Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Tanah Leluhur

Yuan Edo Ramadhana • Minggu, 24 September 2023 | 15:30 WIB
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RDR.BJN)
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RDR.BJN)

 

ANGIN menerpa pohon pinus, menembus semak-semak belukar di area pemukiman kaki gunung. Dari kejauhan, nampak kaki langit terlihat sangat cerah hari ini. Kabut tipis berjalan perlahan mengusap lembut perbukitan. Pepohonan menyapanya dengan mengoyang-goyangkan daunya . Suara-suara alam terdengar bersahutan dari balik rerumputan. Menambah kesan Asri desa yang berada dalam lereng pegunungan itu. Cahaya matahari tak mampu menembus tanah perbukitan, sebab tertutup lebatnya pepohanan yang berjajar rapi dari satu ujung ke ujung desa yang lain.

Dari balik bukit terlihat sesosok bayangan lelaki tua sambil membawa tongkat kayu sebagai pemandu jalan ke arah puncak bukit. Gundukan tanah yang menyembul dari kejauhan itu adalah tanah makam leluhurnya. Terlihat dari jauh,  batu-batu nisan  itu berdiri kokoh. Walaupun terlihat kusam dan tak terawat. Area makam banyak dihiasai dengan rumput liar dan batu nisan yang mulai melumut. Satu-satu dipandanginya dengan perasaan gusar. Mat Gusar segera membersihkannya dengan peralatan seadanya. Tanganya yang sudah mulai keriput terlihat mencabuti rumput liar yang merambat ke batu nisan. Perlahan, rumput-rumput itu dikumpulkanya dan dibuang ke tepi sudut tanah yang agak lapang.

Tak terasa  air mata Mat Gusar meleleh. Air mata itu tumpah pada benjolan pipinya yang terlihat garis-garis berlapis. Laksana petak sawah yang pecah-pecah karena kemarau yang berkepanjangan. Kemudian tak lama ia menaburkan kembang tujuh rupa di atas tanah pemakaman itu. Aroma wangi menambah kekhusukan dalam berdoa. Sebelum ia melatunkan doa-doa, dibakarnya dupa yang disiapkan dari balik saku bajunya. Bau kemenyan tak lama menyebar ke seluruh area pemakaman. Nuansa magis terasa sangat kuat di sekeliling area makam. Lalu ia merapalkan doa-doa kepada arwah leluhur.

Mulutnya komat-kamit membaca mantra. Doa yang ia panjatkan adalah wujud pengabdianya selama ini. Banyak sudah petuah-petuah adat yang ia dengar dari mereka. Ajaran tentang kekerabatan, adab sopan santun, penghambaan diri kepada sang Maha Kuasa, menjaga keseimbangan alam,  bahkan adab menjamu tamu bila mana datang ke desa mereka.

Semua diajarkanya secara turun-temurun. Selain itu penduduk kampung lereng pegunungan itu juga dikenal sebagai kampung yang bersahaja. Dari hasil hutan dan kembali ke hutan lagi. Tak heran banyak jenis tumbuhan di sana. Mereka hidup dengan bercocok tanam di lereng bukit. Terasa nikmat hidup di tengah-tengah alam yang memberikan kehidupan baginya. Oleh sebab itu, mendengar kabar akan digusurnya kampung tersebut.  Menjadi bom waktu bagi Mat Gusar. Perlahan, ia menarik nafasnya panjang-panjang. Kemudian melepaskan tarikan nafasnya dengan dada yang penuh sesak. Mata Mat Gusar memerah. Tongkat kayu yang dipegangnya itu di acungkannya ke langit.

Ia berteriak keras menolak relokasi lahan yang sudah ditempatinya bertahun-tahun. Hingga beranak-pinak. Ia tak rela bila makam leluhurnya akan dipindah ke hutan antabranta yang tak jelas rimbanya. Pasti arwah leluhur mereka akan menangis dan meratap. Jika dipindahkan ke area pemakaman yang baru. Belum lagi anak dan istrinya juga ikut di kubur di area tersebut. Pastilah menambah duka yang mendalam bagi Mat Gusar.

