Penulis: Suharsono
Ling Lung semakin menjadi lupa daratan. Bapak satu anak ini menjadi kalap saat menjelang pemilihan kepala desa yang akan dilaksanakan bulan ini. Tak ayal, segala cara dilakukannya demi memuluskan tampuk kepemimpinannya itu.
Aim sukses mulai kelayapan membagi sembako dan uang sebesar lima ratus ribu rupiah per kepala. Belum lagi janji-janji manis yang diobral, jika ia terpilih menjadi kepala desa.
Katanya, ia akan menggratiskan biaya kesehatan bagi warganya yang sakit. Katanya, ia akan mengratiskan biaya pendidikan bagi anak-anak yang kurang mampu. Dan banyak lagi janji-janji manis yang terlontar dari bibirnya, agar ia terpilih kembali menjadi seorang kepala desa.
Orang-orang mulai kasak-kusuk membicarakan janji manisnya itu. Desa yang ia pimpin, ternyata berbanding terbalik dengan apa yang dijanjikannya. Sarana dan prasarana jalan yang menuju kampung Sido Makmur itu rusak parah. Banyak terjadi insiden kecelakaan akibat jalan rusak yang tak kunjung diperbaiki. Padahal dana desa sudah diglontorkan pemerintah pusat untuk membangun struktur jalan. Lampu penerang jalan pun dibiarkannya mati tanpa ada perbaikan dari aparat desa. Bangunan sekolah rusak dibiarkan merana begitu saja. Puluhan siswa terancam keselamatanya. Belum lagi genting bocor yang mengharuskan siswa terhambat belajarnya ketika musim hujan. Hal-hal ganjil inilah yang menjadikan Jarot menjadi naik pitam. Ia bersama sebagian warga desa pernah mempertanyakan anggaran dana desa yang semestinya digunakan untuk pembangunan ke kantor kepala desa. Malah ia menjadi sasaran amarah dan umpatan sumpah serapah Ling Lung. Jarot bersama sebagian warga akhirnya pulang dengan tangan hampa. Ia tak mampu membendung ambisi kepala desanya itu untuk memperkaya diri dan keluarganya dengan uang haram.
Matahari terlihat malas saat berangkat dari peraduannya. Cahayanya tak lagi memancarkan sinar keemasan di pucuk-pucuk pohon pisang. Burung-burung yang biasanya ramai menyambut pagi, kini nyaris tak terdengar cericitnya. Desa yang diapit oleh dua sungai besar itu tak ubahnya akan ditenggelamkan oleh ambisi kepala desa yang haus akan kekuasaan dan jabatan. Untuk membendung ambisi tersebut, sudah ada dua kandidat yang siap maju dalam perhelatan akbar ini. Ia adalah Jatmiko dan Suyatno. Dua calon kandidat kepala desa ini memiliki beground pendidikan yang berbeda. Jatmiko pemuda desa yang pernah menjabat sebagai ketua BEM di salah satu perguruan tinggi negeri kota pahlawan adalah lulusan terbaik teknik sipil. Ia siap kembali ke kampung halamanya, demi memajukan dan memakmurkan tanah kelahiranya. Suyatno pemuda desa dengan predikat Cumlaude dari salah satu perguruan tinggi negeri kota Semarang adalah lulusan sarjana agama. Ia juga turul andil dalam memajukan desanya yang telah lama ia tinggalkan. Harapan besar warga bertumpu pada mereka berdua. Mereka menginginkan perubahan kepemimpinan di desanya. Mereka tak ingin lagi dipimpin oleh pemimpin yang tidak memihak pada kepentingan umum. Mereka tak ingin lagi dipimpin oleh pemimpin yang hanya pandai bermain retorika dihadapan warga masyarakat.
