Burung parkit bertelur yang juga menetaskan anak yang masih tak bisa berjalan, bersiul, bahkan bertebangan. Salah satu dari anak – anak burung parkit itu tertangkap dan tersekap dalam kandang kayu yang rapuh bagi parkit itu untuk menghirup bebas terbang melintasi angin. bagaikan sebuah penjara, seakan tidak karuan hidupnya sekarang. Memborgol sayapnya yang tidak bisa dikepakkan. Makan terpaksa serasa pemilik ingin burung mencengkokan suaranya.
Aku adalah seekor burung parkit itu. Bebas adalah pemusatan untuk kelegaan hati. Nyatanya hanya itu adalah keinginan. Bersiul untuk menyapa tetangga saja hanya bualan. Hendak aku ingin membuka pintu selalu bunyi dengung seperti maling—pencuri kendaraan yang terparkir—yang ketahuan oleh pemilik.
“Kau mau kemana?” Lantang Ibu yang membawa pisau digenggaman.
“Main buk.”
“Tidak ada kata main buatmu!”
“Main itu akan bisa mendinginkan otakku, bu.”
“Main hanyalah permainan orang tolol saja. Kau harus memikirkan masa depanmu!”
“Ibu, apakah kau tahu kenapa orang bisa mati karena tersekap?”
Ibu tidak menjawab. Segera ia mendekatiku dan mengambil kunci yang sekitarnya ada kunci – kunci banyak dan sebuah gunting kuku. Mataku serasa mati rasa. Katung mataku seperti panda. Tubuhku kaku kurus seperti biting. Tanganku bergetar hebat seperti orang yang merokok kebanyakan; tremor. Kakiku yang selalu ingin mengisyaratkan untuk berjalan bebas.
Ibuku semula tidak seperti yang sekarang. Ia memang seorang ibu yang baik. Ia malaikat yang selalu bisa momong aku yang nakal suatu kecil dulu—merokok hingga mabuk – mabukan—hingga sekarang. Berbadan gemuk—tidak hamil—sampai pahanya. Kerutan sana sini tanda akan menua. Jejak langkahnya yang selalu terlihat marah – marah itu yang membuat ancaman namun berubah saat bapak telah terkubur dalam tanah.
Ketika aku tidak pulang kerumah. Sengaja aku tidak mengetikan kabar untuk segera liar menjelajahi kota. Tahu – tahu, ia menamparku bahkan menjewer untuk kembali ke rumah.
“Pulang!”
“Ibu, sampean tidak harus menyeretku ke rumah di depan teman – temanku.”
“Kau itu hanyalah anak. Kau belum dewasa, haruskah aku menamparmu berkali – kali!”
“Ibu jahat!”
“Kejahatan ibu akan melahirkanmu sebagai kuat dan tahan banting. Setiap orang tua ingin begitu, nak!”
“Tapi ini sungguh keterlaluan. Aku hanya ingin seperti anak lain.”
“Tidak untukmu!” Sesampainya rumah, ia segera mengunci dan kembali melanjutkan aktifitas.
Sejak saat itu, saban hari kuhabiskan untuk melihat jendela. Aku melihat burung parkit yang terkurung dalam sangkar. Ia seakan sepertiku: Terkunci. Aku teringat kakakku, ia sosok yang untung. Kenapa aku bilang begitu? Karena ia dengan santainya saat keluar neraka ini. Pernah aku berbincang dengan kakakku yang menghasilkan olokan bahkan cacian buatku.
“Kak, apakah aku tidak boleh keluar?”
“Kau hanyalah robot pesuruh. Kau tak pantas untuk keluar.”
“Tapi aku ingin melihat indahnya kota, lalu alun – alun yang sudah direnovasi jadinya seperti apa, ya?”
“Kau tidak akan mendapatkan itu, kau hanya anak yang tidak ingin dilahirkan!”
Kata itu—Anak yang tidak ingin dilahirkan—seakan peluru panas yang tembakanya melesat dalam nadi menyulut api dalam mataku. Ternyata aku ini memang anak buangan sperma yang tidak diinginkan. Kembalikan aku dalam rahim dan jadikan aku roh saja—keinginan—kata yang selalu aku gumamkan saat aku terpuruk mulai dari saat itu.
Aku kembali melihat dari sela – sela jendela. Burung parkit itu masih saja tidak bisa keluar dari sangkarnya. Dari dalam rumah, ada sang majikan yang memberi makan pada burung itu. Aku kembali bernostalgia, ketika aku ingin memakan sebuah roti yang isinya adalah coklat. Sangat menggugah selera. Aku dihentikan oleh ibu.
“Ini untuk kakakmu. Makan saja itu!” ia menunjuk roti yang cukup lembek tanda akan basi.
