Penulis: Gys Shella Anggita Putri
Pagi ini aku beranjak dari kasurku, mendapati baju putih abu-abuku yang sudah menggantung di depan lemari, ya siapa lagi yang menyediakan selain bibi.
Hari ini adalah hari pertama ku masuk Sekolah Menengah Atas. Aku sekolah di salah satu SMA favorit di kotaku. Aku berangkat mengendarai motor kesayangan melewati jalan raya yang selalu ramai dipagi hari. Aku melihat lalu lalang manusia dipagi hari, hiruk pikuk pecah menjadi satu.
Mereka yang ramai dengan pikiran dan kegiatan nya masing-masing. Aku sampai di koridor mencari tempat duduk yang kosong. Pagi ini ramai sekali dengan anak-anak seusiaku dengan baju kedodoran, sama denganku. “Seluruh siswa baru segera ke lapangan” ucap ketua osis. Aku bergegas berlari kelapangan. Hari ini adalah hari pertama aku upacara pertama di bangku SMA. Rasanya masih ingin kembali ke masa putih biru bersama sahabat-sahabatku di gedung yang sama, Namun, waktu terus berjalan dan semua menjadi masa lalu. Aku berdiam di bawah terik matahari.
“Hai, kenalin gue Lana” manusia di sampingku yang tiba-tiba menyodorkan tangan nya untuk mengajak ku berkenalan. “Halo gue Rachel” aku menjabat tangan nya dengan muka ramah berharap kita bisa berteman hingga lulus. Aku dan Lana sangat akrab kami kemanapun selalu bersama bahkan ke wc pun Lana dengan senang hati mengantarku untuk kesana. Kami juga bertukar nomor ponsel dan mutualan akun Instagram.
Hari ini jadwal Lana menjemputku rumah kami dekat dan searah. Kami sering berangkat pulang bersama. Pagi ini bibi membawakan ku bekal udang saus padang dan juga pete bakar. Bibi membawakanku bekal banyak biar bisa ku nikmati bersama Lana. Aku berjalan di Lorong sekolahku dengan Lana. Kami berdua bertemu ketua osis yang sangat di kagumi oleh anak-anak seusiaku. Katanya dia tampan dan juga maco. Ketika bertemu muka Lana merah masam dan kegirangan.
“Ra lo tau ga sih ketos yang di omong sama anak-anak itu?” ucap Lana saat kita berjalan.
“Gue tau tapi menurut gue pandangan orang itu terlalu berlebihan.”
“Kok gitu sih? Kak Dirga seganteng itu, satu sekolah aja ngakui.”
“Hah Dirga??”
“Iya Namanya Dirgantara Alaydrus.”
Kenapa nama itu seakan menghantui ku lagi. Aku sudah melupakanmu Argi, Apa ini reinkarnasi kamu? Aku merindukanmu.
Argian Dirgantara mantan kekasihku. Kita sahabat dari kecil, pada ulang tahunku dia mengungkapkan isi hatinya. Hubungan kami baru berjalan dua bulan, namun Argian meninggalkan ku untuk selamanya karna ia sakit. Aku yang sudah bersahabat dari kecil tidak tahu dengan apa yang terjadi padanya. Jahat sekali bukan? Aku menyesali sikapku waktu itu. Tapi semua telah berlalu, Aku harus melupakan Argi agar aku bisa menjalani hidupku.
“Lo kenapa diem?” tanya Lana karna melihatku yang tiba-tiba terdiam.
“Gapapa kok gue laper hehe. Eh, btw gue di bawain bekel banyak sama Bibi biar lo juga sarapan.”
“Ya ampun.. ngerepotin banget, thanks Ra.”
Aku berada di sekolah hingga sore karna memang sudah masuk seperti biasa. Aku berkenalan dengan anak-anak di kelas. Mereka menerimaku dengan baik, dan akupun begitu. Aku pun dekat dengan Yani, Adel, dan Diva. Tapi meskipun begitu Lana lah pemenangnya. Aku terlalu picky dalam pertemanan, tidak semua orang bisa berteman atau bahkan menjadi sahabatku. Aku memiliki trauma dalam pertemanan, dulu waktu aku masih duduk di bangku sekolah dasar, aku memiliki sahabat yang ternyata diam-diam menusuk dari belakang. Sekarang hubungan persahabatan kami menjadi asing. Aku juga tak ingin orang jahat masuk dalam kehidupanku.
“La thanks yah.. semoga lo ga bosen gue tebengin terus.” Ucapku ke Lana karna ia mau antar jemput hampir tiap hari.
“Dengan senang hati Raa..”
“Btw tadi lo banyak diem di kelas lo gapapa kan.”
“Ha-aa? Gue baik-baik aja kok La, Aman.” Kataku menenangkan Lana dan mengangkat jempol.
“Oh yaudah, kalo lo ada apa-apa bilang gue jangan sungkan, gue pulang dulu.”
Aku mengangguk mendengar ucapan Lana. Aku masih berdiri depan pagar rumahku sembarin melihat punggung Lana yang semakin jauh. Untuk saat ini alasanku untuk semangat sekolah hanya Lana. Manusia pendek agak bawel bernama Lanaya Pramesti, tapi meskipun begitu aku sayang sama Lana. Aku berdoa agar hubungan persahabatan kami hingga tua.
Hari-hariku yang ku lewati bersama Lana agak mengubah pandangan hidupku dan mindsetku, meskipun Lana terlihat bocil tapi ia sangat dewasa. Berapa hari ini aku memiliki masalah keluarga yang tak kunjung selesai. Papa dan Mama berkelahi setiap mereka pulang kerja. Namun semenjak aku mengenal Lana hari-hariku tak terasa berat lagi. Lana seorang yatim piatu ia hidup bersama tantenya. Sekarang aku mengerti mengapa kami dipertemukan, karna kami sama-sama memiliki luka, yang seharusnya kami obati bersama-sama dan saling menguatkan. Persahabatan kami telah berjalan satu semester. Dari hari ke hari persahabatan kami makin erat. Lana juga banyak sekali membantuku dalam hal apapun, hingga Lana sering menginap dirumahku hanya untuk membuat kue ataupun mengerjakan PR.
Malam ini, Aku bertemu Lana di Café, untuk bermalam mingguan seperti anak muda pada umunya. Aku datang terlebih dahulu dan memesan minuman red velvet kesukaanku. Aku mencari tempat duduk yang menurutku nyaman. Sembari menunggu Lana aku bermain ponselku. Aku melihat notif Instagram.
“@dirgan.tara requested to follow you.”
“Ini ketua osis itu bagaimana ia bisa tau account instagramku?” aku bergumam.
Tak lama kemudian Lana datang dengan wajah sumringah, seperti ada sesuatu yang akan di bicarakan.
“RAAAAAA. Lo tau ga? Gue tadi ketemu kak Dirga, dan dia nanyain lo.”
“Masa sih??”
“Dia tuh suka sama lo Raa.. Lo nya aja yang ga peka.”
“Apasih lo.”
Aku benar-benar kaget dengan apa yang dikatakan Lana barusan. Bahkan sekarang aku berada fase mati rasa. Aku lupa bagaimana rasa berbunga-bunga, aku lupa dengan semuanya.
“Raa.. sorry gue bukan bermaksud menyinggung, gue tau ini berat bagi lo. Tapi Argain Dirgantara udah gaada, dan mau bagaimanapun lo harus tetep ngelanjutin hidup. Lo sekarang emang gabutuh pasangan tapi suatu saat nanti lo bakal butuh pasangan Raa..”
“G-gue gabisa Laa.. Gue gabisa lupain hal itu. Gue sayang sama Argian.”
“Tapi gaada salahnya lo ngebuka hati dikit aja buat ngobati perasaan lo yang mati itu.”
“Lo gabisa maksa gue.”
“So-rry Raa.. gue ga bermaksud nyakitin hati lo, sorry ya Raa.”
Tak terasa air mataku benar-benar menetes. “Aku gak bisa hidup tanpa Argian” dalam hati aku selalu mengatakan hal yang sama. Seakan semuanya seperti mimpi, aku juga masih tak percaya Argian secepat itu meninggalkanku. Aku menangis dalam pelukan Lana. Lana menyoba menenangkanku karna ia juga merasa bersalah, malam minggu yang harusnya happy kini menjadi mellow.
Tak terasa semua berlalu, hari demi hari ku jalani tanpa kehadiran Argian. Dulu setiap malam aku selalu cerita panjang lebar tentang seru nya hari ini. Meskipun sekarang terasa kesepian tetapi aku memiliki Lana yang selalu siap untuk mendengarkan segala ceritaku.
Hari ini aku bersemangat sekolah karna akan mengikuti seleksi osis. Tak ada yang membuatku minat terjun organisasi kecuali Lana. Lana lah yang memaksa aku untuk menemaninya untuk daftar kepengurusan osis, yang akhirnya aku menerima permintaan dari nya.
