Oleh:
ICHWAN ARIFIN
Alumnus Pascasarjana Universitas Diponegoro Semarang. Tinggal di Port Moresby, Papua New Guinea (PNG)
SEMBURAT matahari menelusup awan berarak di langit. Saat senja, hanya cahaya matahari dengan panjang gelombang merah dan oranye, mampu menembus atmosfir. Membuat cakrawala seolah dilukis warna jingga. Menakjubkan!
Zahra menikmati suasana sembari menyeruput “ice hazelnut bianco latte”. Perempuan muda itu duduk sendiri di “Alibi”, sebuah “Bar & Grill” di Harbourside, Port Moresby. “View” nya menghadap ke laut lepas. Favorit buat nongkrong anak-anak muda dan para ekspatriat.
Zahra memilih meja di luar sembari melihat irama ombak. Terpaan cahaya senja menyentuh halus wajahnya yang putih bersih. Rambut panjangnya dibiarkan terurai, menari dihembus angin pantai. T-shirt hitam membalut tubuhnya yang semampai. Kontras dengan kulitnya yang putih. Dipadu dengan “dark blue skinny jeans” serta kacamata hitam bertengger di hidungnya yang mancung. Makin keren!
Dekorasi Bar & Grill didominasi nuansa kayu, termasuk meja, kursi dan lantai. Tanaman hias diletakkan di beberapa sudut. Di bagian luar, sebagian ruangan ditutup atap kayu, tanpa dinding. Kipas angin besar di plafon menyejukkan udara. Meja-kursi disusun memutar. Di tengahnya ada panggung kecil, tempat musisi meramaikan suasana dan menghibur pengunjung.
Sore itu, mereka memainkan musik akustik. Lagu-lagu barat era 90an bernuansa “mellow” dilantunkan sang vokalis. Zahra sangat menikmati. Suasana hatinya larut. Tak disangka, tiba-tiba mereka menyanyikan lagu Indonesia. “Terendap Laraku” Naff, dinyanyikan sangat fasih, membawa ingatan Zahra ke tanah air.
Sudah lama Zahra tidak pulang. Sejak bekerja di sebuah perusahaan multinasional, hampir seluruh waktunya dihabiskan di luar negeri. Dua tahun ini, Zahra tinggal di Port Moresby, Papua New Guinea. Di peta dunia, kota ini terletak di “ekor” nya pulau Papua.
Menyandang status ibu kota negara, Port Moresby berbeda jauh dengan Jakarta atau kota-kota besar lainnya. Tak banyak “kehidupan” bisa ditemukan. Saking sepinya, waktu serasa berjalan lambat. Sebagian besar area berupa perbukitan atau lahan kosong. Jalan-jalan tidak begitu lebar dan hanya menghubungkan Port Moresby dan sekitarnya. Akses ke kota lain mesti ditempuh jalur udara. Transportasi publik difasilitasi bis-bis tua. Taksi juga lebih banyak yang sudah usang.
*
Dalam hati, Zahra rindu pulang. Ia telah melewatkan beberapa momen spesial seperti hari raya. Jarak jauh dan kesibukan kerja jadi alasan. Meski itu bukan yang sesungguhnya. “Nggak papa, Mama paham jika Zahra nggak bisa pulang, yang penting sehat yaa Nak,” kata mamanya, setiapkali Zahra bilang tidak bisa pulang.
Bagi Zahra, pulang, lebih banyak membawa kepedihan. Memaksanya menyiapkan jawaban atas ragam pertanyaan. Entah terlontarkan atau bisik-bisik di belakang. Apalagi saat berkumpul dengan keluarga besar. Pertanyaan sama dari tahun ke tahun selalu didengarnya.
Sejak sekolah atau kuliah, selalu saja ada yang menanyakan hal-hal personal setiapkali bertemu keluarga besar. Sudah punya pacar? Kapan menikah?
Bahkan jika sudah menikahpun, masih ada pertanyaan, kapan punya anak? Bagi yang sudah punya anak, ditanya kapan nambah momongan? “Hidup koq seolah menjawab pertanyaan orang aja,” ungkapnya kesal.