Terdengar desas-desus yang menyebar ke warga desa. Pemerintah desa yang didekengi aparat pusat  akan merencanakan relokasi warga ke tempat yang baru dalam tempo secepat-cepatnya. “Siapa pun yang akan menghalangi rencana relokasi ini akan berhadapan dengan saya!”, kata kepala desa dengan teriakan yang sangat keras dan tangan mengepal kuat pada suatu pagi di kantor desa.

Desa yang terkenal Asri itu,  sejak dulu sudah diincar oleh perusahaan dari kota. Karena di duga dalam kandungan tanahnya terdapat biji nikel yang dibutuhkan oleh banyak negara-negara maju. Untuk melancarkan aksinya kepala desa memprovokasi warganya agar menyerahkan aset tanahnya untuk perusahan tersebut. Dan sebagai gantinya mereka akan menerima ganti rugi yang setimpal. Mat Yakin tak tinggal diam dalam menyikapi rencana relokasi tersebut. Ia tak rela jika tanahnya menjadi korban keserakahan orang-orang kota itu. Ia tak rela jika tanah kampungnya diratakan oleh eskavator dan buldozer yang meraung-raung itu.

Ia tak ingin suara-suara alam yang menenangkan hati dan pikirannya terganti oleh kepulan asap pabrik yang mengganggu pernafasan mereka.  Oksigen yang dihirup  warga kampung itu tak mampu terbayar oleh uang ganti rugi dari perusahaan . Ia tak rela pohon-pohon yang sudah ditanaminya sejak puluhan tahun itu tumbang begitu saja. Ia bersama warga yang lain mengatur siasat agar tanah leluhurnya tak lepas begitu saja. Ia merasa kali ini tidak merdeka lagi. Ia akan terusir dari negerinya sendiri.

Terjajah oleh kepentingan kapitalis yang ingin meraup untung sebanyak-banyaknya. Tak heran beberapa wilayah desa akan dikuasainya. Mat Yakin dalam keyakinannya yang tak terbendung lagi. Dapat dipastikan ia akan berada dalam barisan terdepan. Menentang rencana kepala desa dengan aparaturnya itu. Ia menganggap relokasi itu hanyalah akal-akalan mereka, agar jabatanya cepat naik daun.

Intimidasi demi intimidasi terus dilancarkan oleh orang-orang yang suruhan aparatur desa. Pernah suatu hari,  rumah Mat Yakin didatangi oleh orang yang bertubuh kekar agar segera menyerahkan tanahnya ke perusahaan. Pada malam itu, dua orang preman datang tanpa permisi mengedor-ngedor rumahnya dengan sangat keras. Saat penghuni rumah itu sedang terlelap tidur. Istri Mat Yakin tergeragap dan keluar untuk membukakan pintu rumahnya. Tak lama,  dua orang preman itu menanyakan keberadaan Mat Yakin. “Suami saya tidak berada di rumah pak,?” ucap istri Mat Yakin dengan badan gemetaran.

“Sampaikan kepada suamimu,  jika sudah datang. Sekali lagi,  kalau kami mendengar suamimu memprovokasi warga untuk tidak menyerahkan tanahnya ke kami. Jangan harap ia bisa kembali ke rumah dengan selamat!”.  “Camkan itu!”  dengan mata melotot ke arah istri Mat Yakin. Setelah mengucapkan kata-kata kasar  tersebut, ke dua preman suruhan aparatur desa itu keluar dari ruang tamu sambil memukul daun pintu rumah dengan pukulan yang keras. “Prak! Prak!”. Tak lama kemudian mereka menggeber kendaraanya dengan tarikan kuat-kuat. Kemudian membunyikan kelakson kencang sekali. Sambil mengacungkan jarinya ke arah wajah istri Mat Yakin saat menutup pintu rumahnya.

***

Malam mulai merayap di sela-sela kabut turun dari perbukitan. Rembulan di langit nampak hilang separuh. Cahaya terlihat samar menerangi kampung tersebut. Seakan menandai kesedihan yang dialami warganya. Suasana desa saat ini terlihat sangat mencekam. Orkestra katak yang tak jauh dari pemukiman pun tak terdengar suaranya lagi. Para serangga yang bertengger di pepohonan juga merasakan kesedihan.

