SETELAH hampir sejam menunggu, akhirnya Nila muncul juga. Rambutnya panjang dan biasanya tertata rapi hari itu tampak lepek dan berantakan. Sebagian anak rambut menutupi dahinya tidak terlalu lebar. Mata sipitnya nyaris terlihat hanya segaris di wajahnya yang lelah.
Aurel melambaikan tangan saat melihatnya agar Nila tahu posisinya menunggu.
‘’Maaf, ya, lama,’’ katanya dengan napas naik turun.
‘’Iya, gapapa,’’ Aurel membalasnya meskipun dalam hati lumayan menggerutu juga karena waktu satu jamnya sia-sia.
Nila menyerahkan sebuah tas plastik berwarna putih doff dengan logo sebuah toko roti lokal yang sering dia kunjungi.
‘’Apa ini?’’
‘’Kain untuk seragam bridesmaid,’’ katanya masih dengan napas tersengal.
Sebulan lagi, Nila akan menikah, Aurel sudah dikabari sebelumnya. Nila menanyakan kesediaan menjadi salah satu pengiringnya, yang dia jawab bersedia. Mereka sudah berteman sejak awal kuliah dan menghabiskan cukup banyak waktu bersama. Meskipun setelah keduanya lulus dan bekerja waktu bersama itu semakin berkurang.
Mereka berpelukan sebelum berpisah. Nila mengatakan sedang mengejar bus menuju ke suatu tempat. Aurel melanjutkan perjalanan dengan memesan taksi online.
Dibukanya tas plastik dengan tulisan warna hitam dan emas itu. Isinya bahan pakaian jenis tulle sulur berwarna dusty pink, bahan furing warna senada, contoh desain dan sebuah amplop putih berisi uang tiga ratus ribu untuk subsidi ongkos jahit. Tadi Nila mengatakan kalau kurang tolong ditambah sendiri.
‘’Cuma ini,’’ batinnya. Saat Nila menghubunginya untuk memberikan seragam pengiring tadi, Aurel sebenarnya bahagia sekali. Tapi, setelah melihat isinya dia langsung kecewa. Nila tidak sungguh-sungguh ingin menjadikannya pengiring pengantin. Lihat saja apa yang diberikannya pada Aurel ini. Bahan kain dimasukkan ke tas plastik? Isinya cuma kain, kertas gambar desain baju dan uang tiga ratus ribu? Mana cukup ongkos jahit segini dalam waktu sebulan?
Tas plastik itu dia lemparkan begitu saja di ranjang dengan segala isinya. Sambutan ibunya yang menanyakan sudah makan atau belum hanya dia balas singkat, "belum". Lalu, dia masuk kamar. Masih tidak habis pikir, Nila sanggup melakukan ini padanya. Apakah dia tidak menganggapnya sebagai teman atau seseorang penting di hidupnya?
Ya, kalau diingat-ingat Nila sepertinya tidak terlalu menganggap dia sebagai teman semenjak kuliah. Dia lebih banyak ikut kegiatan di sana sini, sibuk menghabiskan waktu dengan orang lain. Memang, sih, sesekali mereka berkumpul bersama kalau waktunya memungkinkan.
‘’Apakah sebaiknya tidak usah datang saja?" Pikirnya. Lalu, dia disibukkan dengan pikirannya sendiri untuk mencari alasan tepat agar tidak usah datang.
Lembur?
Ada acara keluarga?
Sakit parah?
Tugas ke luar kota?
Dia masih memiliki waktu sebulan mendapatkan alasan yang tepat.
Di tempat lain, Nila baru saja turun dari bus. Dia mengecek alamat dia simpan di catatan ponselnya. Semoga orangnya di rumah, pikirnya. Hari ini dia harus menyelesaikan daftar yang harus dia kerjakan untuk keperluan pernikahannya.
Dia mengambil cuti hari ini untuk mengecek kesiapan penyedia katering, mengecek progres pembuatan suvenir di workshop-nya, menemui Aurel untuk menyerahkan bahan seragam pengiring.
Selanjutnya dia akan menemui salah satu kerabat ayahnya akan dia mintai bantuan sebagai saksi pernikahannya. Semua harus selesai dalam dua minggu ini agar dua minggu berikutnya dia bisa fokus menyiapkan mentalnya sebelum hari besar itu tiba.
Dia berbagi tugas dengan calon suaminya yang hari ini mengecek ulang fotografer serta penyedia dekorasi. Mereka saling berkirim kabar menggunakan panggilan video untuk memastikan masing-masing pilihan sudah disetujui mereka berdua.
