Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Antara Aku, Seorang Cengkau dan Pelunasan Wayang Darimu

M. Yusuf Purwanto • Minggu, 24 Juli 2022 | 16:13 WIB
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RDR.BJN)
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RDR.BJN)
SEMENJAK wayang diciptaan berabad-abad yang lalu, dan kesenian pewayangan telah dimainkan oleh ribuan Dalang dalam beberapa generasi. Belum ada yang pernah tahu persis wujud nyata Gatotkaca itu seperti apa? Setinggi apakah gerangan, setampan apa parasnya dan sehebat apa dia mampu mencintai?

Tak ada yang tahu pasti. Bahkan seorang Dalang paling tersohor sekalipun akan kebingungan jika disuruh menafsirkan dengan jelas sosok nyata pendekar sakti mandraguna itu seperti apa. Kendati demikian, setiap individu pecinta wayang diam-diam telah mempunyai gambaran tersendiri di benaknya masing-masing mengenai tokoh pewayangan dari India tersebut.

"Kalau menurut gambaranku, sosok Gatotkaca itu tinggi dan badannya kekar, tapi lincahnya bukan main karena bisa terbang dengan bantuan Kutang Antakusuma," kelakar Widarto dalam sebuah obrolan warung kopi bersama dua temannya, saat ketiganya asyik membahas wayang yang ditontonnya semalaman di kediamannya Pak Pranu, lelaki terkaya di kampung sebelah. Kebetulan lakonnya tentang Gatotkaca.

"Kalau masalah perawakannya aku setuju saja. Tapi yang perlu kalian catat. Gatotkaca manusia sakti, si otot kawat tulang besi, kena panas tidak kepanasan, kena hujan tidak kebasahan. Semua berkat topi Caping Basunanda pemberian Batara Guru," sahut Teguh antusias.

"Namun sayang ya, dia harus mati muda di tangan Basukarna dengan panah Kunta-nya itu," tambah Prapto sedikit masygul, mengetahui akhir kisah bahwa jagoannya keok.

Obrolan begitu asyik sampai tak terasa sore kian menjelang, ketiganya harus pulang ke rumahnya masing-masing, sebab istri-istri mereka sudah pada menunggu, khususnya Widarto yang memilik istri paling cerewet. Namun sebelum beranjak dari warung kopi ketiganya berjanji akan bertemu kembali selepas isya guna membahas wayang, sebuah cerita fiksi kuno yang ketiganya gandrungi.

Widarto baru saja tiba di halaman rumah kontrakannya, saat seorang perempuan gendut memakai daster ungu sudah menunggunya di ambang pintu dengan muka memberengut.

Melihat gelagat itu Widarto segera tanggap, pasti istrinya mau mengomel lagi masalah uang belanja yang telat beberapa hari, dan tentang dirinya yang juga pulang telat, padahal jelas-jelas tidak lembur. Untuk mencegah hal itu terjadi, buru-buru lelaki berusia 40 tahun itu merogoh sakunya dan mengeluarkan uang kertas berwarna biru sebanyak 10 lembar dan segera menyodorkan ke arah istrinya sebelum omelan pertama istrinya menghenyak dari mulutnya.

"Ini jatah buat minggu ini dek," ujarnya seraya mengulurkan uang dalam genggamannya cepat-cepat.

Wajah kaku istrinya yang hampir meledak seketika mendadak lumer bagai coklat Belgia yang tengah meleleh begitu menatap lembaran uang yang diarahkan kepadanya.

"Kok pulang petang lagi mas?" tanya perempuan itu sambil menerima uang itu dengan gurat yang aneh.

"Iya nunggu cair dulu kan dek, kemarin pak Ginarko masih ke luar kota. Jadi baru sekarang cairnya," sanggahnya sambil menyelinap masuk ke dalam rumah.