“Raa.. gimana lo udah siap?” tanya Lana kepadaku
“Lah.. apa yang harus disiapin, gue ga belajar apa-apa.”
“Hah?? Gimana si lo, lo ga baca materi yang gue kirim kemarin?”
“Ga.”
“Lo siapin mental aja hahaha, soalnya yang ngetest nanti Kak Dirga.”
“Hah, sumpah kenapa lo ga bilang, tau gini gue ga ikut.”
“AHAHAHAHA, gue sengaja mau jomblangin lo.”
Muka ngeselin dari Lana yang membuat aku malas untuk menanggapi. Setiap hari Lana selalu bahas Kak Dirga sampai aku bosen mendengarkan nya. Lagi pun kalau dia memang suka padaku, dia akan berusaha mendekatiku tapi ini sama sekali. Manusia aneh adalah Kak Dirga.
“Rachel Swastamita.” Anggota osis lain yang memanggil namaku untuk masuk kedalam ruangan dan memulai test.
“Semangat cintaku.” ucap Lana dengan nada sedikit mengejek.
Aku masuk kedalam ruangan yang hanya ada Kak Dirga didalamnya. Aku deg-deg an, baru kali ini rasanya aku sedekat ini dengan Kak Dirga, dan aku gatau apapun materi yang akan dipertanyakan nanti.
“Kenalin aku Rachel Swastamita…”
“Gue udah kenal lo, gausah kenalan.”
“Huffffttttt.” Rasanya aku ingin menampol muka nya yang sok cool itu. Ngeselin banget.
“Apa kontribusi lo ikut osis? Karna pengen kenal lebih deket sama gue?”
“Ga, aku dipaksa temen, dan aku gaada niatan apapun selain itu.” Jawabku dengan ketus dan aku meninggalkan ruangan itu. Sesak rasanya berada diruangan dengan orang aneh. Aku keluar dengan muka masam. Lana sampai kebingungan dengan apa yang terjadi padaku waktu itu.
“Gue gabetah liat muka dia. Muak banget.”
“Ya ampun Ra.. gue ngakak banget HAHAHAH.”
“Apa sih galucu juga.”
“Meskipun Kak Dirga ngeselin tapi ganteng kan.”
“Ganteng dari mana? apasih lo sama aja ngeselin.”
Setelah hari menyebalkan itu, Kak Dirga jadi lebih sering ke kelasku, sekedar menemui ketua kelas atau membagikan informasi mengenai kepengurusan osis. Kak Dirga juga sering ketahuan sedang melihatku entah dari jauh atau dari dekat. Aku tak merasakan rasa cinta sedikitpun meski mendapat dorongan dari Lana, dan teman-teman Kak Dirga yang tau kalau aku disukai oleh Kak Dirga, bahkan satu sekolah pun sekarang tau.
“Raa.. sorry ya gue gabisa nganter lo, gue harus ke rumah sakit sekarang, lo hati-hati ya Ra.”
Lana berpamitan kepadaku, ia mendadak harus pergi ke rumah sakit karna Tantenya sakit.
“It’s okey La! Lo hati-hati ya, kabarin gue kalo ada apa-apa, okeyy?”
Lana pergi meninggalkan ku di halte sendirian. Lagipun aku belum keinginan buat pulang, karna malas dirumah. Dari kejauhan terdengar suara motor khas dari Dirgantara Alaydrus. Tubuhnya yang tinggi, mata coklat, berkulit putih. Badan yg kekar siapa yang tak tergila-gila melihatnya.
“Ra, lagi nunggu siapa?” tanya Kak Dirga kepadaku
Padahal aku sudah memalingkan wajah, agar ia tidak menyamperi aku, jujur saja aku malas menanggapinya.
“Nunggu temen.” Jawabku dengan nada ketus.
“Lah.. temen lo kan udah pulang, lo ga pulang.”
“Gak.”
“Lo kenapa sih sensi banget sama gue, gue ngakuin kalo gue salah ke lo, ayo naik gue antar pulang.”
“Gak.” Demi apapun aku deg-deg an meskipun agak jengkel.
“Ini uda mau ujan Ra. Lo mau sendirian di sini.”
Sore ini memang mendung dan sebentar lagi akan hujan deras, tak ada pilihan lain selain mengiyakan ajakan. (*)
Editor : Hakam Alghivari