Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Keseruan Tradisi Sawuran di Desa Gedangdowo, Saling Lempar Jajanan dengan Canda Tawa

Yuan Edo Ramadhana • Minggu, 26 Mei 2024 | 00:34 WIB
SERU: Ratusan warga Desa Gedangdowo, Kecamatan Jepon gelar sedekah bumi dengan tradisi sawuran berupa saling lempar jajanan kemarin siang (24/5). (IST/RADAR BOJONEGORO)
SERU: Ratusan warga Desa Gedangdowo, Kecamatan Jepon gelar sedekah bumi dengan tradisi sawuran berupa saling lempar jajanan kemarin siang (24/5). (IST/RADAR BOJONEGORO)

 

Musim panen telah tiba. Para warga Desa Gedangdowo, Kecamatan Jepon menyambutnya dengan sedekah bumi berupa tradisi sawuran. Yaitu, tradisi saling lempar jajanan penuh keakraban dan canda tawa

RATUSAN warga dari berbagai daerah berjubel di salah satu makam leluhur di Desa Gedongdowo, Kecamatan Jepon, Jumat siang (24/5). Diketahui, warga tersebut rela antre dari pagi hanya untuk menyaksikan tradisi sawuran.

Di tengah makam telah tersedia gunungan berisi jajan khas daerah dan nasi disiapkan panitia untuk dipakai tradisi itu. Uniknya, sawuran tetap dilaksanakan, meski di tengah harga bahan pokok yang kian terus melonjak.

Warga yang menyaksikan terlihat puas dengan aksi saling lempar jajanan tersebut. Walaupun terlihat seperti kerumunan orang sedang tawuran dengan saling lempar jajanan, namun usai kegiatan mereka tampak masih rukun dan guyub.

Keriuhan serta pekik teriak warga yang ikut tradisi sawuran tentu menjadi tontonan hiburan tersendiri. Mereka penuh semangat saling lempar jajanan dibarengi canda tawa.

Kepala Desa (Kades) Gedangdowo Sutikno mengatakan, tradisi sawuran sudah dilakukan sejak nenek moyang. Ia akui, sebagai kades, ia tidak bisa melarang kemauan warga. Menurutnya, meski terkesan mubazir, namun berdampak pada hasil panen yang terus melimpah.

’’Ini sebagai warisan budaya kami. Jadi, seperti ini cara kami menunjukkan rasa syukur atas kekayaan alamnya. Ada asumsi mubazir dari orang lain. Tapi, buktinya ini budaya kami dan kami tak pernah merasa kekurangan hasil panen,” terangnya.

Sutikno berharap tradisi seperti ini supaya terus dilestarikan warga. Karena merupakan tradisi peninggalan para pendahulu. ’’Dari awal sudah saya imbau ke panitia untuk mengawasi peserta sawuran agar tidak ada saling rasa dendam. Jadi, memang untuk senang-senang,” jelasnya.

Sementara itu, pengunjung yang datang di acara tersebut, Supriyanto mengatakan, sebagai pengunjung merasa terhibur adanya tradisi sawuran. Karena sawuran di Desa Gedangdowo merupakan satu-satunya di Blora.

’’Tradisi sawuran sudah diadakan sejak saya masih kecil dan sering diajak orang tua untuk menyaksikan. Sebenarnya, takut juga kalau ketimpuk, tapi seru,” ucapnya. (hul/bgs)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#warisan #sawuran #Budaya #jepon #jajanan #buah #blora #Tradisi