modin desa dibantu warga dan keluarga almarhum merawat jenazah dan dimakamkan di tempat pemakaman desa secara layak.
“Segera ambil tindakan pak Lurah! kampung kita ini tidak baik-baik saja. Sudah banyak warga yang meninggal akibat Pinjol dan Judol!” Gertak Mahmud, di balai desa suatu siang. “Kita kumpulkan warga untuk kita berikan penyuluhan agar mereka sadar atas kelalaian mereka selama ini, pak Lurah.” Ujar Mahmud dengan penuh semangat. Salah satu perangkat desa menyela pembicaraan, “Warga sudah cukup Cerdas, Mahmud. Mereka bisa memilah dan memilih mana yang benar dan mana yang salah. Tidak usah kita kumpulkan mereka sudah paham! Buang-buang waktu dan tenaga saja.” Ucap wak Bayan dengan sinis.
“Apa kita biarkan mereka mati perlahan-lahan akibat Judol ini, mana hati nuranimu wak Bayan! Apakah bapak tidak kasihan dengan mereka? Apakah bapak tidak kasihan terhadap nasib kehidupan mereka semenjak Pinjol dan Judol bergentayangan di kampung ini? Apakah? jangan-jangan pak Lurah, Wak bayan mendapatkan fee dari pembisik-pembisik itu! Jawaaabbb!!!”,
Mahmud tak bisa membendung kekesalaanya selama ini. Wajahnya merah padam memandang dua orang dihadapanya itu. “Diaam kamu, Mahmud!!! Keluar kamu dari Sini! Dasar sok Alim.” Ujar pak Lurah dengan marah.
Ia tidak bisa berpikir jernih lagi untuk menuntaskan permasalahan pelik ini. Orang-orang yang dianggapnya sebagai pengayom masyarakat ternyata bersengkokol dengan bandar-bandar keparat. Sudah begitu parahkah kampungku ini. Kampung yang dulu dikenal menjunjung tinggi adat istiadat yang luhur dan bersendikan agama. Kini hancur berantakan akibat harta dan jabatan.
Segala sesuatu harus diukur dengan uang. Uang seakan segala-galanya dalam hidup. Uang seakan-akan menjadi kunci kebahagiaan seseorang. Padahal kebahagiaan itu milik siapa saja. Dengan hati kesal Mahmud meninggalkan balai desa dengan tangan hampa. Tetapi ia tidak berhenti sampai di sini. Ia akan menggunakan cara lain demi menyelamatkan warga kampung dari musibah Slot yang mengerikan ini.
Baca Juga: Mahmud Van Basten
Jalanan semakin lenggang, debu mulai beterbangan di sapu angin siang. Udara panas makin mengguap diantara aspal jalan yang mulai mengelupas. Dari kejauhan nampak Mahmud mengayuh sepeda tuanya kearah Barat. Sampai di pertigaan ia mengambil jalur kiri menuju warung Cak Ukin.
Kira-kira dua meter lagi ia sudah sampai di warung tersebut. Lalu ia sandarkan begitu saja sepeda tuanya itu di pohon jati.
“Tidak biasanya Gus Mahmud siang-siang ngopi ke sini, pasti ada apa-apa ini?”, gumam Cak Ukin dalam hati. “Kopi atau ngeteh, Gus Mud? Kopi pahit! Siap! Segera Cak Ukin menyiapkan cangkir dan lepek yang berjajar rapi di rak yang terbuat dari kayu jati.
Tiga sendok bubuk kopi dan guyuran air panas dari ceret aluminium mengeluarkan aroma kopi yang sedap. Disedunya kopi panas itu dengan sebuah pertanyaan ringan. “Dari mana ini tadi Gus? kok ndak biasanya siang-siang ngopi ke sini? Sambil diletakkanya secangkir kopi itu di hadapanya. Ia tidak segera menjawab pertanyaan Cak Ukin. Segera ia tuangkan kopi pahit ke lepek dengan hati-hati. Sedikit demi sedikit disruputnya kopi pahit itu dengan semburan asap rokoknya yang khas.
“Kopi pahit ini mengajarkan kita bahwa kehidupan tidak selalu menyenangkan, namun kita dapat memetik manfaat dari pengalaman yang pahit tersebut, Cak Ukin.”, jawab Gus Mahmud. Sambil melemparkan wajahnya ke jalanan kampung yang lenggang itu. Tak jauh dari mata memandang, ia terkejut melihat dua orang yang dikenalnya duduk sebagai pesakitan di mobil tahanan kejaksaan. Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi dan Keuangan (PPATK) memantau aliran dana yang diduga terkait dengan transaksi judi, baik judi konvensional maupun judi online.
Disinyalir dana tersebut masuk melalui rekening kedua orang pejabat desa tersebut secara tidak wajar. Diperkirakan kurang lebih milyaran rupiah yang terkumpul. Perlahan tapi pasti diikutinya mobil tahanan itu sejauh mata memandang. Hingga hilang di balik rimbun pohon jati tanpa permisi.
***
Bumi Utara, 3 Juli 2024
Editor : Yuan Edo Ramadhana