Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Lembar Budaya: Mahmud Van Basten

Yuan Edo Ramadhana • Minggu, 30 Juni 2024 | 22:47 WIB
ILUSTRASI (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
ILUSTRASI (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

 

Oleh:
Ichwan Arifin
Alumnus Pascasarjana Universitas Diponegoro Semarang. Penulis opini dan cerpen. Tinggal di Port Moresby, PNG

 

MAHMUD Van Basten, lahir dan tumbuh besar di Desa Bengawan. Tidak ada setetespun darah Belanda. Menyandang nama itu, karena bapaknya mengidolakan Marco Van Basten, striker Timnas Belanda era 80-an sampai 90-an. Bapaknya berharap, anak lelakinya itu, kelak dikemudian hari menjadi pemain bola hebat selayaknya Marco Van Basten.

Harapan itu terwujud, setidaknya dalam kadar minimal. Sejak kecil hingga dewasa Mahmud menekuni sepakbola. Kemampuannya di atas rata-rata dibanding dengan sebayanya. Namanya dikenal luas di desa. Bedanya, Marco Van Basten tumbuh jadi pemain hebat, bermain di klub besar, seperti Ajax Amsterdam atau AC Milan. Mahmud Van Basten hanya bermain di klub kampung.

Dari sisi perawakan, Marco Van Basten tinggi besar, melebihi rata-rata orang Eropa. Berkulit putih, hidung mancung dengan rambut hitam agak pirang. Sebaliknya, Mahmud tidak tinggi. Bahkan lebih pendek dibanding sebayanya. Warna kulitnya gelap. Warna rambut pirang, hasil pengecatan di salon.

Sempat berpikir mengganti namanya jadi Lionel Mahmud, mengikuti idolanya, Lionel Messi. Postur pemain Timnas Argentina itu juga pendek, hingga dijuluki “La Pulga” atau La Pulgita alias kutu kecil. Meski demikian, La Pulga jadi pemain terbaik dunia. Niat itu diurungkan, karena persyaratan administratif yang ribet untuk perubahan nama.

*

Mahmud gantung sepatu setelah tidak kunjung dapat panggilan bermain di liga profesional. Namun, kecintaannya terhadap sepakbola tidak pernah luntur. Ia mendirikan klub sepakbola bernama Dulengga. ”Singkatan dari “kidule nggawan” alias Selatan Bengawan, “ jelas Mahmud.

Klub itu ditujukan untuk pembinaan bibit-bibit muda. Sebagai pengusaha, Mahmud jeli melihat peluang mengembangkan klubnya, hingga mendapatkan pendanaan dari beragam sponsor. Sepakbola, olahraga terpopuler di jagad raya, juga sangat membius warga Desa Bengawan. Keberhasilannya mengelola klub sepakbola, membuat masyarakat menaruh perhatian. Sebagai pemilik klub bola, namanya ikut membahana, dikenal khalayak luas.

Situasi itu membuat beberapa tokoh masyarakat mendorongnya terjun ke dunia politik. Kebetulan, masa jabatan Kepala Desa Bengawan akan berakhir. Momentum yang tepat untuk mengawali langkah politiknya.

Markonah, dikenal dengan sebutan Bunda Mar, kades petahana, baru menjabat satu periode. Jadi, punya kesempatan berkontestasi lagi. Selama menjabat, kebijakan politiknya banyak mengundang kontroversi. Ia banyak menempatkan orangorang dekatnya dalam struktur aparat desa. Proyek-proyek juga banyak diberikan pada rekanan yang dikenal dekat.

Mahmud mendengar banyak orang yang merasa tersakiti. “Leadership style” cenderung otoriter. Sebagian kalangan menyebutnya “adigang, adigung dan adiguno”. Falsafah Jawa yang mencerminkan sosok penguasa otoriter, “semau gue” dan jauh dari gambaran figur pemimpin yang melayani rakyat.

Namun yang tidak di ketahui Mahmud, Bunda Mar cakap mengambil hati orang. Gaya komunikasi janda muda itu sangat luwes, khususnya dengan masyarakat bawah dan kalangan bapak-bapak. Jarang “show off ” di muka publik, tapi intensif mengunjungi warga. Tentu amplop, paket dan sejenisnya selalu menyertai kunjungan tersebut.

“Baru era Bu Markonah inilah, ada kades yang sangat perhatian pada wong cilik,” ujar Mak Tun, ketua pengajian ibu-ibu di desa. Bicara soal “gizi” politik, kekuatan finansial Bunda Mar seolah tak terbatas. Membuat orang lain berpikir seribu kali sebelum memutuskan melawannya.

**

Baca Juga: Pekik Takbir Malam Hari Raya

Mahmud awalnya ragu. Dia sadar diri, bukan siapa-siapa. Namun makin banyak pihak menyatakan dukungan, akhirnya terbuai. “Kami, para pemuda siap menyukseskan pencalonan Mas Mahmud!” cetus Slamet, tokoh pemuda setempat, menyampaikan kebulatan tekad para pemuda. Belum lagi dukungan dari para penggila bola, pemain, supporter dan pengurus klub. Dukungan itu terkesan muncul natural, meski sesungguhnya dimobilisasi sosok bernama Markundi.

