Sekitar 500 sedulur sikep lintas kabupaten saling bercengkrama di Pendapa Pengayoman Desa Kediren, Kecamatan Randublatung Rabu (10/7). Mereka mengenang awal mula ajaran sikep ditularkan di tempat yang saat ini dipakai rembug samin.
LUKMAN HAKIM, Blora.
SEBAGIAN peserta dari Kabupaten Pati saat menuju menuju lokasi dengan jalan jalan kaki, sebagian lagi naik kendaraan umum, ada juga yang naik motor. Semuanya tampak guyub rukun saling membantu terselenggaranya acara rembug sedulur sikep di Kediren.
Mereka berasal dari 6 (enam) Kabupaten - Blora, Kudus, Pati, Grobogan, Rembang dan Bojonegoro. Di Pendapa Pengayoman itulah para penganut sikep mengenang awal mula Samin Surosentiko mengajarkan ajaran sikep pada 1859 hingga 1941 Masehi.
“Pemilihan lokasi di Pendopo Pengayoman Samin, Desa Kediren, tempat ini dipercaya sebagai awal mula lahirnya ajaran laku sikep yang diajarkan Mbah Samin Surosentiko,” ujar Salah satu tokoh sedulur Sikep, Gunretno.
Di tempat itu, mereka melaksanakan rembug sedulur sikep dengan tema “Ngukuhi Wonge, Nutugno Babadane” (mengonfirmasi orangnya, melanjutkan ajarannya).
Desa Kediren, merupakan petilasan awal mula lahirnya ajaran Samin (sikep) sebelum menyebar ke berbagai wilayah sebagai pedoman hidup. Sebelum menjadi pendapa pada 2022 lalu, lokasi tersebut merupakan pekarangan rumah salah satu keluarga Samin Surosentiko.
“ Untuk itu, kami melaksanakan silaturahmi, rembugan bersama dengan mengundang seluruh sedulur sikep dari berbagai wilayah. Bertemu bersama di sini (Kediren), mengenang awal mula ajaran yang diajarkan simbah dulu,” ucapnya.
Acara tersebut juga sebagai bentuk konfirmasi sedulur sedulur sikep mana saja yang masih melaksanakan ajaran leluhur, dan melanjutkannya kepada anak cucu.
Pihaknya juga terus membuka pintu jika masih ada sedulur sikep dari wilayah lain hendak bergabung. Karena semua sedulur sikep itu ajarannya sama, hanya beda lokasi hidupnya.
“Rembug ini menandakan bahwa kita semua masih satu napas dari Kediren ini,” ujarnya.
Pihaknya berharap semua sedulur sikep di manapun berada mendapatkan pengakuan dan perlakuan yang sama dari Pemerintah. Termasuk dukungan dalam melestarikan ajaran sikep.
Dalam agenda tersebut, enam pejabat hadir membersamai rembug, yakni Bupati Blora, Arief Rohman, Pj.Bupati Kudus, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bojonegoro, Perwakilan Bupati Pati, Rembang dan Grobogan.
Bupati Arief Rohman mengatakan, rembug sedulur sikep sebagai salah satu upaya pelestarian kebudayaan tradisional yang telah diwariskan oleh leluhur. Pihaknya berharap dapat belajar banyak tentang kehidupan, kebijaksanaan, dan nilai-nilai kemanusiaan. Kegiatan tersebut penting untuk terus dikembangkan dan diperkenalkan kepada generasi muda.
“Semoga kegiatan ini dapat menjadi salah satu langkah nyata dalam upaya kita untuk melestarikan dan mengembangkan kebudayaan, ” ujarnya. (*/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana