Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Lembar Budaya: Penunggu Pohon Pule

Yuan Edo Ramadhana • Minggu, 2 Juni 2024 | 21:04 WIB

Ilustrasi (AINUR OCHIEM/BOJONEGORO)
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/BOJONEGORO)

 

Oleh:
ANGGA ARI SETYAWAN

 

Daunnya yang tidak terlalu lebar terus melambai tertiup angin, seperti lambaian tangan anak gadis yang ditinggal berpisah oleh kekasih hati. Ada rasa sedih yang terkandung didalamnya. Batangnya yang besar dengan guratan berserakan tak beraturan menandakan usianya yang sudah melampaui beberapa zaman. Pohon Pule itu sebenarnya hendak dirobohkan oleh warga, namun karena mitos adanya penunggu pohon itu membuat takut warga. Jangankan menembang hingga roboh, memangkas rantinyanya pun tidak ada yang berani.

"TRO, Tro, anak laki lakimu!!” berlari tergopoh gopoh menuju masjid sambil teriak teriak yang membuat seisi masjid kaget mendengarnya. Jangan membayangkan masjid penuh sesak oleh jamaah. Hanya aku sebagai imam dan 2 orang tua renta yang mungkin sudah merasa takut di awasi oleh malaikat penjabut nyawa.

Aku yang menjadi imam sholat terpaksa mempercepat gerakan sholatku di rokaat terakhir karena suara Si Tan. tadinya sholatku khusuk, hanya berserah diri dan mengingat tuhan gara gara Si Tan yang membuat bubar semuanya. Selesai salam aku langsung menemui Si Tan tanpa dzikiran.

“Tro, anakmu ditangkap polisi, katanya selain pemakai dia adalah pengedar narkoba”

Adalah Si Tan yang selalu menemaniku dari kecil, dia selalu ada dalam keadaan apapun melebihi istri dan anak anakku sendiri. Dia teman sekaligus tetangga dekat rumahku. Namanya Tanadi Candra, aku memanggilnya Si Tan. Bujang lapuk yang gak mau menikah, kerjaannya Cuma menarik uang keamanan dan kebersihan bagi para pedagang kecil di desa. Meskipun terkenal dengan sebutan brandalan tapi dia teman baikku. Satu satunya orang yang berani mendekati pohon pule itu.

Selepas sholat isya’ di serambi masjid, aku merenung sendiri meratapi nasib anakku yang belum tuntas proses hukumnya. Kayaknya bakal lama dia mendekam di penjara karena barang bukti yang dibawanya terlalu banyak. Pikiranku melayang tak karuhan.

“Mungkin beberapa teguk bisa menghilangkan kegelisahanmu” Si Tan yang entah dari mana datangnya tiba tiba sudah duduk di sampingku. Mengagetkanku. Aku yang tidak melihat kedatangannya karena sedari tadi aku melamun. Bingung. “Sudahlah tidak mungkin aku meminumnya, kamu taukan aku seorang kyai di desa ini” jawabku menolak ajakkan Si Tan minum minuman keras. “Cobalah Sedikit saja, kalau gak sampai mabuk tidak haram kok” ucap Si Tan menyakinkan yang bau mulutnya tercium alcohol, tidak sampai sempoyongan sih namun aku tahu Si Tan sudah minum sebelum kesini.

Aku cukup menggeleng, dia tidak lagi memaksaku.

**

Baca Juga: Cakrawala Jingga di New Guinea

Beberapa orang asing datang melihat pohon pule di desa itu. Meminta izin kepada kepala desa untuk membelinya, rencananya mau ditanam lagi di Ibu Kota Negara. Sempat viral di media social sejumlah pohon pule besar besar diangkut dari Sumbawa ke ibu kota Negara Nusantara. Pohon pule memiliki nama ilmiah Alstonia Scholaris dan dikenal dengan beberapa nama lainya seperti white cheesewood, blackboard tree, hingga devil tree (pohon iblis) yang sepertinya cocok ditanam di taman istana Negara. Namun kepala desa menolak karena takut si penunggu pohon murka dan menyerang warga.

Meskipun begitu kadang di malam hari ada pasangan muda mudi yang terlihat berpacaran disana. Tempat yang dianggap angker tak membuat mereka takut, bahkan disukai oleh mereka karena sepi. Jangankan hantu, larangan tuhan saja tidak mereka takuti.

“Tro, Tro, anak perempuanmu!!!” Aku menghentikan adzan yang sedang ku kumandangkan untuk  memanggil sholat subuh bagi warga desa. Meskipun aku tau tak lebih dari tiga orang yang akan melakukan sholat berjamaah. Aku adalah muadzin, marbot, sekaligus imam disini.

“Anak perempuanmu” Si Tan terengah engah mencoba menceritakan. “Kenapa dia?” tanyaku yang masih berdiri memegang mic.

“Anak perempuanmu ditemukan warga dalam keadaan tanpa busana di bawah pohon pule, sepertinya habis diperkosa seseorang” “Dimana dia sekarang?” “Keadaannya Kritis, dibawa ke puskesmas oleh polisi”

Di lorong bangsal puskesmas yang sepi aku duduk sendiri, polisi selesai  menyelidiki. Anak perempuanku linglung, depresi, istriku di kamar menemani.

Menatap kosong kedepan tanpa tau apa yang harus dilakukan. Belum lama kasus anakku yang ditangkap polisi sekarang ditambah lagi cobaan seperti ini.

“Kamu mencurigai seseorang?” Si Tan sudah duduk tepat disamping kiriku, membubarkan lamunanku. “Semalam dia pamit nonton bioskop dengan pacarnya, dia sudah biasa pergi malam dan pulang larut pagi” aku menjelaskan.

“Kamu taukan apa yang harus kamu lakukan!!!” Si Tan Menyodorkan sebuah golok kepadaku. Golok yang sangat tajam. Golok yang biasa aku  gunakan untuk memotong kambing saat hari raya Idul adha.

“Aku tidak akan gegabah Tan, Polisi sudah menyelidiki. Aku hanya bisa pasrah menunggu, tidak lama lagi akan menemukan pelakunya”

“jangan berharap banyak pada institusi itu, jika kamu tidak punya cukup banyak uang untuk menyelesaikan kasus ini.” Si Tan selalu berkata realita yang ada.

**

Baca Juga: Lebaran Pertama Tanpa Ibu

Si Tanadi duduk bersandar dibawah teduhnya ranting pohon pule. Seperti biasa dia selalu ditemani oleh sebotol minuman keras. Dari kejauhan sayup sayup terdengar suara gaduh yang berlahan  mulai mendekatinya. Rombongan warga sedang mengarak seseorang meliwati tempatnya bersantai, Si Tan berdiri memastikan apa yang sedang terjadi. “Tro, Tro, Istrimu!!!”

Suara itu tidak asing bagiku, suara yang selalu memberiku kabar buruk akhir akhir ini, suara yang selalu menemaniku dalam keadaan susah maupun senang. Aku hampir trauma mendengar suara itu. “Ada apa lagi Tan?” tanyaku sembari memberi tanda halaman yang kubaca di dalam al qur'an. Merapikan bangku, menumpuk al qur'an ke tempatnya. Kemudian bergeser menghadap Si Tan untuk mendengarkan berita apa yang ingin dia sampaikan lagi.

’’Istrimu digrebek warga di dalam rumahmu sendiri bersama laki laki lain. Sekarang diarak warga ke balai desa” nafasnya tersengal karena menahan engap saat berlari kesini. Dia tidak perlu lagi repot repot mencari keberadaanku, karena jam segini dia hapal aku disini : masjid.

Aku bergegas menuju balai desa ditemani Si Tan, motor butut tua tanpa STNK membelah jalanan dan melaju kencang.

Sampai disana, aku melihat istriku dalam keadaan memprihatinkan. Dua dua nya hampir setengah telanjang, menyisakan pakaian dalam saja. Entah karena mereka sedang berzina kemudian digrebek warga, atau warga sendiri yang melucuti pakaian mereka. Salah seorang perangkat desa perempuan membawakan selimut untuk ditutupkan ke badan istri dan pria yang di sangkakan selingkuhannya. “Sudah, ceraikan saja dia!!”

Tanpa ingin mengetahui duduk persoalannya aku kemudian menjatuhkan talak padanya. Perceraian terjadi saat itu juga. Secara resminya bisa diurus belakangan. Aku dan Si Tan pergi begitu saja. Aku sama sekali tidak ingin melihat raut wajah istriku.

**

Baca Juga: Kartini Kembali, Membawa Mimpi

Sisa rokok tinggal sebatang, larut malam bagiku tak lagi mencekam, kesendirian lah yang telihat lebih menyeramkan. Keluargaku hancur berantahkan. Hanya iman yang saat ini ku pegang.

“Tro, di aplikasi hijau ada barang bagus. Mungkin bisa mengobati rasa penatmu”

Aku mengambil rokok, sedikit bergeser dari tempat duduk aku mencari korek, api menyala dengan sendirinya, Si Tan sigap menyodorkan. Satu hisapan dalam begitu menenangkan.

“Tan, kamu taukan aku ini siapa?”

“Tentu. Saputro Wijoyo, satu satunya haji di desa ini. Orang alim. Orang yang taat beragama. Orang yang sangat sholeh” ujar Si Tan menyanjungku.

’’Tapi kenapa ujian dan cobaan dating bertubi tubi kepadaku, padahal aku adalah orang paling baik di desa ini, orang paling dermawan di desa ini, orang paling rajin beribadah di desa ini, bahkan aku berani menjamin tidak ada orang se alim aku di desa ini” “Sudah cukup tugas sudah selesai, Tro!” Si Tanadi Candra tiba tiba menghilang begitu saja dibalik pohon pule. (*)



 

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#ujian #mitos #cerpen #kisah #Alim #pohon #pule #Cerita #penunggu #masjid