Sebenarnya perutnya sudah lapar. Tubuhnya sedikit goyah saat berjalan. Hari ini benar-benar melelahkan baginya, tapi kalau tidak diurus berdua sejak awal begini, dia khawatir nanti ada yang masih kurang pada hari H.
***
"Guys, beli kain seragam bridesmaid dan aksesorisnya yang bagus di mana, ya?"
Percakapan siang itu di salah satu meja kantin kantornya Aurel. Suara itu cukup jelas dia dengar dari mejanya tanpa susah payah menguping. Di meja itu ada Diana, Yanti, dan Nafisa. Yang bertanya itu tadi jelas Nafisa dari divisi akunting.
‘’Kamu akan menikah?" Yanti balik bertanya.
‘’Bukan. Bestieku yang mau nikah. Dia minta aku dan beberapa teman lainnya untuk menjadi bridesmaid dia.’’
‘’Bukannya itu tugas dia menyediakan seragam bridesmaid?" Kali ini Diana yang bertanya.
‘’Seragam bridesmaid itu dibuat sekaligus bersama dengan seragam untuk keluarga. Kita, sih, cuma duduk manis nunggu diambil ukurannya aja.’’ Tambahnya.
‘’Kami nggak mau merepotkan. Dia sudah ribet banget mempersiapkan pernikahannya.’’
‘’Itu udah risiko dia. Jangan mau, ah, direpotin,’’ kata Yanti lagi.
‘’Aku ngga merasa direpotkan, sih. Justru bahagia kalau bisa membantu meringankan bebannya. Ini kan momen sekali seumur hidup, jangan sampai dia melewatkan hal lebih penting hanya demi ngurusin printilan bridesmaid."
‘’Tidak usah begitu bangetlah ke orang. Bilangnya aja teman, nanti juga menghilang saat kamu butuh bantuan."
Dalam hati Aurel setuju dengan ucapan Diana barusan. Orang biasanya hanya datang saat butuh, selanjutnya, ya, mereka pergi lagi. Mereka tidak akan melakukan hal sama ke kita. Ujungnya kita sendiri yang harus menelan kekecewaan.
‘’Aku baik ke dia atas kemauanku sendiri, kok. Capek, tahu, kalau setiap apa yang kita lakukan mesti minta balasan yang sama."
Nafisa mengakhiri ucapannya dengan tarikan napas panjang.
Aurel meletakkan piring dan gelas bekas dia gunakan untuk makan siang ke dalam keranjang piring kotor di ujung ruangan. Setelah itu, Aurel membersihkan tangannya di wastafel tersedia di dekat pintu keluar.
Sudah hampir dua minggu sejak Nila memberinya seragam pengiring dan dia belum menyentuhnya lagi setelah hari itu. Memang dia berniat untuk tidak menghadiri pernikahan Nila sejak awal. Dia kecewa pada Nila yang menghargainya hanya sebatas dua potong kain dan uang tiga ratus ribu.
Ucapan Nafisa tadi terngiang kembali di telinganya seperti rekaman diputar ulang.
‘’Ini kan momen sekali seumur hidup, jangan sampai dia melewatkan hal lebih penting hanya demi ngurusin printilan bridesmaid."
Nafisa tidak mau merepotkan calon pengantin karena dia pasti sudah ribet dengan banyak hal terkait persiapan pernikahannya. ‘’Aku baik ke dia atas kemauanku sendiri, kok. Capek, tagu, kalau setiap apa yang kita lakukan mesti minta balasan yang sama."
Dibandingkan dengan Nafisa, dia lebih beruntung karena sudah mendapatkan seragam pengiring beserta subsidi ongkos jahit. Mungkin tidak bisa mengkaver semua biaya. Tapi, haruskah dia perhitungan pada temannya sendiri untuk momen sekali seumur hidup itu?
Kenapa dia tidak bisa seperti Nafisa yang bersikap positif dan membela temannya di belakang saat dihujat oleh orang lain? Kenapa justru dirinya yang gatal ingin menghujat temannya sendiri? Apakah selama ini dia tulus berteman dengan Nila?
Diambilnya ponsel yang sedari tadi dia kalungkan di lehernya bersama lanyard identitas kepegawaian.
‘’Bu, nanti malam aku mau ke sana untuk menjahitkan baju. Apakah masih ada slot?" (*)
*Jamaatun Rohmah
Penulis dan Guru MTs Muhammadiyah 15 Lamongan. Miliki karya lebih 20 buku, baik antologi maupun karya tunggal.