LAMONGAN, Radar Lamongan - Seorang pemuda sedang asyik dengan secarik kertas dan pena di tangannya. Sesekali dia memegang alat musik tradisional di hadapannya, kemudian kembali menuliskan sesuatu berupa not angka. Khoirudin, salah seorang komposer muda asal Lamongan yang sudah berkali-kali menangani pertunjukan seni, baik di Lamongan maupun Provinsi Jawa Timur.
Rudin, sapaan akrabnya terlihat sangat lembut dalam bertutur, dengan bahasa Jawa halus. Namun, sesekali dia terlihat malu ketika ditanya mengenai kesibukannya sebagai seorang seniman. Pria asal Kecamatan Modo ini mengaku sudah kepincut dunia seni sejak masih anak-anak.
Awalnya, dia dikenalkan alat musik tradisional oleh gurunya ketika SD. Kemudian dia juga diajari beberapa tembang macapatan serta lagu-lagu bahasa Jawa, yang ternyata sangat ramah di telinganya. Saya belajar seni sejak masih di bangku SD hingga sekarang dan tidak ada warisan darah seni dari keluarga,” tutur pria kelahiran Tahun 1997 ini.
Kecintaannya terhadap dunia seni terutama karawitan didukung kedua orang tua. Seniman berusia 25 tahun ini pernah menempuh pendidikan di sekolah seni Surabaya atau SMK 12 Surabaya. Selanjutnya, Rudin kuliah di STKW Surabaya jurusan karawitan.
Sebelum dipercaya menjadi komposer dalam beberapa even pemerintahan di Lamongan. Rudin sudah beberapa kali menjadi komposer dalam even temu karya budaya Jatim di Ambon, festival lomba seni siswa nasional (FLS2N), pentas periodik dan masih banyak lagi.
Sebagai komposer, tugasnya membuat satu instrumen musik gamelan, sebagai pendukung pertunjukan tari maupun drama kolosal. Nada-nadanya ditentukan yang menyesuaikan dengan kebutuhan pertunjukan. Alat musiknya tradisional, karena tujuannya menghidupkan kecintaan terhadap musik daerah.
Dari sejumlah alat musik gamelan yang dipelajarinya, gendang dinilai paling sulit. Menurut dia, setiap alat musik memiliki teknik dan not yang berbeda dan harus dipahami semua. Sekitar 12 jenis instrumen yang harus dihafalkan untuk bisa membuat karya lagu yang pas dalam mengiringi sebuah pertunjukan. Setiap satu karya membutuhkan persiapan minimal dua bulan. Namun dari hasil kerja keras dan kesempatan yang diberikan, Rudin berhasil meraih penghargaan sebagai 5 komposer terbaik Festival Musik Jawa Timur tahun lalu.
Alhamdulillah kerja keras ini terbayar dengan apresiasi yang luar biasa dari penonton dan orang-orang yang mencintai seni, termasuk pemerintah,” ujar sulung dua bersaudara itu.
Selama menjadi komposer, tantangan terberatnya menyatukan pikiran. Karena ada banyak yang terlibat seperti penata tari atau pemain lain, yang tentu memiliki pemikiran masing-masing. Tapi beruntungnya seniman itu memiliki cara sendiri untuk menyampaikan. Hanya saja butuh ruang dalam mengeksplore karya yang saat ini masih terbatas jumlahnya.
Wadahnya masih minim, jadi kalau latihan kita ke dinas dulu,” ujar Rudin.
Meski begitu, semangat generasi muda untuk belajar seni cukup banyak. Rudin juga mengajar ekstra seni di beberapa sekolah dan peminatnya lumayan. Menurut dia, Lamongan ini memiliki pelaku seni yang cukup banyak, terutama dari wilayah Bluluk dan Modo. Kesenian daerah masih sangat subur dan berkembang di wilayah pinggiran.
Saya juga punya karya lagu tapi belum rekaman,” pungkasnya. (rka/ind)
Editor : M. Yusuf Purwanto