“Ini roti udah lembek Bu. Sudah tak sedap lagi.”
“Kau tidak berhak memakan itu. kau juga bahkan tidak berhak hidup.”
Sejak saat itu, aku selalu memakan makanan yang beberapa jam akan basi. Nasi yang sudah basah. Makanan yang sudah dingin sedingin es kutub bahkan sayuran pun tidak ada. Terkadang aku tidak makan seharian.
Kalau dulu almarhum bapak masih hidup, makanan tersedia di meja dan selalu enak untuk di makan. Rumah seakan bahagia sebagai keluarga yang harmonis. Semua perabotan seakan berbicara denganku bahwa mereka senang akan hadirnya dalam keluarga ini. Lantai – lantai kinclong bahkan saat disentuh bunyi ‘crieet’ tanda tak ada debu lagi. Langit – langit yang selalu mengundang sinar untuk masuk ke dalam rumah yang dindingnya membentuk lingkaran. Saat itu sungguh menyenangkan adanya Bapak.
Sudah dua tahun terlewati. Ia meninggalkan seisi perabotan yang satu persatu menghilang di jual oleh Ibu. Lantai yang sering berdebu, kinclong menjadi barang yang luar biasa saat ini. langit – langit yang sudah menggelantung rambut – rambut genderuwo sana – sininya. Bahkan sampai suara burung masuk dari sela – sela rumahku. Burung – burung itu yang menemaniku saat ini.
Parkit, kau enak. Bebas mengepakkan sayap. Menetaskan dari suami yang kamu cintai. Kesana – kemari berangkat mencari makan, pulang membawa makan untuk anak - anakmu. Aku sungguh iri padamu. Aku ingin lahir dan tumbuh menjadi keluargamu Parkit.
Sesaat kemudian, ibu membuyarkan percakapanku dengan burung. Ia mendobrak pintu seakan aku ini teroris. Ia memberiku makan ternyata. Dua hari aku belum makan, bercibaku dengan buku dan buku. Semua buku dari peninggalan bapak. Shayou (Matahari Terbenam) karya Dazai, Osamu, adalah salah satu yang kubaca. Dalam cerita itu ibunya sungguh baik hati merawat kedua anaknya walaupun bapaknya adalah seorang mantan bangsawan Jepang yang kekayaannya banyak. Kazuko dan Naoji anak yang untung karena ibunya yang baik hati.
Kenapa Ibuku tidak seperti yang ada di buku itu. Walaupun sederhana namun itulah yang kubutuhkan agar aku suka dengan keluarga ini. Aku sempat kabur karena tak tahan lagi dengan sifat Ibu. Aku ingin sekali mendapatkan uang dari hasil keringatku.
Nak, maaf bapak tak bisa mendampingimu. Jadilah singa, induk singa dengan tega membuang anaknya yang masih balita ke alam liar. Induk itu merasa jika alam liar adalah habitat untuk menjadi seorang singa sejati. Tak bisa bapak kasih padamu, anakku. Surat ini adalah wasiat untukmu, pergilah ke selatan kota. Kau akan menemukan orang yang bernama Sitok untuk kau ajak kerjasama. Bapak sudah tahu dia, tinggal kau apakah bisa bebas dari kurungan itu?
Pesan terakhir bapak itu aku simpan dalam selipan kasur yang sering kutiduri. Terkadang aku memikirkan kenapa bapak bisa meninggalkanku dengan seratus pertanyaan. Mengapa bapak pergi? Apa bapak tidak suka denganku lagi? Apa bapak di bunuh orang? Apa bapak bunuh diri? Apa ibu tidak kangen dengan bapak? Dan masih ada sembilan puluh lima pertanyaan lagi yang ada dipikiran mungilku.
Kembali lagi, pagi ini aku melihat jendela. Kali ini tidak ada burung parkit. Mungkin sang majikan membawanya ikut kontes suara burung. Ada ibu – ibu yang melewati rumahku. Rumahku ini memang layaknya tak berpenghuni. Ibu – ibu itu seakan mempertanyakan orang rumah kemana mereka pergi. Halaman yang penuh daun kering, bau yang tidak sedap bekas kucing dan anjing mengencingi bahkan membuang hajat. Hewan – hewan kecil bersautan kesana kemari walau masih terang. Tanaman yang di tanam oleh bapak sana sini hampir semua sudah menguning. Bahkan di sisi utara, tanaman itu menggundul.
Saban hari, ibu – ibu itu berbisik—entah bergosip atau mengolok—dengan ibu – ibu lainnya. Aku seakan tahu arah perbicaraannya kemana pastinya rumah ini berada. Sejak Bapak tidak ada sosok ke dunia ini seringkali ibu lupa—atau sengaja dilupakan—membersihkan rumah yang cukup luas itu. Kakak dan Ibu selalu mengacuhkan aku bahkan sosokku rasanya hanya hantu yang bergetayangan di rumah.