Widarto lega istrinya tak jadi ngomel gegara ia telat ngasih uang belanja mingguan. Sebenarnya gaji mingguannya itu selumbari cairnya, dan dikarenakan sebuah alasan tertentu, baru hari ini Widarto sanggup memberikannya. Mungkin istrinya bertafsiran buruk kalau-kalau uangnya dipakai main kartu seperti yang kerap dilakukan pemuda-pemuda di kampung sini.

Dalam kesehariannya, Widarto memang tak pernah menyalahkan kecerewetan istrinya. Ia paham benar pusingnya mengelola kebutuhan rumah tangga yang tiada habisnya dengan jatah uang mingguan yang pas-pasan. Untuk bayar ini bayar itu, belum juga untuk uang jajan kedua anaknya, Rara dan Jun. Bocah kelas 5 dan 3 SD itu selalu minta uang jajan terus, padahal sudah mendapat uang saku setiap paginya.

Makan malam dalam keluarga Widarto berlangsung seperti biasanya, selalu dalam keadaan TV ruang tengah menyala dan celutukan kedua anaknya yang membahas cerita TV yang ditontonnya. Suasana seperti ini, entah suatu saat pasti pasti akan jadi kenangan manis tersendiri baginya.

Setelah makan malam usai, istri Widarto segera menggiring kedua anaknya untuk belajar di ruang depan, setelah itu diteruskan membereskan sisa makan malam. Sementara Widarto masih duduk di depan meja makan dengan pandangan setengah menerawang. Dia berfikir, enaknya ya seumpama jadi Gatotkaca, bisa terbang, tak kena macet dan irit biaya bensin, lalu kerjaannya sebagai kurir pasti akan cepat selesai. Semua berkat Kutang Antakusuma. Seandainya itu Kutang Antakusuma, semua pasti lain ceritanya, lamunnya sambil sekilas melirik kutang hitam istrinya yang dijemur di beranda dapur.

"Mas, minggu depan Jun ikut kegiatan outbound yang diadakan di sekolahnya," ujar istrinya yang tahu-tahu menyembul di depannya.

Widarto hanya mendengus dengan nafas berat, kembang kempis rasanya.

"Biayanya 400 ribu," tambahnya.

"Besok tak coba cari pinjaman dek, mudah-mudahan dapat."

"Mas tinggal nambahain 200 ribu saja, ini kebetulan aku masih ada simpanan 200 ribu," kata perempuan gemuk itu yang nampak tahu kesulitan suaminya.

Widarto hanya diam, tak tahu harus menjawab apa, namun ia merasa bersyukur, meski cerewet istrinya cukup baik dan tak mau menyusahkan suaminya.

"Kalau 200 ribu minggu depan aku ada, tapi. . ."

"Tapi apa, potong uang belanja kan?"

"Iya tapi tak banyak kok. Sudah dek ya aku mau ke warkop depan dulu, ada janji main catur sama teman," tandasnya sambil beranjak dari duduknya. Namun sesaat sebelum sampai di depan pintu terdengar suara melengking di belakangnya.

"Pulangnya jangan malam-malam!"

Sesampai di warung kopi langganannya, di sana sudah ada Prapto dan Teguh yang sudah bersantai sambil asyik bercengkrama, sementara aroma kopi hitam tersuguh panas di depannya.

Keduanya adalah teman sekerjanya yang kebetulan mempunyai ketertarikan yang sama perihal wayang, jadi merasa nyambung akhirnya menjadi akrab. Di zaman sekarang sudah tidak banyak lagi orang yang menyukai wayang, tidak seperti zaman dahulu, di mana kesenian wayang adalah sesuatu yang sangat ditunggu banyak orang, baik anak muda maupun orang tua, semua menyukainya.

Sayangnya semenjak teknologi semakin canggih dengan bermunculannya beraneka gadget, kesenian tradisional pun semakin menurun penikmatnya. Untungnya Widarto tidak demikan, meski mengaku sebagai penikmat teknologi namun untuk urusan kesenian tradisional, ia tak mau ketinggalan.