Gambar tiga calon kepala desa sudah menghiasi setiap gang di kampung Sido Makmur. Gambar Ling Lung sudah dipastikan yang paling banyak bertebaran di setiap RT. Tim sukses Ling Lung sudah menyiapkan banyak tempat untuk memasang gambarnya. Walaupun demikian warga sudah anti pati dengan tindakan arogan kepala desa itu. Sedikit demi sedikit warga mulai sadar bahwa suara mereka akan dibeli atas nama kekuasaan dan jabatan. Bukan lagi atas nama keadilan dan kemakmuran. Obrolan di warung kopi mak Yah pagi ini tak ubahnya seperti rumah kemenangan bagi ke dua calon yang akan bertarung dengan incambent. “Sudah waktunya desa kita dipimpin oleh seorang pemimpin yang adil dan jujur” kata mbah Dullah sambil menyulut rokok klobotnya. Asap rokok itu mulai menyebar ke sekeliling warga yang mendengarkan nasihatnya. Dan bau khas tembakau pilihan itu, menebarkan aroma kegelisahan. “Ya betul, mbah. Kita jangan lagi percaya pada janji manis Ling Lung yang keblinger itu. Sudah puluhan tahun desa kita menjadi desa yang tertinggal dengan desa sebelah. Desa kita tak ubahnya menjadai mesin penggeruk kekayaan Ling Lung dan keluarganya”, jawab Marno dengan nada kesal. “ Sampaikan kepada warga masyarakat, jangan sampai menerima uang haram itu dari Tim Sukses Ling Lung”, ujar mbah Dullah sambil meninggalkan warung kopi.**
Siang itu jalanan mulai ramai dipenuhi kendaraan yang lalu-lalang menuju ke kantor kepala desa. Warga sudah banyak berkumpul untuk mendengarkan visi-misi ke tiga calon kepala desa tersebut. Tampak Ling Lung dengan memakai setelan jas hitam dan dasi warna hitam serta songkok hitam duduk berdampingan dengan Jatmiko dan Suyatno. Sedangkan Jatmiko memakai seragam batik yang bercorak daun pisang sebagai ciri khas desa Sido Makmur. Tak mau kalah dari pakaian kandidat yang ada, Suyatno memakai baju Koko muslim sebagai identitas kelompok religi. Mereka bergantian menyampaikan visi dan misinya dengan tegas dan berapi-api. Ling Lung memandang sinis ke arah ke dua calon kepala desa yang berada persis di sampingnya. Ia yakin bahwa ke dua calon tersebut akan tumbang melawannya. Ia yakin akan mendapatkan suara terbanyak dari warganya. Tak berselang lama Ling lung bergerak menuju podium yang telah disiapkan panitia. Dalam orasinya ia berjanji akan memajukan dan mensejahterakan warga desa Sido Makmur. Ia berjanji akan membangun sarana dan prasarana jalan desa agar dapat memudahkan transportasi dalam meningkatkan perekonomian warganya. “Omong kosong!!! “, ujar Jarot di tengah kerumunan warga saat mendengarkan orasi tersebut. Tak ada tepuk tangan yang menandai berakhirnya pidato itu. Hanya sebagian kecil yang nyaris terdengar melalui tim suksesnya saja. Panitia pemilihan kepala desa kemudian mempersilahkan Jatmiko untuk menyampaikan orasinya ke mimbar kehormatan. Dalam penyampaian visi dan misinya Jatmiko memaparkan akan melakukan langkah konkret. Diantaranya ia akan mengunakan dana desa dan dana swadaya masyarakat dengan jujur dan adil demi kemakmuran dan kesejahteraan warga. Tuturnya dalam mengakhiri orasi siang itu. Sedangkan Suyatno dalam penyampaian visi-dan misinya itu berjanji, ia akan melakukan perubahan yang lebih baik dari berbagai sektor dengan landasan keagamaan yang kuat. Tuturnya dalam acara yang dihadiri Muspika kecamatan dan tokoh masyarakat setempat.**
Malam bergelayut diantara rimbun daun pisang, suara alam terdengar lirih dari kejauhan. Binatang malam mulai beraktivitas dari tidur siangnya. Jalanan nampak lengang di beberapa sudut desa. Sesekali terlihat lompatan katak dan serangga malam di tepi jalan yang mulai merayap. Bulan redup diantara lampu jalan yang mati tanpa penerangan. Kabel listrik yang putus tak kunjung diperbaiki. Banyak lubang bertebaran menghiasi badan jalan. Aspal jalan pun dibiarkan mengelupas tanpa ada kepastian untuk diperbaiki. Orang-orang malas untuk keluar rumah pada malam hari karena minimya penerangan dan jalan yang rusak. Dari kejauhan nampak sekelompok orang berkerumun untuk membagi tugasnya masing-masing. Orang suruhan Ling Lung sudah mulai bergerilya untuk mempengaruhi warga agar besok pagi mencoblos Linglung saat pergi ke Tempat Pemungutan Suara (TPS). Pecahan uang seratus ribu dan lima puluh ribu rupiah telah mereka siapkan. Satu per satu mereka bergerak dari satu pintu ke pintu rumah warga untuk mengiming-iming sejumlah uang. Pada saat membagi uang tersebut banyak pintu warga yang tertutup rapat-rapat. Mereka seakan patuh dengan ucapan tetuah adat desa untuk tidak menerima uang sogokan dari Ling Lung lagi. Jika itu dilakukan akan merusak tata nilai warga yang telah dijunjung bersama dalam persoalan memilih kepemimpinan. Bagi mereka pemimpin adalah mereka yang harus dapat dijadikan panutan atau suritauladan dalam mengaktualisasi nilai-nilai agama dan moralitas dalam kehidupannya, dengan selalu memiliki keluhuran hati dan jiwa, rendah hati, jujur, tidak suka segala bentuk penindasan dan kekerasan, pemaaf dan penuh kasih sayang. Ujar tetua adat yang pernah menasihati mereka saat di warung kopi mak Yah tempo dulu.