Perasaan Mahmud meleleh terharu. Akhirnya, bertekad bulat mengikuti kontestasi dan menantang petahana. Ia membentuk tim sukses berisi anak-anak muda. Tugasnya merumuskan visi-misi, strategi kampanye dan program unggulan. Tema utamanya revolusi karakter!

Meski finansialnya “cekak”, Mahmud tetap melihat “gizi politik” menentukan arus pilihan warga. Karena itu, tanah dan ladang warisan dijual sebagai biaya pemenuhan gizi tersebut.

Memahami sepakbola sebagai media promosi efektif menjangkau khalayak, Mahmud menggelar beragam kegiatan, seperti “coaching clinic” untuk anak-anak dan pemuda desa dengan mendatangkan pelatih lokal. Tak luput pula menggelar pertandingan antar kampung (tarkam) sebagai hiburan.

Tak dinyana, petahana juga menggelar acara serupa. Bedanya, yang digelar adalah tarkam sepakbola wanita. Tak tanggung-tanggung, belasan pemain papan atas sepakbola wanita selevel dengan Shafira Ika atau Muzdalifa diundang bermain.

Kehadiran para pemain bola cantik tersebut menyedot perhatian warga. Ditambah dengan beragam hadiah, uang dan barang dibagikan gratis.

Di sisi lain, penjabat sementara kades yang masih berkerabat dengan Bunda Mar, meningkatkan intensitas program bantuan sosial. Aparat desa dikerahkan untuk mendata warga. Tentu tidak hanya dalam rangka pendataan penerima bantuan, tapi juga ada pesan-pesan khusus terkait pilkades. Panitia pemilihan pun difasilitasi piranti penunjang tugas memadai. Dampaknya, meski secara “official” netral, namum kode-kode dukungan terhadap petahana tetap terlontarkan.

Hal yang tidak diketahui Mahmud, kemunculannya sebagai calon, tidak lepas dari skenario yang dikembangkan Bunda Mar. Survey internal mengindikasikan kemenangan mutlak, hingga Markonah berpotensi melawan kotak kosong. Inilah yang ingin dihindari. Namun, Bunda Mar juga tidak mau penantangnya dari keluarga atau “lingkaran dekatnya”. Harus ada calon lain supaya tetap terlihat demokratis. Tentu dengan kalkulasi, calon itu dapat dapat dikalahkan.

Pilihannya jatuh ke Mahmud Van Basten, karena sekian tahun silam, pemuda itu dianggap berani melawanya karena menolak penawaran akuisisi klub sepakbolanya. Selain itu, Mahmud dianggap naif dan mudah “dikerjain”.

Operasi senyap pun digelar. Tim bayangan petahanalah yang memunculkan wacana awal pencalonan Mahmud. Tanpa disadari, Bunda Mar menaruh orang-orangnya ke dalam lingkaran tim Mahmud Van Basten. Mereka bahkan dapat peran strategis. Karena itu, setiap gerak langkah Mahmud, dipastikan ada langkah antisipatif sekaligus peredamnya.

Hingga pada saat dibutuhkan, tokoh-tokoh penggerak utama tersebut digiring kembali ke pangkuan Bunda Mar. Mendekati hari pemilihan, warga dan orang-orang yang selama ini jadi bagian dari timses Mahmud Van Basten, mulai tak terlihat. Bahkan Slamet, Markudel, Kimul dan Markundi serta tokoh-tokoh lain yang selama ini dikesankan berseberangan dengan petahana, balik kandang ke pangkuan Bunda Mar.

Tetangga kanan kiri pun enggan berkunjung. Mahmud mulai menyadari, Ia telah dikerjai habis-habisan. Orangorang pun telah meninggalkannya. Bayang-bayang kekalahan, rasa malu dan kegelisahan terhadap tagihan biaya politik yang belum terbayar menggenangi benaknya. Kepala Mahmud terasa sangat berat. Pikirannya buntu. Sekilas matanya melihat botol Baygon dan obat sakit kepala, terasa menggoda.

Perlahan dunia jadi gelap. Sesaat kemudian, terdengar jerit tangis histeris Asriawatun memanggil-manggil nama suaminya, Mahmud Van Basten, yang terkulai tak berdaya.

*

Mahmud tergagap. Matanya nyalang. Sayu-sayup, terdengar namanya dipanggil, “Mahmud, bukain pintu mobil dan bantu masukin belanjaan ini!,” Dari sudut jendela mobil, terlihat sosok perempuan bertubuh subur dengan tangan penuh barang belanja menggedor pintu mobil. “Oh, maaf Bu Veni, saya ketiduran,” Mahmud pun tergopoh-gopoh membuka pintu mobil. Jantungnya masih berdegup kencang. Baru sadar kalau dirinya tertidur lelap saat menunggu bosnya belanja. “Mimpi sialan!”, ujar Mahmud lirih. (*)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Sepak Bola #wong cilik #politik #bengawan #olahraga #Mimpi #kepala desa #dunia politik #kades #Marco Van Basten