Awalnya Widarto tidak begitu menyukai wayang. Semenjak ia kerap menonton youtube almarhum Ki Seno Nugroho dan gaya mendalangnya yang menghibur, jiwanya pun sedikit-sedikit mulai tergelitik dan cintanya terhadap wayang pun mulai tumbuh dengan sendirinya. Baginya wayang adalah kesenian tradisional yang patut dilestarikan. Jadi sebagai generasi sekarang, ia ingin melestarikannya sebatas yang ia mampu. Dengan ikut menonton dan menceritakan sedikit kisah wayang kepada istri dan anak-anaknya saja, itu juga merupakan sebuah bentuk pelestarian.

Mengenai narasi pewayangan dan segala pernik para tokoh di dalamnya, ada satu tokoh yang menjadi kebanggaannya, yaitu Gatotkaca si putra Bima. Baginya Gatotkaca adalah tokoh pewayangan istimewa, meski di akhir kisah, ia harus mati muda di tangan Basukarna setelah tubuhnya tertembus oleh panah Kunta, sebuah senjata maha ampuh pemberian Batara Indra.

Ketika panah Kunta telah bersarang di pusarnya dan kematiannya semakin dekat, nyatanya Gatotkaca masih sempat memercikkan sisi kedramatisannya. Sesaat sebelum tubuhnya jatuh dari mego malang (awan berarak), ia sempatkan membesarkan tubuhnya sebesar gunung dan jatuh menimpa ribuan pasuka Kurawa dan menewaskannya dalam perang Bharatayudha yang sedang berkecamuk. Itulah hal yang membuat lelaki bertubuh ceking merasa takjub dengan akhir kisah jagoannya.

Acara minum kopi di warung beserta obrolannya saat ini semakin mengukuhkan kecintaannya terhadap wayang―yang dengan sendirinya melahirkan keinginannya untuk memiliki wayang kulit sungguhan. Sebagai penggemar wayang kok rasanya kurang pas jika tak memiliki wayang kulit sendiri. Paling tidak wajib punyalah meski hanya selembar. Dan untuk kebanggaan harusnya memiliki yang dari bahan kulit asli, bukan dari kardus atau imitasi.

"Wingasun, seorang cengkau di dekat perempatan jalan dekat alon-alon, sanggup mencarikan barang apapun dengan harga agak miring. Coba besok kamu ke sana. Sebentar aku kasih alamatnya," kata Teguh sambil menulis di kertas.

Widarto menerima alamat itu dan mengantonginya, dengan membulatkan tekadnya buat besok akan menuju ke tempat alamat tersebut.

Esoknya sepulang kerja, Widarto langsung melesat menuju alamat yang diberikan Teguh semalam. Bagi kota kecil tak susah mencari alamat tersebut, tak sampai 15 menit ia sudah sampai di depan tempat yang ia maksud.

Seorang lelaki bertubuh pendek dan berbadan tambun segera menyambutnya tepat di atas plakat besar bertuliskan “Wingasun jual-beli barang bekas berkualitas”. Lalu tanpa basa-basi Widarto langsung mengemukakan maksudnya.

"Sudah cukup lama sekali aku tidak dapat orderan wayang, tapi tunggu sebentar ya, aku coba telfon kolegaku dulu," ujarnya sembari mengeluarkan smartphone-nya yang lebar dari balik rompinya.

Sembari duduk menunggu, lelaki berperawakan ceking itu sibuk memperhatikan sekelilingnya yang penuh beraneka abrak-abrak, mulai dari gerabah, barang elektronik sampai bunga bonsai dan lain-lain, semua ada memenuhi sudut beranda.

Wingasun segera menemui Widarto setelah menyelesaikan telfonnya "Ini ada wayang Gatotkaca dengan kondisi masih bagus. Tapi untuk harga agak mahal, karena terbuat dari kulit kerbau asli. Harganya 350 ribu. Ini fotonya," ujarnya sembari memperlihatkan gambar dari layar tabletnya.

Widarto mengamati gambar wayang kulit itu dengan sedikit terkesima akan kegagahan sosok Gatotkaca dengan corak hitam serta ukiran menawan. Kondisi wayang terlihat masih cukup bagus, bekas kepunyaan Dalang kota Solo katanya. Tapi mendengar harga yang ditawarkan itu, ia hanya menelan ludah.