Malam beringsut mengemasi bayang-bayang. Bulan berwajah pucat saat cahaya merah dari ufuk Timur mulai muncul. Alam kembali terang saat cahaya matahari memantul ke bumi. Membangunkan warga desa dari tidur lelapnya. Geliat pagi nampak dari beberapa panita pemilihan kepala desa sudah mulai sibuk menata alat pencoblosan. Mereka berupaya agar PILDES dikampungnya dapat diselenggarakan dengan Jujur dan Adil (Jurdil) tanpa adanya rekayasa. Arena pencoblosan terpusat di kantor kepala desa Sido Makmur. Setelah beberapa saat kemudian warga terlihat berduyun-duyun menggunakan hak suaranya dengan cerdas ke Tempat Pemungutan Suara (TPS). Antrean mengular lebih panjang saat siang hari. Mereka dengan sabar menggunakan hak suaranya tanpa dibeli oleh siapapun dan dari pihak manapun. Mereka menginginkan perubahan bukan ketimpangan. Mereka menginginkan persaudaraan bukan permusuhan. Dan mereka menginginkan kesejahteraan bukan kemelaratan. Bukankah amanat undang-undang menegaskan bahwa, “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat”. Begitulah seharusnya pemimpin mewujudkan kesejahteraan bersama bukan kesejahteraan keluarga dan kroni-kroninya dalam menjabat nanti.
Bayang matahari berdiri tegak lurus dengan benda yang berada dihadapanya. Pertanda separuh hari sudah dilewati. Dengan wajah tegang dan raut muka yang panik Ling Lung mengikuti pemungutan suara hingga purna. Ia tak mengira perolehan suara yang didapat di luar ekspetasinya. Pikiranya kalut saat memandang papan perolehan suara tersebut. Terlintas dalam ingatanya dana yang dikucurkan untuk kemenangan Pildes tak main-main, hampir satu milyar lebih yang diberikan ke Tim Suksesnya. Ke manakah suara tersebut? Ujarnya dalam hati. Hingga mengelapkan pikiran dan mata batinya. Suara-suara misterius itu selalu berkecamuk di bawah alam sadarnya. Suara-suara itu berdesak keras menghamtam sampai ke ubun-ubun kepalanya. “Kemana-suara-suara itu, ke mana uang-uangku?, Kemana......?!!! sambil berteriak histeris dan merobohkan papan pemungutan suara. Matanya merah saga, siap membakar mereka yang berani menghalang-halanginya. Suasana pemungutan suara berubah menjadi carut-marut. Orang-orang berhamburan keluar untuk menghindari amukan Ling Lung. Beberapa tim keamanan dari Polsek dan Hansip berupaya mengendalikan suasana. Amukan Ling Lung semakin menjadi-jadi saat diamankan. Beberapa kursi berhamburan ke udara karena ulahnya. Matanya memerah memandang tim suksesnya yang telah berkhianat. Ia melompati beberapa kursi dan mengejar tim suksesnya sampai di tengah jalan. Suasana semakin tidak menentu. Orang-orang kembali berlarian untuk menyelamatkan diri dari amukannya. Ling Lung benar-benar kalap. Ia tak mampu mengendalikan dirinya. Ia tak mengenali siapa dirinya. Ia benar-benar linglung atas ambisi jabatan dan kekuasaan yang dikejarnya. Tak berapa lama tubuhnya sempoyongan dan jatuh terjerembab di jalan yang penuh lubang. Matanya perlahan meredup saat warga kampung mulai berkerumun menghampirinya. Mulutnya komat-kamit menghitung suara dan uangnya yang telah raib. Ling Lung benar-benar kehilangan jati dirinya sebagai seorang pemimpin. Hatinya gelap karena uang dan kekuasaan. Terperosok dalam lubang yang digalinya sendiri.***
*Guru Bahasa Indonesia di MAN 1 Lamongan
Editor : Hakam Alghivari