Ia tak mampu meninakbobokkan lagi warga untuk terlelap dalam tidur malamnya. Suara-suara jangkrik yang biasa mengerik di malam hari pun engan bernyanyi. Mereka semua seakan larut dalam kesedihan yang berkepanjangan. Mereka juga akan bernasib sama dengan penduduk kampung. Jika relokasi benar-benar terjadi. Ekosistem alam yang berada di area pemukiman akan terkena dampaknya. Tak ada lagi terdengar kicauan burung kenari yang menari di atas ranting pohon. Tak ada lagi kepak sayap elang yang berterbangan di langit lepas. Pasti kehidupan mereka akan menjadi dongeng yang akan dibacakan sebagai pengantar tidur.

Pagi ini, hal yang dikhawatirkan warga terbukti. Mimpi buruk itu terlihat sangat nyata adanya. Rencana relokasi bukan isapan jempol semata. Sekumpulan alat berat telah mendarat di kampung mereka. Aparat keamanan telah dikerahkan untuk membentengi rencana relokasi warga. Derap langkah  sepatu mereka perlahan menuju ke arah pemukiman  itu. Sebelum memasuki pintu masuk pemukiman, mereka dihadang sekumpulan warga yang bersiap mempertahankan tanah leluhur yang dicintainya. Nampak Mat Yakin dan Mat Gusar berada dalam barisan terdepan. Seperti janji mereka sebelumnya. Lebih baik berkalang tanah dari pada hidup dalam ketidakpastian. Raungan buldozer dan teriakan warga semakin riuh. Perlawanan sengit warga  tak terbendung lagi.

Suasana semakin memanas. Bentrokan terjadi di kedua kubu. Hujan peluru karet dimuntahkan aparat keamanan. Membuat warga semakin beringas. Mereka membalasnya dengan lemparan batu dan ketapel seadanya. Tak berapa lama korban berjatuhan dari kedua belah pihak. Segera satgas di lapangan menarik mundur pasukannya. Mereka khawatir banyak memakan korban jika dilanjutkan. Begitu pun dari para demonstran. Banyak warga yang berjatuhan akibat gas air mata dan  peluru karet yang dimuntahkan.

Mat Yakin dan Mat Gusar tertankap aparat. Mereka dianggap provokator dalam kerusuhan tersebut. Tak berselang lama setelah penangkapan tersebut, aparat keamanan dan alat-alat berat bergerak maju. Menggilas perkampungan mereka rata dengan tanah. Seminggu sebelum penggusuran dilaksanakan. Mereka sudah diingatkan oleh pemerintah desa agar mengosongi rumah mereka. Tetapi mereka tetap ngotot mempertahankan tanah leluhurnya.

Satu jam telah berlalu. Warga hanya bisa pasrah dan melihat kenyataan pahit di hadapan matanya. Buldozer itu terus meraung, berputar, dan menghantam apa yang ada dihadapanya. Kenangan lama bersama keluarga dan handai taulan terkubur hidup-hidup. Mat Yakin dan Mat Gusar tak bisa membayangkan arwah para leluhurnya. Mereka pasti menderita dan sedih melihat kampungnya tak berpenghuni lagi. Matanya berkaca-kaca melihat ke atas bukit saat truk membawa mereka ke pos keamanan. Dalam perjalanan itu, terlihat  mulut  Mat Yakin dan Mat Gusar komat-kamit merapalkan doa-doa untuk para leluhur.

Mereka meminta maaf  karena tak mampu mempertahankan tanah adat. Mereka kalah dengan kepentingan pemerintah desa dengan dalih pembangunan. Kadang atas nama pembangunan menafikan nilai kemanusian dan nilai budaya setempat. Mat Yakin dan Mat Gusar tertunduk malu. Melihat bayangan arwah leluhur mereka mendatanginya dengan linangan air mata.

***

 

 

Bumi Utara,  21 September 2023

 

 

*SUHARSONO A.Q.S
Guru Bahasa Indonesia mengajar di MAN 1 Lamongan

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Desa #warga #leluhur #cerpen #tanah #kisah #penggusuran #pemerintah #Proyek #lahan #tanah leluhur #Cerita #Relokasi #kepala desa #intimidasi #kampung #doa