Zahra memahami, ragam pertanyaan itu karena peduli. Namun, Ia tetap terganggu dan terbebani. Lebih kesal lagi, selalu ada yang membanding-bandingkan dengan Zahira, saudara kembarnya. Zahra lahir lebih awal. Karena itu, diperlakukan sebagai kakak. Meski kembar, namun sifat dan karakter keduanya bertolak belakang. Zahira lebih lincah, hangat, mudah bergaul dan terbuka. Sedangkan Zahra cenderung tertutup, tak banyak bicara dan lebih suka menyendiri.
Saat kuliah, mereka berteman dekat dengan cowok yang sama, Argadia. Zahra kenal lebih dulu, baru kemudian Zahira. Dalam pandangan keduanya, kakak angkatan di kampus itu sangat dewasa, keren, visioner, sopan dan perhatian. Mereka sering nongkrong bertiga, sekedar “nugas” di gerai kopi, ataupun ikut kegiatan kampus. Tanpa disadari, benih-benih cinta tumbuh di hati Zahra dan Zahira, meski tak terkomunikasikan secara verbal.
Argadia pun memendam asa yang sama, khususnya pada Zahra. Namun tak pernah disampakan terbuka. Asa itu perlahan meredup setelah Argadia menyimpulkan sinyal perasaannya tak bersambut. Zahra, setali tiga uang. Tak pernah mengeskpresikan secara verbal perasaan sayangnya. Justru, Zahira lebih terbuka dan eskpresif. Argadia pun merasa nyaman bersamanya.
**
Hingga pada satu waktu, Zahira berkata kepada kakaknya,”Kak Zahra, aku suka banget ma Kak Argadia, dan pengin serius. Aku rasa, perasaannya juga sama, cuma dia nggak mau ngomong aja. Bikin bete..”, ungkapnya polos. Zahra terhenyak. Namun hanya selintas.
Ekpresinya kembali datar.
Zahira tidak bisa membaca perasaan kakaknya. Dalam benaknya, kakaknya menganggap Argadia sebatas teman. Kakaknya juga yang mengenalkan dirinya dengan Argadia. “Ya coba aja kamu ngomong duluan ma Arga. Nggak ada salahnya koq bicara terbuka. Perempuan bukan tempat menunggu.” Jawab Zahra.
Selepas momen itu, adiknya tak pernah membicarakan hal yang sifatnya pribadi. Zahra juga tak pernah menanyakan pada Zahira dan Argadia, meski dalam hati kecilnya merasakan ada yang spesial diantara mereka berdua. Pola interaksi mereka bertiga juga tak berubah.
Hari, bulan dan tahun berganti. Momen yang membuahkan “mixed feeling” pun tiba. Argadia dan Zahira mengungkapkan rencana pernikahannya. Mereka tidak mau berpacaran dan ingin menikah muda. Argadia juga sudah lulus kuliah, dan diberi tanggungjawab menakhodai perusahaan orang tuanya. Kedua orang tua masing-masing pun merestui. Zahra pun terlihat gembira. Namun, begitu acara lamaran usai, Ia meriung sendiri di sudut kamar. Air matanya mengalir deras. Hatinya remuk, perasaannya terluka, perih! Namun, Zahra tak pernah sekalipun menyalahkan adiknya dan Argadia.
Tidak mudah menghapus rasa dan luka. Zahra hanya ingin secepatnya pergi. Karena itu, selepas kuliah, Ia meniti karir di perusahaan multinasional yang memberinya kesempatan pergi jauh. Berpindah dari satu negara ke negara lainnya. Namun. luka dihatinya masih menyisakan trauma.
*
Langit jingga perlahan memudar. Matahari telah sepenuhnya tenggelam, Tiba-tiba ada cowok mendekati mejanya, “Hi Zahra, didn’t realize you’re here too! Can I get you a drink?” tanya cowok bule itu. Zahra tersenyum dan menggelengkan kepala. Scott Macmillan, namanya, teman satu kantor. Meski beda departemen, namun Scott sering ke meja kerjanya, berbasa basi atau sekedar menyapa. Zahra tahu, Scott dan ada beberapa laki-laki lain coba mendekatinya.
Namun, pintu hati Zahra sulit terbuka. Bibir tipisnya lirih mengikuti lantunan sang vokalis, “Lambat sang waktu berganti. Endapkan laraku di sini. Coba ‘tuk lupakan bayangan dirimu. Yang selalu saja memaksa ‘tuk merindumu.” (*)
Editor : Yuan Edo Ramadhana