Ibuku tidak pernah mengobrol dengan tetangga. Kalau orang melihat, ia layaknya adalah seorang antagonis dari sinetron – sinetron yang sedang tayang di televisi. Kenapa aku bisa tahu? Karena biasanya sinetron itu selalu terlihat visualnya di televisi sekolah. Seusai sekolah selalu aku mengingat setiap kejadian yang ada di sinetron dan menganggap bahwa kehidupanku sekarang seakan seperti sinetron namun lebih keras lagi.
“Sudah pulang?”
“Sudah bu.”
“Kau tahu, ibu tak punya uang lagi. Kau akan di rumah saja bantu ibu bersih – bersih.”
“Tapi, aku ingin sekolah seperti teman – teman lain.”
“Sekolah hanya membuatmu bodoh. Kau tak perlu sekolah, di rumah saja!”
Setelah itu aku semakin terpuruk. Hari itu adalah hari terakhir aku menggenggam buku pelajaran dan bersenda gurau dengan teman – teman sebaya. Bersama ini bunga terakhir yang mekar sudah layu. Kegelapan menyelimuti hati.
Kulihat kembali luar dari sela – sela jendela. Kali ini air membasahi bumi. Burung parkit itu sudah masuk dalam rumah. Langit seakan hatiku sekarang: abu – abu gelap. Matahari hilang tersapu oleh awan. Aku meringkup sepi, petir sesekali menyambar rumahku yang membuat getaran hebat.
Tuhan, apakah aku salah denganmu? Selama ini aku berserah padamu. Aku selalu berdoa setiap sepertiga malam agar engkau bisa mengabulkan satu permintaanku saja. Aku ingin bebas! Burung parkit selalu melihatku dan setiap selalu saja merengek padaku untuk ingin keluar bebas mengepak sayap kecilnya. Aku tidak punya hak itu, aku bukan pemiliknya. Kalau tuhan juga mengizinkan, aku ingin bercengkrama dengan temanku bukan dengan tembok yang membelenggu tubuhku. Apakah aku kurang untuk memohon padamu. Baiklah, aku ingin engkau pertemukan dengan Sitok sesuai dengan surat yang kuterima dari bapak. Itu saja cukup, aku tidak meminta lebih. Selamat tinggal.
Saat hendak aku menulis bait terakhir. Air mataku jatuh membasahi sisi dari kertas itu. Tulisan yang aku buat benar – benar dan tidak main – main. Aku ingin segera bertemu dengan orang yang ada di wasiat bapak. Aku ingin bebas.
Tiba – tiba, dari balik tirai jendela yang sudah tak kupedulikan lagi. Suara pintu tergedor – gedor dengan cukup keras. Suara yang lantang, berat, dan sangat tegas. Aku ingin keluar dari kamar kumuh ini. Ibuku tidak memberikan lampu hijau karena aku keluar harus memakai sebuah alasan yakni cuman ke kamar kecil.
“Apakah ibu dari saudara—namaku—bukan?”
“Iya, benar. Aku ibunya.”
“Saya dari kepolisian ingin membawa ibu.”
“Salah saya apa?”
“Salah apa? Kau tidak tahu, kau hampir membunuh orang!”
“Kenapa aku membunuh orang?”
“Lihat sekelilingmu. Apa rumah ini layak untuk ditinggali? Mana anakmu satunya.”
“Anak yang mana.”
Aku tidak menggubris perseteruan itu. Aku sudah menyiapkan barang – barang untuk bertemu bapak. Selamat tinggal sampai aku bertemu ajal.
Ia segera berkeliling untuk menggeledah seisi rumah busuk ini. Sampai ia menemukan seseorang yang sudah bergelantung di langit – langit.
Polisi segera mendobrak kamarnya. Ternyata sudah terlambat, ia sudah mati. Sampai disana ternyata seseorang di samping polisi, seorang pria tampan. Memakai jas bewarna hitam dan berdasi kupu-kupu bewarna merah menyala. Memakai sepatu khas orang – orang kantor. Ia menyaksikan seorang yang mati karena tersekap. Ia Melihat anak yang sudah berbaring sambil bersidekap dengan sebuah minuman obat nyamuk yang ada disampingnya. Ia melotot dan mulutnya mengeluarkan busa. Ia tidak tahu harus berbuat apa seakan mulutnya tertutup lakban. Ia adalah Qodir. (*)
*Sazma Aulia
Madedadi, 10 November 2021
Editor : Hakam Alghivari