"Semua bisa diangsur kok," sembur cengkau itu, seolah tahu benar yang ada di pikiran tamunya.

Widarto senang mendengarnya, sayangnya ada syarat tertentu bahwa barang belum bisa diambil jika cicilan belum lunas, kecuali sanggup memberikan jaminan seharga barang tersebut. Begitulah sistem pengangsuran di tempat ini.

"Saya hanya ada 50 ribu. Ini sebagai angsuran pertama, nanti setiap akhir pekan saya akan kemari memberikan angsuran berikutnya."

Cengkau itu menerimanya dan segera membuatkan nota sebagai bukti pembayaran pertama.

Widarto mengantongi nota tersebut dan berjanji akan kembali minggu depan.

**

Ini adalah minggu keenamnya dalam sesi pengangsuran wayangnya. Maka sepulang kerja Widarto menyempatkan mampir ke tempatnya Wingasun guna memberikan angsuran kesekiannya.

"Oh Wit, mau mengambil pesanan kamu ya? Sebentar ya?" selesai berkata begitu lelaki berbadan tambun itu masuk ke dalam rumahnya, tak berapa lama sudah kembali sambil menenteng selembar wayang kulit pesanannya

Meki itu bukan wayang baru, namun masih terlihat cukup bagus dan terawat baik.

"Ini milik kamu sekarang," ujarnya sambil menyerahkan wayang kulit pada lelaki ceking di depannya.

Widarto menerima dengan perasaan sedikit bingung. Padahal dia sangat paham, selama uang cicilan belum lunas, ia tak bisa membawa pulang barang pesenannya.

"Ndak apa-apa ini Wing?"

"Iya ndak apa-apa, itu sudah lunas kok, kekurangannya sudah dibayar istrimu tempo hari."

Tentu saja Widarto kaget bukan kepalang, bahkan sampai terbelalak.

"Dibayar istriku?" Lelaki itu terpekik, antara kaget dan tak percaya.

"Iya, kemarin istrimu kemari sambil menanyakan kekurangan uang cicilannya. Setelah aku sebutkan kekurangannya, istrimu langsung melunasinya sambil berpesan biar wayangnya diambil suami saya sebagai hadiah ulang tahun perkawinan." Wingasun nampak senyum-senyum.

Segera Widarto menepuk jidatnya, ia sama sekali lupa kalau hari ini adalah ulang tahun perkawinannya.

Mengenai bagaimana istrinya bisa tahu mengenai angsuran wayang, pasti istrinya menemukan nota yang ia simpan di saku jaketnya. Sebab dalam nota juga tertera alamat si broker.

Widarto masih berdiri mematung di depan rumah cengkau itu, meski tuan rumahnya sudah menyelonong masuk. Sesaat ini pikirannya berkecamuk, antara bahagia dan haru meluruh merasakan sisi keromantisannya istrinya yang tak terduga.

Dengan berlahan ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan uang yang seharusnya dipakai untuk membayar angsuran keenam wayangnya. Tiba-tiba ia ingin mengajak istrinya makan malam romantis di cafe dekat pasar, seperti masa pacarannya dulu. Yah, jika istrinya mampu memberinya kejutan atas ulang tahun perkawinan, ia seharusnya juga bisa, batinnya sembari mengapit wayang Gatotkaca di dada dengan erat. Sementara itu lindap bunga asmara terdahulunya, beriring merekah sepanjang perjalanannya menuju rumah.

Dwi Lanang, lahir di Bojonegoro, sebuah kota kecil di Jawa timur. Saat ini bekerja sebagai Koki masakan Jawa di restoran kecil di Surabaya. Selain itu masih aktif menulis beberapa karya, berupa artikel, cerpen dan puisi yang dimuat di beberapa surat kabar dan media online.

  Editor : M. Yusuf Purwanto
#cerpen #gatotkaca #wayang #kurawa #mahabarata